Ekonomi dan Bisnis 4/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Terbang Rendah ke Mampang

Chairul Tanjung membeli sisa saham publik Garuda. Cepat dan murah.

i

DURI dalam daging yang setahun terakhir bercokol di neraca PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas akhirnya tercabut juga. Jumat dua pekan lalu, PT Trans Airways membayar mereka sekitar Rp 1,44 triliun untuk 2,32 miliar lembar atau 10,3 persen saham PT Garuda Indonesia Tbk yang tak laku terjual dalam penawaran publik perdana (initial public offering/IPO), tahun lalu. "Kami menjual semuanya secara blocksale," kata Presiden Direktur Bahana Securities Eko Yuliantoro.

PT Trans Airways merupakan anak perusahaan CT Corpora Group—kelompok bisnis milik pengusaha dan Ketua Komite Ekonomi Nasional Chairul Tanjung. Dengan transaksi ini, CT Corp, yang dulu dikenal dengan Para Group, menguasai 10,9 persen atau 2,46 miliar saham GIAA, kode emiten Garuda. Sebanyak 0,6 persen saham dibeli dari BNI Securities, yang sempat menyerap saham Garuda pada saat IPO. Jika ditotal, dengan harga pembelian Rp 620 per lembar, CT—panggilan Chairul—menuangkan dana sedikitnya Rp 1,5 triliun.

Sejak menjadi penjamin emisi IPO Garuda, Bahana, Danareksa, dan Mandiri Sekuritas memang kelimpungan karena harus membeli 3,01 miliar saham yang tak laku terjual. Masing-masing harus merogoh kocek, meminta suntikan dana kepada induk perusahaan hingga meminjam duit perbankan sekitar Rp 750 miliar untuk membeli saham tadi pada harga pelepasan Rp 750 per lembar. Celakanya, kinerja saham GIAA di papan bursa langsung anjlok pada hari pertama perdagangan. Sepanjang tahun lalu harganya bahkan sempat berada di kisaran Rp 400-500 per lembar.


Walhasil, sejak Januari lalu, ketiganya menggagas penjualan saham secara bersama-sama agar memperoleh harga maksimal, paling tidak sama dengan saat mereka membeli. Sebelumnya, masing-masing mengelola portofolio saham Garuda tanpa koordinasi.

161862890066

Niat menjual menguat setelah hasil riset Citigroup Global Markets untuk kawasan Asia-Pasifik awal tahun ini menempatkan GIAA pada posisi strong buy alias disarankan untuk dibeli. Citi memproyeksikan harga saham Garuda akhir tahun ini bisa naik ke level 750 dari posisi 540 ketika itu. Bahkan, Maret lalu, Citi merevisi proyeksinya menjadi 780.

Sumber Tempo yang mengikuti proses penjualan saham Garuda menceritakan, Bahana, Danareksa, dan Mandiri Sekuritas semula sepakat menjual sisa saham Garuda secara strategic sale. Berbeda dengan blocksale yang menjual saham besar-besaran kepada satu investor, pada penjualan strategic, investor baru tak hanya membeli saham, tapi juga bersinergi dengan Garuda untuk mengembangkan bisnis penerbangan. "Banyak investor strategis yang sudah menyatakan minatnya," ujarnya.

Sejak akhir tahun lalu, perusahaan-perusahaan jasa keuangan mulai mendekati ketiga sekuritas pelat merah tersebut untuk menawarkan beberapa calon investor strategis. Morgan Stanley, misalnya, menyodorkan beberapa maskapai penerbangan asing yang berpotensi membeli saham sekaligus bekerja sama dengan Garuda.

Memilih maskapai asing paling memungkinkan bagi skema strategic sale. Sebab, Garuda belum tentu bersedia jika harus bekerja sama dengan pesaing di dalam negeri akibat penjualan sahamnya. Misalnya dengan Lion Air. Setelah disisir, sedikitnya ada empat calon investor strategis yang paling cocok, yakni Qantas Airways (Australia), Cathay Pacific (Hong Kong), serta Etihad Airways dan Emirates Airlines (Uni Emirat Arab). Ada juga beberapa maskapai Eropa dan Amerika, seperti Delta Air, tapi tak dianggap potensial karena industri penerbangan di kedua wilayah tersebut sedang lesu.

Setelah menyepakati strategic sale sebagai skema penjualan yang paling menguntungkan, Bahana, Danareksa, dan Mandiri Sekuritas mengundang 13 perusahaan sekuritas untuk mencari penasihat keuangan penjualan ini. Morgan Stanley menang setelah menyisihkan Citi Securities dan Credit Suisse Securities. Targetnya, penjualan kepada investor strategis terealisasi pada Juni mendatang.

