Akhirnya, Pengakuan itu... - Luar Negeri - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Luar Negeri 3/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Akhirnya, Pengakuan itu...

Dinas Rahasia Amerika mengaku bersalah atas apa yang terjadi sebelum 11 September 2001: menyepelekan Al-Qaidah dan tak bisa melindungi Amerika.

i

Kami bersalah!" Kalimat itu meluncur dari bibir Direktur Agen Rahasia Amerika (CIA) George Tenet. Ucapan itu dia sampaikan di tengah kesaksian terbuka di depan Komisi Federal yang menyelidiki serangan teroris 11 September 2001. "Kami tahu Bin Ladin akan menyerang," ujarnya, "tapi (kami) tak bisa melindungi Amerika." Badan Intelijen Amerika dituduh telah menyepelekan kekuatan Al-Qaidah dan mengabaikan rencana serangan teroris di Amerika.

Pekan lalu, Komisi Federal melanjutkan pekerjaan mereka setelah berpekan-pekan memanggil sejumlah tokoh untuk memberikan keterangan mengenai apa yang sesungguhnya terjadi sebelum 11 September 2001. Yang jadi tamu Komisi kali ini adalah George Tenet. Menurut anggota Komisi, CIA sudah mengantongi laporan berjudul Ekstremis Islam Belajar Menerbangkan Pesawat pada akhir Agustus 2001. Tapi mereka tak mengambil tindakan apa pun. Sebelumnya, pada 1997, masuk laporan yang membeberkan operasi pengintaian Al-Qaidah terhadap beberapa gedung di Amerika yang akan menjadi target terorisme. Waktu itu pun Tenet mengabaikannya.

Pemerintah Jerman memberikan informasi kepada CIA pada 1999, isinya sebuah nama: Marwan, berikut nomor teleponnya di Amerika. Belakangan diketahui ia adalah Marwan Al-Shehi, si pembajak pesawat United Airlines Flight 175 yang menabrak gedung World Trade Center, New York. Walaupun ia tidak pernah mengubah nomor teleponnya, CIA tak pernah mengeceknya. Anggota Komisi berang dengan kelalaian itu dan terus mengejar Tenet. Timothy J. Roemer (R) adalah anggota Komisi yang paling sengit mencecarnya.


R: Apakah Anda mempunyai informasi tentang Zacarias Moussaoui sebelum serangan itu?

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTE6NDY6MDYiXQ

Tenet (T): Ya. Saya mendapat briefing sekitar tanggal 23, 24 Agustus (2001—Red.).

Dalam briefing itu disebutkan bahwa Moussaoui ditangkap di Minnesota seminggu sebelumnya, ketika ia sedang belajar mengemudikan pesawat jet. Ia dituduh sebagai anggota jihad. Belakangan diketahui, Moussaoui salah satu otak serangan 11 September.

R: Anda membagikan informasi itu ke FBI dan Kontra Terorisme CIA?

T: Saya yakin (dibagikan). Itu kan datang dari agen kami di dalam negeri yang diminta membantu untuk kepentingan Undang-Undang Pengawasan Intelijen Asing.

Tenet mengaku mulai menaruh perhatian terhadap Moussaoui ketika FBI mencari data intelijen apa saja mengenai orang itu untuk meminta surat perintah pembongkaran isi komputernya dari pengadilan.

R: Lalu kenapa Anda tidak membagikan informasi itu dalam pertemuan kabinet pada 4 September?

T: Kami punya agenda terpisah. Hari itu ada pembicaraan tentang Predator (mesin perang tanpa awak terbaru milik Amerika).

R: Tetapi itu pertemuan pertama yang membahas terorisme setelah tujuh bulan. Kenapa Anda merasa informasi itu tidak penting untuk didiskusikan?

T: Diskusinya telanjur mengenai Predator.

R: Tapi diskusi hari itu juga membahas kebijakan mengenai Al-Qaidah dan bagaimana kita akan memeranginya. Bukankah Presiden juga mengambil keputusan tentang Al-Qaidah?

T: Saya cuma bisa mengatakan pertemuan hari itu bukan tempat yang pas (untuk mendiskusikannya—Red.). Tak bisa lebih dari itu.

Presiden AS George W. Bush memang menyetujui tindakan lebih tegas terhadap terorisme, tapi Tenet tak mengajukan usul apa pun dalam pertemuan seminggu sebelum serangan itu. Direktur CIA ini tidak meneruskan informasi kepada Presiden, FBI, dan anggota kabinet mengenai penangkapan Moussaoui. Juga informasi kemungkinan serangan memakai pesawat terbang.

R: Anda bertemu dengan Presiden pada saat briefing pada 6 Agustus (2001)?

T: Saya tak bertemu dengan Presiden dan tidak ikut dalam briefing tersebut. Dia (Presiden Bush—Red.) sedang berlibur. Dia ada di Texas, dan saya entah ada di sini atau di tempat lain. Saya kurang ingat.

R: Jadi Anda tidak bertemu Presiden pada 6 Agustus sampai 10 September 2001?

T: Tidak.

