Opini 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Menyiasati Rugi Besar PLN

PLN masih terus disibukkan oleh Paiton Energy dan urusan listrik swasta lainnya. Kini diperlukan siasat cemerlang agar PLN bisa muncul sebagai primadona di pasar energi.

i
APA yang sekarang sangat diperlukan PLN? Jawabnya: suntikan dana. Sial bagi PLN, pemerintah kini tak lagi mampu berperan sebagai Sinterklas. Untuk membiayai mesin pemerintahan saja, anggaran yang terhimpun belum tentu cukup. PLN, yang mengantongi hak monopoli sebagai penyuplai listrik di seluruh Indonesia—sejak 1994 resmi berstatus sebagai BUMN pesero—semestinya dapat mengarahkan usahanya kepada upaya mencari untung. Peluang ini dicoba, misalnya dengan rencana menaikkan tarif. Rencana itu jelas tidak mengena, apalagi sudah terungkap bahwa kerugian PLN terutama disebabkan oleh kontrak kerja sama—yang pekat diwarnai KKN—dengan 26 perusahaan listrik swasta. Selain itu, ada niat PLN untuk masuk bursa—agar dapat menghimpun dana murah dari masyarakat—pada medio 1998 melalui PT Pembangkitan Tenaga Listrik Java Bali I dan II. Lagi-lagi sial, rencana ini pun layu sebelum berkembang. PLN, yang diaudit Arthur Andersen, ditaksir menanggung rugi potensial Rp 200 triliun. Bandingkan dengan kebocoran Pertamina, yang diperkirakan Rp 43 triliun—belakangan susut menjadi Rp 33 triliun. Dengan kerugian tujuh kali lipat lebih besar dari kerugian Pertamina, sulit dipastikan berapa persen harapan hidup tersisa dalam tubuh PLN. Sempat beredar isu agar perusahaan itu dipailitkan saja karena di atas kertas memang sudah bangkrut. Terdesak ke arena pertarungan hidup mati seperti itu, kalau mau tetap eksis, PLN harus all-out, sekaligus harus ganti siasat. Ibarat makhluk yang terancam jiwanya, PLN mesti berjuang sehabis-habis daya agar bisa bertahan. Kontrak dengan 26 perusahaan listrik swasta perlu disiasati secara lebih jitu. Sejak Oktober lalu, PLN memasuki pertarungan ronde kesekian melawan PT Paiton Energy, perusahaan patungan milik Hashim Djojohadikusumo dan beberapa perusahaan asing. Belakangan, Hashim dan kawan-kawan menuntut PLN ke Commission on International Trade Law. Sanksinya, yang akan diputuskan 15 November ini, pasti sangat berat. PLN, sebaliknya, mengadukan Paiton Energy ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan gugatan agar kontraknya dengan perusahaan itu dinyatakan batal demi hukum. Sikap Paiton yang semula bersedia tapi kemudian menolak negosiasi ulang—seperti disetujui 13 perusahaan lainnya—agaknya mendorong PLN maju dengan gugatan pembatalan kontrak. Dalam bisnis, sebenarnya tak ada yang tidak bisa dirundingkan. Sejauh ini, PLN memang tetap menggunakan jurus perundingan. Hanya, Paiton Energy menolak. Akibatnya buntu, sementara Paiton terus menekan PLN, tanpa menghiraukan bahwa kontrak kerja sama yang dibuat jelas mengandung "racun" karena semua pos biayanya di-mark-up (bahkan sampai 100 persen). Juga tanpa mempertimbangkan bahwa iklim investasi di Indonesia sedang lesu berat, pasok listrik berlebih, sehingga membeli listrik Paiton dengan harga diskon pun tetap membuat PLN rugi. Paiton Energy pokoknya berlagak tidak tahu atau tidak mau tahu. Di pihak lain, PLN, yang terlalu sering mengajukan dalih usang (didikte penguasa), kini di bawah kepemimpinan demokratis Presiden Abdurrahman Wahid ditantang untuk mengembangkan gagasan cemerlang, meningkatkan efisiensi, dan mencari berbagai peluang agar listriknya bisa lebih banyak dijual. PLN, misalnya, dapat menyiasati para konsumen kakap agar membeli listrik lebih banyak. PLN bahkan sebaiknya memutar otak agar pasok listrik untuk semua konsumen kakap (industri) dipercayakan padanya. Singkat kata, PLN harus mampu memasarkan karena itulah satu-satunya jalan keluar. Kelak, bila PLN sudah sehat, jalan untuk masuk bursa terbuka lebar. Sukses PT Telkom, PT Tambang Timah, dan Bank BNI di pasar modal bukan tak bisa dicontoh. Sebab, bursa saham kita mudah-mudahan akan segera marak dan IHSG-nya bisa menembus 1.000 titik seperti yang diperkirakan para pengamat.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865670627



Opini 1/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.