Nasional 2/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Balada Wilhelmus di Negeri Walanda

Ratusan pekerja migran di Belanda telantar karena ditipu agen. Terancam menjadi kriminal.

i

DI balik pantalon dan kemeja biru donker, tubuh laki-laki itu kurus dan rapuh. Di usia 65 tahun, matanya tak lagi awas, tangannya bergetar ketika mengajak Tempo bersalaman di ambang pintu kantor Indonesian Migrant Workers Union di Rotterdam, Belanda. "Wilhelmus, panggil saja begitu," kata laki-laki asal Jawa Barat itu.

Dia menolak menyebut nama asli. Setelah duduk, laki-laki itu baru bercerita kenapa ia hidup di Belanda dalam samaran. Ia baru bersaksi untuk bekas majikannya yang sudah meninggal, orang Suriname pemilik pabrik makanan. Si majikan dituduh bersalah karena perusahaannya ilegal dan mempekerjakan imigran gelap.

Jaksa mengajukan Wilhelmus sebagai saksi memberatkan. Hidupnya kini terancam karena diburu sejumlah anak buah bekas majikannya. Ancaman juga datang dari pemerintah Belanda, yang bersiap menangkap para imigran gelap. Parlemen Negeri Kincir Angin yang kini dikuasai kelompok konservatif itu sedang merancang undang-undang tentang imigran gelap.


Sementara dulu para imigran ilegal yang tertangkap langsung dideportasi, jika rancangan itu disetujui, mereka akan disidangkan lebih dulu, didenda 3.800 euro atau dibui empat bulan. Vonis itu membuat para terdakwa akan menanggung catatan kriminal seumur hidup. Menteri Imi­grasi Belanda Gerd Leers sudah menandatangani kesepakatan dengan polisi akan memulangkan 4.800 pendatang gelap.

161835358620

Wilhelmus termasuk dalam kelompok ini. "Saya ditipu agen," katanya. Pada 2009, ia melamar bekerja ke Swedia melalui sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Bandung. Dengan membayar Rp 50 juta, sarjana muda itu dijanjikan bakal bekerja di pabrik roti atau sepatu dengan gaji 1.000 euro per bulan.

Dengan tiket Jakarta-Kopenhagen transit di Amsterdam, Wilhelmus berangkat dari Bandar Udara Soekarno-Hatta bersama agennya. Di bandara, ia diminta hanya membawa bekal satu koper. Rupanya, kata Wilhelmus, ini cara agen agar bisa lolos di Bandara Schiphol. Sebab, perjalanan berhenti di ibu kota Belanda itu. Bersama agennya, saat transit, Wilhelmus menyelusup ke luar Schiphol dan tak pernah kembali untuk melanjutkan perjalanan ke Kopenhagen.

Sejak itu, ia terlunta-lunta di Amsterdam. Setahun harus kucing-kucingan dengan polisi karena tidur di stasiun atau taman kota dan bekerja serabutan sebagai pembersih cerobong gereja, ia akhirnya bekerja di pabrik orang Suriname itu sebagai pengawas pabrik. Sampai kini, Wilhelmus tak berani pulang karena tak punya dokumen.

Menurut Slamet Heri Sutarjo, Ketua Indonesian Migrant Workers Union Belanda, orang Indonesia seperti Wilhelmus berjumlah ratusan di Belanda. Angkanya tak jelas karena tak terdaftar di Kedutaan Indonesia. Rata-rata mereka bekerja di sektor informal, seperti tukang kebun, pembersih rumah, atau buruh bangunan.

Slamet sendiri korban penipuan agen. Awalnya, ia dijanjikan bekerja di Barcelona, Spanyol. Karena bervisa Uni Eropa, ia dibawa agennya masuk Amsterdam dan ditinggalkan begitu saja. "Orang-orang seperti saya atau Wilhelmus akhirnya dimanfaatkan majikan seperti orang Suriname itu," kata Slamet.

Setelah berpindah-pindah ke beberapa kota kecil, Wilhelmus bertemu dengan majikan Suriname. Wilhelmus diajak tinggal di rumah tokonya di pinggiran Rotterdam asalkan membayar 125 euro per bulan. Uang bulanan itu dipotong dari gaji sebesar 20 euro per tiga hari jika bekerja di pabrik keripik miliknya itu.

Menurut Slamet Heri, orang seperti Wilhelmus, yang terpaksa menerima pekerjaan apa pun, memang diperlakukan tak manusiawi oleh para majikan. Gaji 20 euro adalah upah untuk 33 jam bekerja. Padahal upah minimum regional di Rotterdam 66,8 euro sehari.

Dua bulan setelah ia bekerja, polisi menggerebek pabriknya. Tiga belas orang ditangkap, termasuk si majikan, yang langsung ditahan dengan ancaman hukuman bui empat tahun. Wilhelmus melapor dan minta bantuan ke kantor Kedutaan Besar Indonesia di Belanda. "Tapi saya akan diserahkan ke polisi," katanya.

Tak mau berurusan dengan hukum, Wilhelmus kembali ke jalan sampai sebuah organisasi pekerja menemukannya dan mengusulkan kepada pengacara agar dia dijadikan saksi di sidang. Wilhelmus dinyatakan sebagai korban perdagangan manusia dan mendapat suaka dari pemerintah Belanda. Ia kini hidup dari tunjangan 600 euro. Tapi nasibnya tetap belum aman, terutama jika beleid imigran itu nanti diteken.

Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Retno L.P. Marsudi, memperkirakan orang Indonesia yang tak memiliki dokumen kerja itu sekitar 200 orang. Saat ini total orang Indonesia di Belanda 15.779 orang, dan 1.500 di antaranya pelajar. "Mereka bekerja sebagai perawat dan di perusahaan swasta," kata Retno.

Sejauh ini, Kedutaan belum menerima laporan ada pekerja tak berdokumen asal Indonesia mendapat perlakuan tak layak di tempat kerjanya. Beberapa organisasi masyarakat Indonesia juga tak melaporkan keganjilan itu. Padahal, kata Wilhelmus, mereka tak melapor karena takut diserahkan ke polisi lalu dideportasi.

Menurut Retno, para pekerja Indonesia yang tak memiliki dokumen itu memang korban penipuan agen penyalur tenaga kerja. "Solusinya, penyaluran pekerja mesti lebih ketat dari Indonesia," ujarnya. Saat kunjungan Komisi Luar Negeri ke Den Haag, dua pekan lalu, kata Retno, soal pekerja migran ini juga dibahas. "Pembahasan lebih detail pekan ini."

Di seluruh Eropa kini sedang terjadi pengetatan masuknya pekerja migran. Di Belanda kini ada aturan batas waktu mencari kerja, selama tiga bulan, selain kewajiban menjalani tes mahir berbahasa Belanda bagi yang mengajukan permohonan izin tinggal permanen.

Tenggat ini separuh dari tenggat aturan dari Komisi Uni Eropa, yang menetapkan enam bulan. Mulai tahun ini, jika ada orang asing tak punya pekerjaan selama tiga bulan atau lebih, ia akan dipulangkan ke negara asalnya. "Aturannya begitu, meski perlindungan terhadap setiap orang di Belanda relatif bagus," kata Retno.

Kartika Candra (Jakarta), Bunga Manggiasih (Rotterdam)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835358620



Nasional 2/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.