Berutang Artinya Bersalah - Opini - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Opini 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Berutang Artinya Bersalah

Utang kepada negara dibayar aset yang asalnya dari utang juga. Baru sepertiganya, sudah dianggap lunas. Perlu audit ulang semua pemberian surat lunas itu.

i

Sikap apa yang harus diambil, kalau utang triliunan rupiah harus dianggap lunas dengan hanya dibayar sepertiganya? Uangnya milik negara, pengutangnya adalah konglomerat kelas berat. Surat keterangan lunas (SKL) untuk kewajiban Rp 5,341 triliun diberikan kepada Bob Hasan, setelah BPPN menerima pengembalian senilai 27 persen saja dari jumlah tersebut. Utang-piutang dianggap selesai, perkara pun ditutup.

Memang serba salah kalau kita harus menilai cara penyelesaian utang seperti ini. Kalau membenarkan, berarti kita merelakan triliunan rupiah uang negara lenyap, sambil membebaskan pengusaha kaya dari tanggung jawabnya yang penuh. Jika tidak menerima, entah kapan dan bagaimana uang akan bisa kembali, sementara kas negara semakin kering untuk membayar obligasi yang dikeluarkan untuk mengatasi krisis moneter yang lalu.

Bagaimanapun, kita tidak bisa dipaksa ikhlas kehilangan uang sedemikian banyak dengan cara sedemikian mudahnya. Untuk lebih bisa membayangkan besarnya kerugian dan kesempatan yang hilang, bandingkan saja dengan program kredit mikro dan usaha kecil yang sedang diusahakan pemerintah untuk membangkitkan kembali perekonomian riil sekarang. Untuk keperluan fasilitas dana jutaan pelaku sektor informal di seluruh Indonesia, dibutuhkan Rp 3,1 triliun yang bersumber dari keuangan negara, jumlah yang lebih kecil dari bagian kewajiban Bob Hasan yang tidak dilunasi?sekitar Rp 3,7 triliun?tapi sudah diampuni itu. Ini baru mengenai satu saja dari belasan pengutang kakap yang menikmati surat lunas yang diterbitkan BPPN.


Belum pernah terlintas dalam angan kebanyakan orang betapa besar kerugian akibat utang yang sudah dinyatakan lunas sebelum seluruh kewajiban ditunaikan. Yang terang, ada persepsi yang bertentangan dalam memandang cara penyelesaian dengan menerbitkan surat lunas bagi tingkat pengembalian?recovery rate?sebesar kurang dari 30 persen itu. BPPN melihatnya sebagai keberhasilan menuntaskan masalah utang, dengan memperoleh kembali uang negara secara maksimal. Sebaliknya, banyak yang menerimanya sebagai musibah kerugian akibat perampokan harta negara.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTM6MDQ6MjEiXQ

Kalau ada kerugian, ada korban, tentu ada kesalahan. Pasti pula ada yang melakukan kesalahan, dan ada juga yang ikut bersalah. Tidak percuma bila dalam bahasa Belanda?yang masih mempengaruhi bahasa hukum kita?baik untuk "utang" maupun "kesalahan" dipakai satu perkataan yang sama: schuld. Kita tidak mengharapkan agar utang yang tak terbayar akan berbunga dendam. Namun kita tetap ingin agar semua keputusan yang mengakibatkan timbulnya kesalahan itu diperiksa kembali dengan audit yang teliti. Paling sedikit, kita tak mau kesalahan itu berulang. Bila tanggung jawab tidak bisa lagi dituntut, bila kerugian tidak mungkin lagi ditutup, kita harus bisa menyimpan dalam ingatan kolektif kita, kesalahan apa yang sebetulnya telah terjadi, dan siapa saja sebetulnya yang telah berbuat salah itu.

Musibah nasional utang tak dibayar ini harus dicatat dalam sejarah bukan untuk dihafalkan sejak jadi murid sekolah dasar, atau dijadikan bait doa anak sebelum tidur: memohon agar para pengutang yang telah menyengsarakan hidup bangsa?sambil menyebut berurutan nama-nama yang terlibat?dan para pejabat yang teledor dan bersekongkol dengan para jahanam itu terkutuk selalu dan mendapat azab neraka sampai turunan yang ketujuh. Bukan, bukan itu. Tapi sekadar agar bangsa ini tak jadi sebebal keledai, terjerembap di lubang yang sama berkali-kali.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 13:04:23


Opini 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB