Nasional 1/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Agar Bangau Betah di Dangau

Modal pengusaha Cina keturunan kabarnya mulai mengalir kembali ke Indonesia. Apa jaminan agar mereka tidak akan kabur ke luar negeri lagi?

i
SETINGGI-tingginya bangau terbang, akhirnya kembali ke dangau juga. Begitu agaknya ungkapan yang pas untuk menggambarkan arus mudik para pengusaha keturunan Cina ke Indonesia akhir-akhir ini. Gelombang pulang kampung ini setidaknya, menurut pengusaha Edward S. Soeryadjaya, tampak dari munculnya keluhan beberapa pengusaha di Singapura yang kesulitan memperoleh tiket pesawat ke Jakarta. "Padahal, awal tahun lalu, kalau mau pulang, kita melenggang saja ke bandara dan mendapat kursi, tapi sekarang susah," ujar putra taipan William Soeryadjaya tersebut. Gambaran Edward ini agaknya paralel dengan sambutan positif para pelaku bisnis di Singapura terhadap dunia usaha di Indonesia. Setidaknya itu yang terekam dalam dialog Presiden Abdurrahman Wahid dengan sekitar 650 undangan yang rela berebut tiket seharga 5.000 dolar Singapura di negara kota tersebut pekan silam. "Pertemuan itu mencerminkan harapan yang sangat besar dari para investor yang menunggu masuk kembali ke Indonesia," ujar bos Jaya Group, Ciputra. Jika harapan Ciputra ini terbukti benar, pemerintah bisa tersenyum lebar. Maklum, akibat kekacauan politik di dalam negeri sepanjang 1997 hingga 1999, Bank Indonesia mencatat pelarian modal sebesar US$ 35 miliar ke luar negeri. Artinya, jika sebesar itu pula jumlah yang mengalir dari kocek para pengusaha di negeri jiran ke dalam negeri, roda pemulihan perekonomian nasional niscaya berjalan lebih kencang. Kemampuan pengusaha keturunan Cina untuk memutar roda ekonomi Indonesia ini memang tak diragukan lagi. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer, dalam bukunya Hoakiau, melukiskan pentingnya peranan mereka dalam pembangunan di Indonesia. Richard Robison, pengamat ekonomi politik dari Australia, dan S. Gordon Redding, penulis The Spirit of Chinese Capitalism, juga mengakui besarnya sumbangan para pelaku bisnis ini dalam menggerakkan perekonomian nasional Indonesia. Gus Dur tampaknya jeli membaca potensi ini. Buktinya, Kepala Negara meminta kesediaan mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew untuk menjadi penasihat ekonominya. Gus Dur berharap politisi senior yang sukses dalam mengemban tugas serupa sebelumnya dari pemerintah Cina itu dapat meyakinkan pengusaha keturunan yang tersebar di mancanegara untuk menanamkan modalnya kembali ke Indonesia. Harapan Gus Dur ini bukan tanpa alasan. Harry Tjan Silalahi dan Jusuf Wanandi mengibaratkan para pengusaha keturunan Cina itu sebagai umpan untuk menarik investor asing yang lebih besar. Dengan kata lain, kepercayaan pelaku bisnis internasional bakal pulih jika para pengusaha keturunan ini kembali berbisnis di Indonesia. Ekonom Faisal Basri memperkirakan potensi dana yang bisa masuk kembali mencapai US$ 15 miliar pada tahun depan. Sementara itu, Direktur Bank Indonesia, Miranda Goeltom, memperkirakan sebagian dana mereka telah masuk dalam bentuk pembelian saham di lantai Bursa Efek Jakarta. Untuk menjaring dana yang lebih besar, pemerintah mesti bertindak proaktif, terutama dalam soal penegakan hukum, jaminan keamanan, dan transparansi kebijakan di dunia usaha, misalnya dalam penyelesaian kasus Bank Bali. Tindakan pemerintah ini perlu karena, menurut staf pengajar National University of Singapore, Liu Hong, sebagian besar warga keturunan Cina di negeri jiran masih dalam proses menghilangkan trauma dari kerusuhan yang membakar Indonesia dan kecurigaan terhadap adanya upaya penguasa untuk membagi-bagikan aset mereka kepada kalangan pribumi. Untuk menghilangkan trauma dan kecurigaan itu, pemerintah diharapkan dapat menumbuhkan semangat nondiskriminasi dalam birokrasi. Dengan demikian, para pengusaha keturunan Cina akan merasa memperoleh perlakuan yang sama. Bekas Direktur Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI), Christianto Wibisono, yang kini tinggal di Amerika Serikat, mengingatkan agar semangat nondiskriminasi ini tidak cuma menjadi retorika politik pemerintah belaka, tapi memang diterapkan hingga di tingkat bawah. Jika hal-hal ini tak kunjung terealisasi, masih kata Christianto Wibisono, tidak usah terkejut jika bangau-bangau yang baru pulang ini segera mengepakkan sayapnya dan terbang bersama gepokan uangnya untuk mencari dangau lain di negeri jiran. Widjajanto, Bambang Harymurti, Iwan, Hani, Leanika, dan Ndari (Jakarta)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836400262



Nasional 1/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.