Mengebor, Mengebor, dan Mengebor - Selingan - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Selingan 1/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mengebor, Mengebor, dan Mengebor

i

Sampai awal tahun 1960-an, Museum Pusat dan Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional punya seorang tamu tetap. Namanya Dullah, rumahnya di daerah sekitar Buni, Bekasi. Tiap kali datang, ia membawa buntalan sarung yang digendong di punggungnya. Isinya beberapa buah kapak batu, pecahan gerabah, kadang-kadang juga keramik utuh. Semua benda itu ditemukannya tiap kali ia menjelajah sawah, ladang, dan lahan yang masih terbengkalai di daerah Buni itu.

Benda bersejarah yang ditemukan di Buni cukup banyak dan beragam; umumnya berasal dari masa nirleka, kurun ketika manusia belum mengenal aksara. Temuan itu terdapat di suatu bentangan wilayah cukup luas: daerah sepanjang pesisir utara itu, dari Jakarta sampai Karawang, mengandung temuan yang sama. Karena pertama kali ditemukan di Buni dan amat mengesankan, dunia widyapurba ”arkeologi” kemudian mengenal suatu ”wilayah kebudayaan Buni”.

Walaupun tidak terjadwal, para ”widyapurbaman” tak pernah melupakan Buni. Pada waktu tertentu, ada saja widyapurbaman meneliti di daerah itu. Mereka berasal dari Pusat Arkeologi, Dinas Museum dan Sejarah DKI (ketika masih menyandang nama itu), Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala (DP3SP), dan Universitas Indonesia.


Kehadiran mereka tentunya dengan motif dan keperluan yang berbeda. Mulai dari pengumpulan data agar wilayahnya ”bermakna” (DKI), perlindungan dan penyelamatan (DP3SP), penambahan data dan pengembangan ilmu (Pusat Arkeologi), sampai keperluan pendidikan dan penelitian (UI). Salah satu teknik yang mereka gunakan adalah ”boring” atau pengeboran. Dengan teknik itu, dapat diketahui apa yang terkandung dalam tanah, terutama sampai lapisan yang biasanya dianggap sebagai virgin soil atau tanah yang belum terganggu oleh ulah dan tindakan manusia. Sungguh sensasional.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTI6MzI6MjMiXQ

Akhir-akhir ini perusahaan minyak dengan bangga menyatakan bahwa mereka telah menemukan kandungan minyak terbesar di Indonesia. Letaknya di daerah Buni, Bekasi. Mereka menemukannya antara lain dengan teknik ”boring” juga. Bedanya, sementara pengeboran para widyapurbaman terbatas sampai lapisan ”tanah perawan” pada kedalaman 1-3 meter, pengeboran dalam upaya mencari minyak justru entah berapa ribu meter ke dalam tanah. Sungguh temuan yang sensasional!

Dengan temuan kandungan minyak terbesar itu, amat masuk akal jika kalangan perminyakan segera merencanakan pengeboran dan penambangan secara besar-besaran. Amat masuk akal jika mereka lalu menghitung-hitung keuntungan yang akan diperoleh dengan memanfaatkan kandungan minyak di situ. Mereka pun menghitung-hitung, berapa lama minyak itu akan habis ”dikuras”.

Namun, pernahkah mereka menghitung kerugian yang bakal diderita negara dan bangsa karena penambangan minyak itu? Terutama kerugian berupa warisan dan nilai budaya yang bakal musnah dan punah bersamaan dengan mulainya penambangan itu. Entah hanya dalam berapa tahun, wilayah kebudayaan Buni, yang sampai sekarang menjadi kebanggaan, akan tinggal dongeng yang juga pada waktunya akan dilupakan orang.

Hal itu pasti terjadi karena, dari pernyataan dan berita yang muncul di berbagai sarana talimarga ”komunikasi”, tergambar bahwa mereka hanya mengetahui dan mengenal dunia mereka. Dapat dipastikan bahwa mereka bekerja sendiri, dalam artian tak pernah bertanya kepada pihak lain adanya kemungkinan kerugian jika penambangan itu dilaksanakan. Jika pun kerja sama itu ada, tampaknya terbatas dilakukan dengan berbagai pihak yang akan memperlancar pengerjaan: pemerintah (baik pusat maupun daerah), kepolisian, dan pihak lain yang mungkin akan diajak patungan. Bukan dengan kalangan di luar itu, apalagi de-ngan pihak yang berkepentingan di bidang kebudayaan umumnya, dan kepurbakalaan khususnya.

Jika hal itu ditanyakan kepada mereka, tentulah jawaban yang dikemukakan: tidak tahu bahwa wilayah itu amat penting untuk kebudayaan. Tidak ada yang memberi tahu mereka, termasuk dari kalangan kebudayaan yang amat berkepentingan, bahwa wilayah itu merupakan wilayah kebudayaan.

Kesalahan tak sepenuhnya berada di pihak perusahaan minyak, yang sesuai dengan ”kodratnya” tidak memperhatikan kebudayaan. Kesalahan itu juga berada di pihak kebudayaan yang tak pernah memasyarakatkan dunianya. Apakah Sejarah Nasional Indonesia (6 jilid) sama sekali tak dibaca orang? Padahal uraian panjang-lebar mengenai wilayah kebudayaan Buni tercantum dalam jilid 1.

Itu yang sudah terjadi. Namun, rasanya belum terlambat untuk menjalin kerja sama, karena penambangan belum dilaksanakan. Alangkah baiknya jika petrologi bekerja sama dengan arkeologi. Dengan kerja sama itu, keuntungan dari penambangan tidak akan hilang. Sebaliknya, warisan dan nilai budaya yang terkandung di daerah itu pun terselamatkan. Kedua pihak dapat mulai menjalin talimarga dan saling tukar embaran ”informasi” demi keuntungan pihaknya masing-masing dan tak merugikan pihak lain.

Hal itu dapat dilaksanakan berdasarkan niat untuk menyelamatkan warisan budaya dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Apakah prakarsanya harus dari atas, antara Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang membawahkan arkeologi, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang membawahkan petrologi? Atau cukup oleh para operatornya, para pelaksana di lapangan?

Catatan tambahan: teknik mengebor kedua pihak itu tampaknya masih kalah sensasional dibandingkan dengan teknik yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh … Inul Daratista!

Ayatrohaédi
Arkeolog Universitas Indonesia dan pengamat kebudayaan, tinggal di Depok.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 12:32:23


Selingan 1/6

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB