Olahraga 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Impian Sederhana Seorang Juara

Berkali-kali Sutrisno memecahkan rekor dunia angkat berat. Masih ada harapan yang belum terpenuhi.

i

Puluhan lelaki berotot memenuhi ruang seluas 6 x 6 meter persegi yang berada di satu rumah di kawasan Pringsewu, Tanggamus, Lampung, Selasa pekan lalu. Masing-masing asyik mengangkat barbel. Suara debum dan dencing keras berkali-kali terdengar.

Di satu sudut, seorang lelaki juga melakukan kegiatan yang sama. Tangannya menegang dan memperlihatkan tonjolan otot-otot yang keras. Entah sudah berapa kali dia mengangkat barbel seberat 60 kilogram. Berhenti sebentar, kemudian dia mengulangi lagi mengangkat barbel yang sama. Begitu berulang-ulang.

Dialah Sutrisno bin Darimin, atlet angkat berat asal Lampung. Dia baru saja menorehkan prestasi gemilang dalam Kejuaraan Dunia Angkat Berat di Miami, Florida, Amerika Serikat, dua pekan lalu. Turun di kelas 60 kilogram, Sutrisno meraih medali emas setelah juara dalam semua jenis angkatan.


Lelaki 30 tahun itu mendapat nilai tertinggi dalam squat (besi ditaruh di punggung dalam posisi berdiri, jongkok, dan berdiri kembali). Dia pun menjadi yang terbaik dalam deadlift (mengangkat beban dari bawah sampai ke bawah pusar), dan benchpress (posisi tiduran, besi diletakkan di dada lalu diangkat dan diturunkan kembali). Total angkatan mencapai 742,5 kilogram.

161830848027

Tak hanya menggondol emas, Sutrisno juga memecahkan rekor dunia atas nama Ayrat Zakiev dari Rusia dengan total angkatan 740 kg. Zakiev sendiri hanya menjadi runner-up di Florida.

Predikat juara tidak lantas membuat ayah tiga anak ini berleha-leha. Beberapa hari setelah tiba di kampung halaman, Sutrisno kembali menekuni kegiatan rutinnya: berlatih di Padepokan Satria Gajah Lampung. ”Berlatih sudah menjadi pekerjaan saya. Jadi, harus saya jalani dengan benar-benar,” kata pria kelahiran 20 Maret 1975 itu.

Sutrisno lahir di Natar, Lampung Selatan, dari pasangan Darimin dan Jamisih. Kedua orang tuanya hidup bertani. Tujuh saudaranya mengikuti jejak orang tua mereka mengelola sawah. Hanya Sutrisno yang memiliki jalan berbeda, jadi atlet profesional.

Sejak kecil dia menyukai olahraga. Sutrisno pernah menekuni sepak bola, bulu tangkis, dan atletik, khususnya maraton. Untuk cabang yang terakhir, dia sempat kepincut cukup lama. Tiga tahun dia menggeluti cabang ini untuk nomor lari 10 kilometer. ”Sifatnya cuma perorangan, bukan anggota klub,” kata dia.

Perkenalannya dengan cabang angkat berat dimulai pada 1992. Ketika itu dia masih menggeluti atletik dan sering berlatih di Stadion Pahoman, Bandarlampung. Kebetulan di sana ada sasana angkat besi/berat Pringsewu yang sekarang telah dijadikan lapangan anggar. Seusai berlatih, Sutrisno kerap mampir ke sasana itu sekadar untuk menonton atlet berlatih.

Di situlah Sutrisno berkenalan dengan atlet angkat berat Hazairin dan Hadiri. Atas saran mereka, dia kemudian bergabung dengan sasana itu. Sutrisno pun dipertemukan dengan pelatih sekaligus pemilik sasana, Imron Rosadi, orang penting di balik kesuksesannya kini.

Bakatnya cepat sekali terasah. Sutrisno pun sangat serius menekuni profesinya. Bagi dia, sasana adalah sawah, dan pelatihan diibaratkannya menggarap sawah. ”Kalau mau dapat panen yang bagus, ya menggarapnya harus rajin,” kata dia.

Delapan bulan ”menggarap sawah”, suami dari Nurmawati ini mulai memetik hasilnya. Dia meraih medali perak di kejuaraan wilayah angkat berat di Padang, Sumatera Barat. Sebagai pemula, prestasi ini sangat berarti. Dia terpacu untuk lebih giat menempa diri untuk memperbaiki prestasinya.

Bintangnya mulai kinclong setelah mengikuti kejuaraan dunia tingkat junior di Bali pada 1994. Dia merebut tiga emas dan satu perak. Dia pun menjadi lifter terbaik setelah memecahkan rekor dunia untuk junior kelas 60 kg dari angkatan squat 260 kg menjadi 265 kg.

