Nasional 3/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bendera Putih dari Tanah Pelarian

KPK menolak permintaan istri Nazaruddin agar ditahan di rumah. Diduga sempat bepergian ke perbatasan Kuching.

i

MENGHILANG sejak setahun lalu, Neneng Sri Wahyuni tiba-tiba mengirim permintaan kepada pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi. Jumat dua pekan lalu, melalui pengacara suaminya, Muhammad Nazaruddin, tersangka perkara korupsi proyek pembangkit listrik tenaga surya di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi ini menyatakan bersedia memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Sang pengacara, Elza Syarief, meminta waktu bertemu dengan pemimpin komisi antikorupsi itu guna mengatur teknis penjemputan Neneng. Untuk pulang dari persembunyiannya, Neneng mengajukan syarat agar pemimpin Komisi memberi perlindungan hukum untuk dia dan ketiga anaknya. "Selain itu, agar dapat dilakukan penahanan kota atau rumah," tertulis dalam surat tertanggal 26 April 2012 tersebut.

Elza juga menulis, kliennya bersedia memberi jaminan pribadi dan uang. Ada pula uang yang besarnya sejumlah kerugian negara pada perkara korupsi yang menjerat istri mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu. Elza kemudian mengklaim Neneng sama sekali tidak terlibat dalam proyek pembangkit listrik tenaga surya. "Namanya tidak ada di akta perusahaan," katanya. "Neneng hanya ibu rumah tangga biasa."


Kepada Tempo, Rabu pekan lalu, Nazaruddin mengatakan istrinya akan segera pulang begitu permintaannya dipenuhi. Ia mengatakan anak-anaknya masih kecil, yang membutuhkan sang ibu. Sembari menjalani proses hukum, menurut terpidana perkara suap pembangunan Wisma Atlet Jakabaring, Palembang, ini, istrinya bisa berada di rumah. "Mereka tidak ada yang menemani. Ayah-ibu saya tidak ada lagi," ujarnya.

161835408563

Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Neneng sebagai tersangka pada Agustus tahun lalu. Ia dituduh ikut mengatur tender proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga surya di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi senilai Rp 8,9 miliar. Pada perkara ini, Kepala Sub-bagian Tata Usaha Direktorat Pengembangan Sarana dan Prasarana Kementerian Tenaga Kerja Timas Ginting telah divonis dua tahun penjara. Dalam persidangan Timas disebutkan, Neneng aktif membahas pengerjaan proyek yang diduga merugikan negara Rp 2,7 miliar ini.

Ketika ditetapkan menjadi tersangka, Neneng telah berada di luar negeri. Ia meninggalkan Tanah Air bersama suaminya pada 23 Mei, sehari sebelum Imigrasi mengeluarkan surat pencegahan Nazaruddin keluar dari Tanah Air. Mereka sebenarnya telah memesan tiket untuk esok harinya, tapi mempercepat keberangkatan begitu memperoleh "bocoran" soal status hukum mereka.

Pasangan ini terbang ke Singapura, menginap di Royal Plaza On Scotts Hotel, yang berada di kawasan ramai Orchard Road. Beberapa hari di sana, Neneng dan Nazaruddin pindah ke Marina Bay Hotel. Tak lama, mereka pindah ke apartemen dengan tiga kamar di Distrik Sin Ming Lane. Oktarina Furi, anggota staf Grup Permai, kelompok usaha milik Nazaruddin, lebih dulu tiba di apartemen ini.

Oktarina memperkirakan Nazaruddin dan Neneng hendak menetap lama di apartemen itu. Sebab, Nazaruddin menenteng tas besar. Padahal, sering bolak-balik kedua negara, sang bos biasanya hanya membawa tas kecil. Selain itu, Oktarina diajak Neneng berbelanja ke supermarket. Semua peralatan untuk keperluan apartemen diborong. "Belanjaannya sampai enam troli," ujarnya.

Tapi pasangan itu tak lama di apartemen. Penyebabnya, tim dari Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia dan KPK datang untuk menangkap mereka. Menyewa jet, pasangan ini menuju Vietnam. Mereka tinggal di negara itu selama beberapa hari. Terbang kembali menuju Dubai, Uni Emirat Arab, mereka singgah beberapa jam di Phnom Penh, Kamboja.

