Internasional 2/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Islam, Massoud Sadjareh:
Guantanamo Harus Ditutup

Raut wajah pria paruh baya berjenggot panjang itu tak tampak kelelahan. Padahal laki-laki 71 tahun itu selama dua hari maraton mengikuti diskusi dengan aktivis hak asasi manusia dari Amerika Serikat, Iran, Malaysia, dan aktivis Islam Indonesia di Bandung, Sabtu dua pekan lalu. Acara ini digelar Pusat Advokasi dan Hak Asasi Manusia Indonesia. Kunjungan ini adalah bagian dari tur kampanye untuk menghilangkan Islamofobia.

i

Raut wajah pria paruh baya berjenggot panjang itu tak tampak kelelahan. Padahal laki-laki 71 tahun itu selama dua hari maraton mengikuti diskusi dengan aktivis hak asasi manusia dari Amerika Serikat, Iran, Malaysia, dan aktivis Islam Indonesia di Bandung, Sabtu dua pekan lalu. Acara ini digelar Pusat Advokasi dan Hak Asasi Manusia Indonesia. Kunjungan ini adalah bagian dari tur kampanye untuk menghilangkan Islamofobia.

Pria itu Massoud Sadjareh, Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Islam (IHRC). Ia prihatin terhadap perpecahan di kalangan internal Islam. Sadjareh mengajak pemerintah Indonesia mengambil peran besar dalam kampanye ini. Senin siang pekan lalu, ia beranjak ke Malaysia untuk mengkampanyekan hal yang sama.

Pria kelahiran Teheran, Iran, ini pernah membebaskan sejumlah tahanan dari penjara Guantanamo. Salah satunya Abu Hamza, pelaku teror di London pada 2003. Penjara Guantanamo di Teluk Kuba itu digunakan untuk menahan tersangka pelaku teror sejak 11 Januari 2002. Sadjareh pernah mengunjungi Guantanamo bersama sejumlah aktivis hak asasi manusia pada 2002. Ia berharap penjara itu segera ditutup.


Eko Ari Wibowo dari Tempo mewawancarainya di kantor Kementerian Luar Negeri, Senin pekan lalu.

Bagaimana hasil protes IHRC atas keberadaan penjara Guantanamo?

Guantanamo itu sangat mengerikan. Masyarakat perlu tahu, sebagian besar penghuni di sana ditahan tanpa melalui proses pengadilan. Belum lama ini pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan aturan tidak boleh ada warga negara Amerika dijebloskan ke Guantanamo tanpa proses hukum. Seharusnya siapa pun harus dibuktikan bersalah dengan cara diadili sebelum dijebloskan ke penjara.
Kami sudah berkampanye menentang keberadaan penjara itu selama bertahun-tahun. Ada dampak positifnya, beberapa dari yang ditahan sudah dibebaskan atau dikembalikan ke negara asalnya. Namun masih ada ratusan tahanan di Guantanamo yang tidak jelas statusnya, siapa mereka, apa jenis kejahatannya. Menurut laporan pada Mei tahun lalu, 70 persen dari mereka yang mati di Guantanamo belum dinyatakan bersalah. Penyebab kematiannya juga mencurigakan, mungkin sengaja dibunuh.

IHRC telah membebaskan Abu Hamza, pelaku teror yang dijebloskan ke Guantanamo. Apakah agenda pembebasan tahanan masih dilakukan?

Kami ingin mereka semua dibebaskan. Penjara Guantanamo menahan orang tanpa pengadilan. Tahanan di sana mati tanpa diketahui nama depan dan nama belakangnya.
Presiden Amerika Serikat Barack Obama pernah menjanjikan penutupan Guantanamo, tapi sampai sekarang belum dilakukan. Ya, kami ingin Guantanamo segera ditutup. Kami akan terus menggalang dukungan.

Sejak tragedi 11 September, cap teroris melekat pada Islam. Apa pendapat Anda?

Kita tahu tidak semua muslim itu teroris. Tapi teroris itu sebagian besar muslim. Saya akan memberikan fakta dan data yang dikumpulkan IHRC, bahwa aksi terorisme di Amerika Serikat hanya 6 persen pelakunya beragama Islam, 7 persen Yahudi, dan sisanya orang kulit putih bukan Islam. Jadi tidak semua muslim. Di Eropa, hanya 10 persen muslim yang melakukan aksi teror, sisanya nonmuslim.

Bagaimana perspektif dunia Barat terhadap Islam?

Ada upaya untuk mengurangi dan membatasi gerakan Islam, terutama paham Islam yang dianggap sama dengan terorisme. Islam tidak membenarkan aksi teror. Pemerintah di negara Barat memiliki banyak kepentingan untuk menghancurkan konsep Islam dan meredenifisinya. Itu perlu kita tolak dan kita perangi. Kita harus menyampaikan bahwa Islam bukan masalah, tapi solusi.

Apa tantangan yang dihadapi Islam?

Tantangan terberat adalah pandangan Islamofobia dan perang terhadap teror. Masalah kekerasan pekerja migran juga tak boleh diabaikan. Indonesia memiliki pekerja migran cukup besar. Banyak yang disiksa di negara muslim. Masalah ini harus dibahas di level internasional, termasuk aturan hukumnya. Para majikan tidak boleh memperlakukan pekerja seperti budak. Dahulu, budak diperlakukan lebih baik. Penyiksaan tidak bisa diterima dalam perspektif Islam. Ini salah satu kampanye kami.
161863052587


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161863052587



Internasional 2/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.