Opini 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Narkoba di Kampung Ambon

MEMINJAM istilah Betawi, pasar narkoba di Kampung Ambon ibarat kagak ade matinye. Penduduk di Kompleks Permata, Cengkareng, Jakarta Barat, itu sepertinya bebas mengatur hidup mereka dengan hukum tersendiri. Aparat keamanan dan Badan Narkotika Nasional seakan-akan tak mampu menyentuh kampung yang dikenal sebagai surga transaksi narkoba yang, hebatnya, dibuka nonstop itu.

i

MEMINJAM istilah Betawi, pasar narkoba di Kampung Ambon ibarat kagak ade matinye. Penduduk di Kompleks Permata, Cengkareng, Jakarta Barat, itu sepertinya bebas mengatur hidup mereka dengan hukum tersendiri. Aparat keamanan dan Badan Narkotika Nasional seakan-akan tak mampu menyentuh kampung yang dikenal sebagai surga transaksi narkoba yang, hebatnya, dibuka nonstop itu.

Polisi bak macan ompong. Nyatanya, meski sudah berkali-kali polisi menggerebek, narkoba tetap saja marak di wilayah yang kebanyakan dihuni masyarakat asal Maluku itu. Dalam tiga tahun terakhir, enam kali kampung itu diserbu ratusan polisi. Tak tanggung-tanggung, pernah diterjunkan sekitar 600 personel gabungan dari Markas Besar Kepolisian RI dan Kepolisian Daerah Metro Jaya melalui Operasi Tumpas di sana, akhir Desember tahun lalu. Dua pekan lalu, 300 polisi kembali menggerebek, tapi sehari kemudian "hipermarket narkoba" ini kembali beroperasi.

Omzet penjualan narkoba di sana memang luar biasa. Dari penelusuran majalah ini, terdapat sedikitnya 30 bandar yang menjual berbagai jenis narkoba. Lapaknya dilengkapi kamar-kamar untuk mereka yang ingin "melayang" di tempat. Per hari, omzet bersih per lapak mencapai Rp 30 juta. Itu tentu saja belum termasuk lapak-lapak kecil atau pengedar yang "jemput bola" di jalan. Karena itu, ada yang memperkirakan omzet per hari di tempat ini mencapai miliaran rupiah.


Layaknya bisnis benda haram, kekerasan melekat kuat dengan dunia ini. Kasus penyerangan dan pengeroyokan terhadap sekelompok orang di Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, 23 Februari lalu, misalnya, dipicu soal jual-beli sabu di Kampung Ambon. Penyerangan yang dikoordinasi Irene Sophia Tupessy dan kakaknya, Edo Tupessy, tersebut menyebabkan dua orang yang tengah melayat tewas dan belasan luka-luka. Kill Bill Kampung Ambon, demikian media menju­luki ibu enam anak yang juga dikenal sebagai pemilik lapak narkoba bak mafioso itu. Untungnya, dalam waktu singkat, polisi bisa menangkap Irene dan Edo, yang sempat bersembunyi di rumah bekas tokoh preman Tanah Abang, Hercules, di Indramayu.

161835350320

Polisi harus bersungguh-sungguh mengungkap kasus pembunuhan itu sejelas-jelasnya. Penangkapan si Kill Bill dan Edo bahkan bisa digunakan polisi untuk mendapat segala informasi ihwal jaringan narkoba di Kampung Ambon. Siapa saja nama bandarnya di sana hingga daftar para pemasoknya harus ada di tangan aparat. Lebih dari itu, polisi seharusnya bisa mengorek siapa pula aparat yang melindungi atau berkolaborasi dengan para pemilik lapak di sana. Sebagai bandar dan orang yang tumbuh di Kampung Ambon, Irene dan Edo pasti mengetahui jaringan bisnis narkoba di sana.

Kecurigaan bahwa aparat keamanan ikut pula "bermain" di Kampung Ambon sangat masuk akal. Sebagai ladang penghasil uang, sangat mungkindan hal ini sudah menjadi "tradisi"para bandar menyetor duit ke sejumlah aparat, polisi sendiri ataupun TNI, dengan imbalan bisnis mereka tidak dibersihkan. Wajar jika ada yang sinis menyebutkan bahwa penggerebekan yang selama ini terjadi sebenarnya sia-sia. Sebelumnya, para bandar sudah mendapat informasi dari kaki tangan mereka di kepolisian.

Satu-satunya jalan yang dibutuhkan untuk menumpas habis narkoba di sana hanyalah komitmen dan keseriusan seluruh aparat keamanan, termasuk TNI. Kepolisian dan TNI mesti bertindak tegas: menangkap dan menghukum seberat-beratnya jika ada anggotanya yang terlibat bisnis ilegal itu. Bahkan, jika perlu, Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya dan petinggi TNI ikut terjun mengawasi operasi penggerebekan yang selama ini terkesan formalitas tersebut.

Mereka yang terbukti menjual narkoba memang mesti dihukum berat. Adapun pemakainya tak perlu dihukum. Mereka justru harus mendapat kesempatan disembuhkan melalui program rehabilitasi penderita narkoba sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Narkotika.

Jika jaminan ini diberikan, "pembersihan" di Kampung Ambon niscaya lebih mudah dilaksanakan. Sebab, warga setempat, terutama para pemakai yang selama ini reaktif terhadap penggerebekan karena khawatir ditangkap, bisa berbalik setuju jika kampung mereka dibebaskan dari narkoba. Bagaimanapun, mereka ini sebenarnya korban mafia narkoba.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835350320



Opini 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.