Dari Dubai, masih menggunakan jet sewaan, Nazaruddin dan istrinya terbang ke Republik Dominika. Di sana mereka tinggal di sebuah vila terbesar di pinggir pantai. Nazaruddin sempat melakukan wawancara melalui Skype dengan seorang aktivis di Jakarta, yang kemudian ditayangkan di satu stasiun televisi. Mereka lalu menuju Cartagena, daerah tujuan wisata di Kolombia. Polisi setempat menangkap Nazaruddin, yang terdaftar dalam buron Interpol, ketika jetnya hendak meninggalkan negara itu. "Saya sebenarnya mau balik ke Dubai," katanya kepada Tempo.

Ketika kemudian tim dari Komisi Pemberantasan Korupsi tiba di Bogota untuk menjemput Nazaruddin, Neneng telah pergi. Jejaknya tak terlacak. Seseorang yang mengikuti perkara ini menyebutkan keberadaan Neneng terlacak pada akhir 2011. Perempuan kelahiran Pekanbaru, 15 Februari 1982, ini berada di Malaysia. Ia hanya berpindah-pindah dari satu negara bagian ke negara bagian lain. "Dia bebas karena memiliki kartu permanent residence," katanya.

Tidak terlalu sulit mengantongi izin tinggal tetap itu. Aturan hukum Malaysia menyebutkan, seseorang bisa memperolehnya setelah membeli properti di atas 250 ribu ringgit atau Rp 750 juta. Dua pekan lalu, Neneng diduga berada di perbatasan Kuching, Negara Bagian Sarawak. "Dia masuk Kuching setelah berada di Johor Bahru," katanya.

Akhir April lalu, wartawan Tempo mencoba menelusuri jejak Neneng di negeri jiran. Pejabat senior di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, Amiruddin Panjaitan, memastikan Neneng masih berada Malaysia. Data imigrasi juga menyebutkan Neneng belum pernah sekali pun keluar meninggalkan negara itu.

Tempo juga mendatangi Fairview International School di kawasan Wangsa Maju, Kuala Lumpur, yang disebutkan merupakan tempat sekolah anak pertama Nazaruddin. Tapi pengurus sekolah menolak membuka identitas murid-murid mereka. Nazar hanya tersenyum-senyum ketika ditanyakan keberadaan istri dan anak-anaknya. "Pokoknya mereka baik-baik saja. Bisa di Malaysia, di Singapura, Brunei, atau mana saja," katanya.

Menurut Nazaruddin, istrinya tidak bersalah. Ia menyebutkan istrinya hanya sesekali datang ke kantor. Namanya juga tidak tercantum dalam daftar pengurus perusahaan. "Memang kalau ke kantor dia suka periksa-periksa pembukuan," ujarnya. "Lha wong dia istri saya."

Toh, menurut Yulianis, direktur keuangan perusahaan itu, Neneng mengontrol setiap pengeluaran. "Dalam jumlah berapa pun mesti ada paraf dia," katanya. Oktarina Furi, yang di perusahaan merupakan asisten pribadi Neneng, mengiyakan. Di perusahaan itu, anggota staf memberi kode-kode untuk bos perusahaan: "Babe" untuk Nazaruddin, "Ganjen" untuk Neneng, "Beruang" buat Muhammad Nasir, dan "Beruang Madu" untuk Muhammad Hashim. Dua nama terakhir adalah saudara Nazaruddin. Neneng dijuluki Ganjen karena kata inilah yang sering ia pakai untuk memberi nama berkas di komputer.

Kini Neneng ingin pulang. Tapi, sepekan setelah menerima surat permintaan dari pengacara, pemimpin KPK memutuskan menolaknya. Menurut Wakil Ketua KPK Bambang Widjajanto, permintaan itu tidak bisa dipenuhi karena berlawanan dengan kebijakan perlakuan terhadap tersangka korupsi. "Neneng semestinya datang saja memenuhi kewajiban," katanya.

Rufinus Hutauruk, anggota tim kuasa hukum Nazaruddin, mengatakan tidak mempersoalkan penolakan itu. Adapun Nazaruddin mengatakan, "Permintaan itu sebenarnya bukan untuk saya atau istri saya, tapi demi anak-anak."

Setri Yasra (Jakarta), Sukma N. Loppies (Kuala Lumpur)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835408563



Nasional 3/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.