Bersamaan dengan Tenet, Divisi Terorisme Internasional Biro Investigasi Federal (FBI) sudah pula mendapatkan informasi lengkap tentang orang-orang Arab yang belajar menjadi pilot di beberapa sekolah penerbangan Amerika. Agen FBI bahkan meminta penyelidikan nasional terhadap para calon pilot Arab itu, tetapi tak digubris. Menurut Thomas J. Pickard, pejabat sementara Direktur FBI, ia tak mengetahui laporan itu, "Hingga tanggal 11 September sore." Maka cecaran ke arah Tenet pun terus dilancarkan dengan sengit oleh para anggota Komisi.

R: Dan Anda tidak pernah berusaha menghubungi Presiden, menelepon atau bertemu langsung?

T: Saya ingin.

R: Tapi tidak Anda lakukan.

T: Ya. Saya tidak melakukannya.

R: Apakah Presiden bilang kepada Condoleezza Rice (Penasihat Dewan Keamanan AS—Red.) atau yang lain kalau-kalau ia ingin bertemu dan menelepon Anda?

T: Tidak pernah. Tidak ada dalam catatan panggilan kepada saya.

Usai pengakuan Tenet, Komisi mengatakan kepada wartawan bahwa CIA tidak memiliki operasi intelijen guna mencegah pemakaian pesawat terbang oleh para teroris. Padahal, rencana itu sudah muncul dalam laporan sejak tahun 1990-an. Dalam laporan terpisah, Komisi juga mengkritik cara kerja FBI dan reformasi yang berlangsung lambat di dalam tubuh agen federal itu.

Pekan lalu Presiden George Bush melontarkan ide pendirian badan intelijen baru kontraterorisme. Tapi Direktur FBI Robert Mueller meradang dan meminta ide itu dilupakan saja. "Ibarat bekerja dengan tangan terbelenggu ke belakang," katanya. Komisi belum menanggapi Mueller, namun rekomendasi mereka akan menentukan nasib kedua badan intelijen itu. Juga menentukan nasib Bush dan para penasihatnya.

I G.G. Maha Adi (AP, Washington Post)


Karena Memandang Sebelah Mata

Sebelum teroris beraksi di New York dan Washington pada 11 September 2001, sejumlah informasi penting menyangkut "kehadiran dan ancaman Al-Qaidah" sebetulnya sudah masuk ke lembaga-lembaga intelijen Amerika. Namun Badan Penyelidik Federal AS (FBI) dan Dinas Intelijen AS (CIA) tidak meneruskan pelacakannya. Aneka info itu seakan cuma dipandang dengan sebelah mata.

Berikut kronologi pra-11 September yang dilaporkan oleh USA Today:

7 Agustus 1998:
Bom mobil meledak di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kenya dan Tanzania. Intelijen menyebut Usamah bin Ladin merencanakan penyerangan tempat umum di New York dan Washington.

Januari 2000-2001:
Muncul nama Khalid Al-Midhar dan Nawaf Alhazmi, tapi tak dilacak oleh FBI.

2000:
Al-Midhar menghadiri konferensi Al-Qaidah di Kuala Lumpur dan masuk ke AS pada 15 Januari. Keduanya bertemu Tawfiq Attash Khallad, yang belakangan mengebom kapal perang Amerika USS Cole.

2000, 12 Oktober:
Serangan terhadap USS Cole menewaskan 17 pelaut.

2001, Juni:
Pertemuan Al-Qaidah dibahas CIA dan FBI, tapi foto Khallad tidak diperlihatkan. Akibatnya, rantai pengeboman USS Cole putus. Al-Midhar melamar visa dari Arab Saudi untuk masuk lagi ke Amerika. Intelijen menyebut adanya rencana serangan Al-Qaidah terhadap Amerika.

Juli:
Al-Midhar tiba di New York dengan paspor Arab Saudi. Agen FBI di Phoenix menyebut anggota teroris Al-Qaidah sedang belajar menerbangkan pesawat. Kantor pusat FBI mengabaikannya.

6 Agustus:
Presiden AS George W. Bush menghadiri briefing harian membahas "pola gerakan yang mencurigakan yang terkait dengan rencana pembajakan pesawat atau serangan lainnya". Al-Midhar dan Alhazmi masuk daftar cegah tapi hanya dikirim ke New York dan Los Angeles.

4 September:
Anggota kabinet menyetujui tindakan lebih agresif terhadap Al-Qaidah.

5 September:
Al-Midhar membeli tiket pesawat American Flight nomor penerbangan 77 yang menghantam Pentagon.

10 September:
Badan Keamanan Nasional mendapat informasi para teroris sedang merencanakan sesuatu pada 11 September, tetapi tak bisa menemukan kapan, di mana, dan dengan cara apa.

11 September:
Petugas keamanan bandara memeriksa sembilan penumpang, lalu melepasnya karena tak membawa bahan peledak. Belakangan mereka adalah bagian dari 19 orang pembajak.

11 September, pukul 08.45:
Serangan teroris melanda New York dan Washington.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 11:46:06


Luar Negeri 3/5

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB