Film 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kekasih Hati yang Tak Berbudi

Diadaptasi dari novel Guy de Maupassant, film ini mencoba menyusuri kehidupan veteran tentara yang menjadi jurnalis gadungan dan playboy pujaan.

i

BEL AMI
Sutradara: Declan Donnellan dan Nick Ormerod
Skenario: Rachel Bennette Berdasarkan novel karya Guy de Maupassant berjudul Bel-Ami, The History of a Scoundrel
Pemain: Robert Pattinson, Christina Ricci

PADA pengujung abad ke-19, Paris adalah kota gemerlap, dekaden, dan bertingkah seenaknya. Politik, jurnalisme, tempat tidur, dan kekuasaan berbaur tanpa batas, tanpa batasan moral. Pada saat itulah Georges Duroy, seorang tentara Prancis yang baru saja bertempur di Afrika Utara, mendarat di Paris dalam keadaan miskin, kumel, lapar, dan melata. Tapi, bagaimanapun miskinnya, Duroy, seperti yang digambarkan novelis Guy de Maupassant, adalah lelaki tampan yang menjulang tinggi, berkulit terang, bermata biru, serta mempunyai rambut brunet yang membelai wajahnya dan sebaris kumis tipis melintang.

Duo sutradara Declan Donnellan dan Nick Ormerod lantas menerjemahkan sosok Duroy ke tubuh Robert Pattinson, aktor tampan yang sedang menjadi impian penonton remaja dan ibu-ibu sosialita. Tanpa kumis. Tanpa roh. Tanpa jiwa, apalagi kemampuan berekspresi, kecuali senyum yang sama dari awal sampai menit ke-103.

Bel-Ami berarti kekasih yang tampan. Ia sebuah sebutan bagi para pengagum Georges Duroy, yang datang tanpa uang dan tanpa darah bangsawan yang mengalir di dalam tubuhnya. Karena bertemu dengan Charles Forestier (Philip Glenister), yang bersama-sama bertempur di Aljazair dan kini sudah menduduki jabatan penting di harian terkemuka, La Vie Francaise, Duroy lantas segera diundang untuk berjumpa dengan istrinya, Madeleine Forestier (Uma Thurman), buat diperkenalkan kepada ”mereka yang berpengaruh di kalangan atas Paris”.


Dengan bekal jas dan celana baru, senyum penakluk, serta rasa percaya diri yang tinggi, Duroy tidak hanya berkawan dengan Madeleine, tapi juga menjadi ”murid” perempuan cerdas itu. Madeleine memperkenalkan Duroy dunia kata-kata, Duroy hanya bisa menuliskannya dengan patuh seperti kerbau dungu. Berkat peran Madeleine, Duroy segera diberi kepercayaan menulis kolom tetap yang mengisahkan catatan harian seorang tentara di medan perang. Pembaca Prancis melahapnya habis-habisan. Hidup Duroy secara finansial beres. Kehidupan di tempat tidur juga sukses. Para sosialita: Clotilde de Marelle (Christina Ricci) menyediakan seluruh tubuh, hati, dan sarang percintaan serta Virginie Walter (Kristin Scott Thomas), yang begitu lemah dan mudah diinjak, menyerahkan segala harga dirinya kepada lelaki itu. Kedua sosialita ini tentu saja sudah bersuami dan kaya raya. Seperti yang dinyatakan Madeleine, “Orang-orang yang berkuasa di kalangan ini adalah para istri. Karena itu, kau harus mampu menguasai mereka.”

161862237017

Duroy memanjat tangga sosial itu dengan cara memanjat tempat tidur para sosialita yang berpengaruh. Duroy tahu, dia sama sekali tak berbakat menulis dan bukan wartawan yang tangguh. Seluruh isi kantor La Vie juga mafhum: di balik karya Duroy, ada tangan dan bakat Madeleine. Tanpa Madeleine, Duroy hanya seorang lelaki tampan yang jago berenang di tempat tidur istri orang.

Novel Guy de Maupassant sebetulnya tak hanya berkisah tentang seorang Don Juan abad ke-19 dan petualangannya memuaskan para nyonya kaya. Ada juga soal kolonialisme Prancis yang di ambang menyerbu Maroko; ada soal peran media yang korup karena mementingkan uang dan kekuasaan; serta ada permainan politik antarpejabat pemerintah Prancis, pemilik media, dan kekuasaan para nyonya sosialita yang dijalin menjadi cerita khas abad ke-19 yang dramatis dan penuh kejutan pada setiap putaran bab novel.

Di tangan duo sutradara itu, dengan skenario yang banal, film ini menjadi opera sabun dengan kostum Halloween. Duroy, yang seharusnya menjadi nyawa penting film ini, hanya memiliki satu ekspresi: saya tampan, karena itu saya ada. Pose yang dipamerkan sepanjang film ini tak hanya melelahkan karena Duroy jadi tampak begitu dungu, tapi juga membuat kita bersimpati kepada para lawan main yang hebat, seperti Uma Thurman, Christina Ricci, dan Kristin Scott Thomas. Kita masih selalu berharap Robert Pattinson dan proyek Twilight adalah periode menggali emas saja, dan sudah waktunya dia membuktikan kepada dunia bahwa dia adalah seorang aktor. Dalam seri Twilight, Pattinson hanya butuh mengeluarkan dua macam ekspresi: murung dan jatuh cinta. Di dalam film ini, setiap kali dia bercinta, kita tak tahu apakah itu ekspresi kesakitan atau kegairahan. Dua-duanya sama-sama terlihat dungu.

Problem lain adalah penulis skenario Rachel Bennette memotong bagian sosial-politik novel ini habis-habisan hingga hanya menyisakan drama opera sabun Duroy, yang berpindah dari satu perempuan ke perempuan lain. Memang seharusnya seru; tapi nyatanya seluruh film tak kunjung menggerakkan apalagi menggetarkan hati.

Bagian yang paling menyegarkan hanya saat Uma Thurman dan Christina Ricci tampil di layar. Kedua aktris veteran ini seperti mencoba menggeliat dari segala nasib buruk skenario yang terkutuk. Selebihnya, Bel Ami seharusnya berganti judul menjadi Ami Laid.

Leila S. Chudori


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161862237017



Film 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.