Permasalahan muncul kemudian. Belum lagi Morgan Stanley bergerak, Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan, yang sejak menjabat gerah melihat kondisi di ketiga sekuritas tadi, ikut turun tangan. Pertengahan Maret lalu dia mengirim pesan pendek kepada lima pengusaha nasional, berisi tawaran saham Garuda. Selain ke Chairul, pesan yang sama dikirim ke Anthony Salim (Grup Salim), Nirwan Bakrie (Grup Bakrie), Rachmat Gobel (Panasonic Indonesia), dan Sandiaga S. Uno (Saratoga). "Tidak bisa menunggu lama lagi, karena ketiga sekuritas itu bisa kolaps," kata Dahlan.

Tawaran itu membuyarkan rencana penjualan strategis. Menteri Dahlan mengaku hanya membantu menawarkan. "Saya tidak ikut prosesnya. Itu terserah ketiga sekuritas pemilik saham," katanya. Namun, sumber tadi mengungkapkan, setelah Dahlan koar-koar di media mengenai penawaran kepada lima pengusaha tersebut, tim dari Bahana, Danareksa, dan Mandiri Sekuritas beberapa kali menggelar rapat di kantor Kementerian di Jalan Merdeka Selatan.

Awalnya, rapat yang dipimpin oleh Wakil Menteri BUMN Mahmudin Yasin dan Deputi Bidang Jasa Kementerian BUMN Parikesit Suprapto berlangsung kurang mulus. Pemilik saham mempersoalkan mengapa penawaran hanya untuk investor lokal. Kalaupun lokal, mengapa hanya lima, padahal banyak pengusaha lain yang bisa ikut diundang.

Permasalahan lainnya juga mengenai tak terbukanya penjualan ini terhadap investor asing. Padahal, jika memang ingin mengutamakan pemodal nasional, proses penjualan bisa saja memberikan pembobotan lebih dan hak menyamakan harga (rights to match) untuk investor lokal. Rapat tak berimbang. "Pemegang saham tidak dalam posisi bisa menolak," ujar sumber tadi. Sejak saat itu, Kementerian mendesak agar penjualan saham dilakukan segera.

Benar saja. Proses jual-beli berlangsung superkilat. Morgan Stanley mengirimkan surat penawaran kepada lima pengusaha tadi pada 4 April lalu. Hingga batas waktu sepekan kemudian, Salim dan Bakrie secara lisan menolak. Adapun Rachmat Gobel dan Sandiaga tak membalas sehingga dianggap tak tertarik. Satu-satunya tawaran yang masuk hanya dari Mampang, Jakarta Selatan—kantor CT Corpora Group—yang bersedia membeli pada harga Rp 620 per lembar saham. Dalam surat penawarannya, CT juga melampirkan surat dari Credit Suisse AG, yang mengkonfirmasi tersedianya pembiayaan US$ 180 juta. Tak perlu waktu lama, kesepakatan harga pun tercapai sehari kemudian.

Pengamat pasar modal Yanuar Rizky menilai transaksi ini bermasalah karena dilakukan terburu-buru dan hampir tanpa persaingan. Akibatnya, harga yang terbentuk juga tak maksimal, yakni 130 poin lebih rendah daripada pembelian Bahana, Danareksa, dan Mandiri Sekuritas setahun lalu. "Kerjanya jualan kok tak bisa jualan," katanya.

Bahana hakulyakin transaksi ini sesuai dengan ketentuan. Harganya juga rasional. Eko tak mau penjualan ini dipolitisasi. Yang terpenting, kata dia, "Ini saham kami. Jadi sebenarnya terserah kami juga ke mana akan dijual." Executive VP Corporate Communication Mandiri Sekuritas Febriati Nadira mengatakan perseroan telah bersepakat menjual saham bersama-sama. "Prosesnya sudah selesai."

CT Corp menolak berkomentar tentang pembelian saham ini. Lewat Kepala Departemen Humas Trans Corp, Hadiansyah Lubis, CT menilai urusan Garuda cukup diwakili pernyataan Menteri BUMN. Menurut Dahlan, selama ini beberapa investor asing memang berminat membeli saham Garuda. "Tapi mereka minta macam-macam," katanya. Soal terpilihnya CT itu, karena penawaran mereka dianggap yang terbaik. "Saya menganggap prosesnya sudah terbuka, tak ada persoalan. Silakan gugat, kalau memang ada," kata Dahlan.

Agoeng Wijaya


Pergerakan Saham Garuda Indonesia (GIAA)

  • Rp 750: 11 Februari 2011 Penutupan Rp 620
  • Rp 530: 31 Maret 2011
  • Rp 510: 29 Juli 2011
  • Rp 435: 30 September 2011
  • Rp 475: 30 Desember 2011
  • Rp 550: 31 Januari 2012
  • Rp 620: 30 Maret 2012
  • Rp 710: 27 April 2012
  • Rp 680: 4 Mei 2012

    Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161862890066



  • Ekonomi dan Bisnis 4/6

    Sebelumnya Selanjutnya

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.