Sejak itulah pria tamatan SMP itu semakin sering mendulang emas. Dia pun berkalikali memecahkan rekor dunia dalam berbagai kejuaraan angkat berat, di antaranya kejuaraan angkat berat di India, Filipina, Austria, Finlandia, dan yang terakhir dua pekan lalu di Miami, Florida.

Pulang dari Florida, dia kembali mendengar bentakan-bentakan Imron Rosadi, sang pelatih. ”Ayo angkat besinya. Jangan malas. Malas cuma kerjaan orang sakit,” kata Imron dengan suara nyaring.

Bagi yang tidak biasa, suara Imron yang kini berusia 63 tahun itu terasa menyakitkan telinga. Sedangkan di telinga Sutrisnow, suara nyaring sang pelatih justru menjadi energi tambahan. Sang juara terlihat lebih bersemangat untuk menuntaskan porsi latihan. Setiap arahan Imron diikuti dengan sungguh-sungguh. Kesungguhan inilah yang menurut Imron menjadi kunci kesuksesan anak didiknya itu.

”Dia tak pernah puas menimba ilmu. Kalau saya tegur, dia tidak pernah marah, malah sebaliknya berusaha memperbaiki diri,” kata Imron. Karena itu Imron tidak terkejut dengan kemenangan Sutrisno di Miami. ”Kegigihannya berlatih membuat kemenangannya tidak lagi mengherankan,” kata pria yang pernah menyandang nama Liu Nyuk Siong ini.

Sutrisno tidak pernah absen dari jadwal latihan. Pagi, dia sudah bergelut dengan besi sejak pukul 07.30 hingga pukul 11.00. Dan petang kembali ke sasana dari pukul 15.30 hingga 18.00. Bahkan pada saat libur latihan, Kamis dan Minggu, dia sering terlihat berlatih sendiri. Kegigihan inilah yang tidak dimiliki semua atlet di padepokan itu.

Menurut Nurmawati, suaminya memang lebih banyak menghabiskan waktu di tempat latihan. Kebetulan rumah mereka hanya berjarak sekitar 50 meter dari padepokan. ”Dia pulang siang untuk makan dan istirahat. Sorenya sudah kembali ke tempat latihan,” kata sang istri.

Di mata Nurmawati, Sutrisno adalah lelaki yang penuh perhatian kepada keluarga. Meskipun waktunya tersita untuk latihan, sejak menikah pada 1994, belum pernah sekalipun suaminya mengabaikan kebutuhan keluarga. Rumah yang mereka tempati sekarang pun dibangun dengan jerih payah suaminya.

Sebagai atlet, Sutrisno mendapat tunjangan Rp 1,5 juta rupiah dari Komite Nasional Indonesia (KONI) Lampung setiap bulan. Penghasilan tambahan berupa bonus baru diperoleh kalau dia berhasil meraih medali emas dalam setiap kejuaraan. Nilai bonus yang diterima tidak sama untuk setiap kejuaraan. Namun, untuk kejuaraan dunia biasanya dia mendapat Rp 50 juta yang berasal dari KONI Pusat dan KONI Lampung.

Penghasilannya baru meningkat setelah dia diangkat sebagai tenaga honorer di Dinas Perhubungan setempat sejak Januari lalu. Dari pekerjaan itu, ayah dari Gunawan Saputra, Dian Safitri, dan Firhan Juliansyah ini mendapat imbalan Rp 405 ribu per bulan.

Untuk menutupi kebutuhan yang kian membengkak, Sutrisno mencoba memelihara ikan air tawar. Usaha ini dia tekuni sejak tujuh bulan lalu. ”Lumayan, sudah tiga kali panen,” kata Nurmawati.

Sutrisno sendiri tidak pernah mengeluh dengan penghasilannya saat ini, meski kebutuhan keluarganya makin meningkat. ”Namanya juga manusia, sebesar apa pun penghasilannya selalu merasa kurang,” ujarnya.

Atlet yang mengidolakan lifter asal Eropa Timur, Copon Alexi, ini bertekad akan terus mempertahankan prestasi sampai batas kemampuannya. ”Saya belum berpikir berhenti menjadi atlet. Sudah telanjur cinta,” katanya. Namun, dia juga sadar tidak selamanya bisa menyandarkan hidup pada profesi itu.

Ada satu cita-cita yang masih membayangi Sutrisno. ”Saya ingin memiliki lahan pertanian yang luas sebagai tumpuan masa depan. Lahan itu saya akan olah sendiri,” kata dia. Dia berharap suatu saat mimpi itu jadi kenyataan.

Suseno, Fadilasari (Lampung)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830848027



Olahraga 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.