Kesehatan 1/3

Sebelumnya Selanjutnya
text
i

Jeruk Melawan Kolesterol

Minum tiga gelas jus jeruk sehari ternyata dapat meningkatkan kadar kolesterol ''baik" dalam darah. Selain itu, jus jeruk juga dapat merendahkan rasio antara HDL dan kolesterol ''jahat" LDL. Hal itu diungkapkan dalam suatu pertemuan perkumpulan jantung Amerika belum lama ini.

Kesimpulan itu dihasilkan tim peneliti University of Western Ontario, Kanada. Mereka meminta 16 pria dan 9 wanita yang memiliki kadar kolesterol darah tinggi (213-325 mg/dL) untuk minum segelas jus jeruk setiap hari selama empat minggu. Kemudian responden diminta minum dua gelas jus jeruk selama empat minggu, dan selama empat minggu selanjutnya minum tiga gelas jus jeruk per hari. Setelah itu, para responden diminta tidak minum cairan itu selama lima minggu.

Dr. Elzbieta M. Kurowska kepada Reuters Health mengatakan, ketika responden setiap hari minum tiga gelas jus jeruk, kadar HDL dalam darah mereka meningkat 21 persen dan rasio LDL/HDL merosot 16 persen. Jus jeruk ternyata juga meningkatkan kadar folat, komponen yang menyebabkan penurunan kadar homosistein—salah satu faktor risiko penyakit jantung.

Penelitian itu juga menemukan bahwa meskipun selama lima pekan responden tak mengonsumsi jeruk, perbaikan kadar kolesterol tetap terus berlangsung. Diduga, efek itu disebabkan oleh flavonoid hesperidin yang terdapat dalam jeruk.


Stroke Gara-Gara Telepon

Jangan berlama-lama menggunakan telepon. Bukan hanya kantong Anda bisa jebol untuk membayar rekening telepon. Terlalu lama menelepon dengan sikap yang salah bisa mengundang serangan seperti stroke. Hal itu dialami seorang psikiater Prancis yang menderita ''stroke ringan" setelah bertelepon selama satu jam dengan cara menjepit telepon di antara bahu dan kepalanya—agar kedua tangannya bebas mengerjakan pekerjaan lain.

Begitu usai bertelepon, pria 43 tahun itu mengalami serangan mirip stroke: mata kiri tiba-tiba tak bisa melihat, telinga kiri berdenging, dan sulit berbicara. Dr. Mathies Zuber, ahli saraf di Rumah Sakit Sainte-Anne, Paris, yang kemudian menangani psikiater itu, menunjuk tekanan yang terlalu lama pada samping telinga sebagai penyebab munculnya gejala stroke itu. Penekanan telinga dengan tulang bahu yang menonjol dan tajam rupanya menekan pembuluh arteri dan menyebabkan aliran darah ke bagian kepala terganggu.

''Kasus itu memperlihatkan kepada kita bahwa aktivitas sehari-hari yang menyebabkan distorsi berkepanjangan terhadap leher, pada beberapa orang, dapat menimbulkan konsekuensi yang tak terduga," kata Zuber, seperti dilaporkan Reuters Health. Kasus ini dipublikasikan Zuber dan para koleganya di jurnal Neurology edisi November 1999.

Dalam jurnal itu dilaporkan hasil pemindaian CT (computed tomography) yang memperlihatkan kerusakan pada lapisan dalam pembuluh arteri karotid sebelah kiri—pembuluh utama yang memasok darah ke otak. Kerusakan inilah yang mungkin menyebabkan serangan sementara mirip stroke itu. Gejala itu baru hilang dalam beberapa jam. Meski begitu, selama tiga bulan pasien harus mendapatkan obat untuk terapi darah.

Menurut Zuber, suatu kelainan struktur tulang di belakang telinga, ditambah dengan ketegangan yang terlalu lama pada leher, dapat menyebabkan kerusakan pembuluh arteri. Kerusakan sementara pada pembuluh arteri itu terjadi pada 20 persen kasus stroke yang menyerang orang muda usia. Karena itu, bagi mereka yang punya struktur tulang tertentu, sebaiknya jangan menelepon berlama-lama dengan cara menjepit dengan bahu.

161836314250


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836314250



Kesehatan 1/3

Sebelumnya Selanjutnya