Selingan 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Para Penjaga Hutan Kita

Mereka ada di hutan-hutan paling pelosok di negeri kita. Berayah pohon, beribu sungai, berbekal nyali dan akal panjang, mereka berupaya merawat hutan dengan segala daya. Mereka menahan laju pembalakan liar, menghalau para cukong kayu dan kebun sawit yang mencurangi isi hutan. Mereka mengusir investor perusak gunung marmer, serta mati-matian membentengi tambang emas dari penjarah liar. Ada yang menyebut mereka anak-anak hutan yang setia: suku Dayak Iban, di pedalaman Kapuas Hulu, Kalimantan Barat; warga Kasepuhan Cisitu, di kaki Gunung Halimun, Banten; suku Mollo, di dataran tinggi Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Hari Bumi, yang jatuh setiap 22 April, membawa ingatan kita pada mereka.

i

AIR Sungai Kapuas yang mengalir melewati Kampung Sungai Utik, sebuah dusun terpencil di pedalaman Kabupaten Kapuas Hulu, di sisi timur laut Provinsi Kalimantan Barat, mendadak keruh. Padahal aliran sungai itu biasanya sebening kristal. Sepekan lewat, keruhnya tak kunjung hilang.

"Kami bertanya-tanya, ada apa di hulu sungai," tutur Rengga, salah seorang pemuda Kampung Sungai Utik, saat ditemui di Tobelo, Halmahera Utara, dua pekan lalu. Rengga di sana untuk menghadiri Kongres Masyarakat Adat Nusantara.

Beberapa tetua adat memutuskan memeriksa kondisi rimba di hulu sungai. Bandi alias Apai Janggut, pemangku adat Dayak Iban di kampung itu, ditunjuk untuk memimpin belasan pria lain, pergi masuk hutan.


Butuh lebih dari dua hari untuk mencapai hulu Sungai Kapuas, mendekati wilayah Taman Nasional Betung Kerihun, satu dari dua taman nasional di Kalimantan Barat. Lokasinya tak jauh dari perbatasan dengan Malaysia.

161863013368

Di sana mereka menemukan pemandangan yang membikin miris. Kayu bertumbangan, gergaji mesin menderu-deru. Ada pembalakan besar-besaran di ujung hutan adat mereka.

Rengga sesekali memejamkan mata ketika menceritakan kembali peristiwa pada pertengahan 1984 itu. Kisah Apai Janggut mengusir gerombolan penebang hutan sudah berkali-kali dia dengar dari ayah dan kakeknya. Waktu itu, usianya masih belum akil balig.

"Tua-tua adat kami langsung mencari pimpinan penebang pohon itu dan menyampaikan satu pesan," kata Rengga. Begitu mendengar pesan Apai Janggut, tak sampai satu jam, kelompok pembalak liar itu mengemasi barang-barangnya dan pergi.

Apa pesannya? "Mau lari atau mati," kata Rengga. "Tanpa bentrok, tanpa kekerasan, mereka pergi," katanya lagi sambil tertawa keras. Di sebelahnya, Inam, anak kandung Apai Janggut, tersenyum lebar.

Wilayah adat suku Dayak Iban di Kampung Sungai Utik mencapai 9.000 hektare lebih. Hampir semuanya berupa rimba belantara. Secara administratif, dusun mereka masuk wilayah Desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kapuas Hulu, 12 jam perjalanan dari Pontianak.

Meski menguasai hutan ribuan hektare, total jumlah warga suku ini hanya 240 orang. Hampir semuanya tinggal di sebuah rumah panjang di Dusun Sungai Utik. Dalam bahasa lokal, rumah itu disebut rumah betang atau rumah panjai.

Tempo sempat tidur di rumah besar itu ketika berkunjung ke sana pekan lalu. Panjangnya 180 meter dan bertingkat tiga. Dibangun pada 1970, perlu waktu lima tahun lebih untuk menyelesaikan bangunan itu.

Dibuat sepenuhnya dari kayu, rumah itu ditunjang oleh tiang-tiang dari kayu ulin yang kukuh menjulang. Meski sudah berusia lebih dari 40 tahun, tak tampak tanda-tanda kerapuhan sama sekali.

Sayangnya, dusun itu sampai kini masih belum tersentuh listrik. Pemerintah hanya membangun gedung sekolah dasar dan puskesmas pembantu di sana.

Apai Janggut adalah "Tuai Rumah Panjai" atau Kepala Kampung Sungai Utik. Sebagai kepala kampung, dia berperan sebagai pemangku adat. Umurnya sudah 80 tahun lebih. Apai Janggut yang menentukan kapan warga mulai bercocok tanam, kapan sebaiknya masuk ke hutan, dan jadwal ritual adat lainnya. Apai adalah sebutan lokal untuk "Bapak".

Sayang, pekan lalu, ketika Tempo mampir di sana, Apai tidak ada di kampung. Sudah sepekan dia masuk hutan, menjelajahi setiap jengkal tanah yang dia cintai. Secara berkala, tetua suku Dayak Iban itu mengelilingi hutan; memeriksa pohon demi pohon; serta menjenguk beruang, harimau dahan, dan satwa lain yang hidup di sana.

"Sekarang sudah banyak orang utan, padahal dulu tidak ada," kata Rengga. Dia curiga kawanan orang utan di hutan lain terdesak ke Sungai Utik karena maraknya pembukaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan.

Untunglah, ada Apai Kudi. Dia juga salah satu tetua adat Sungai Utik. Perawakannya kecil dan ringkih, tapi sorot matanya tajam. Leher bagian depannya habis ditato dengan berbagai motif tradisional. Lengan dan kakinya—dari pangkal paha sampai betis—juga ditato. Umurnya 70 tahun lebih.

Apai Kudi menjelaskan filosofi hidup suku Dayak Iban. "Bagi kami, hutan adalah ibu," katanya. "Sedangkan sungai adalah susu." Karena itu, menurut Kudi, tanpa hutan, orang Dayak akan punah. Dia lalu menyitir satu pepatah lokal, "Hutan darah ngau seput kitae." Artinya kurang-lebih: hutan adalah darah dan napas warga Sungai Utik.

Hubungan orang Sungai Utik dengan alam juga sudah diatur secara turun-temurun. Satu contoh aturan sederhana yang berlaku: satu keluarga hanya boleh memanfaatkan 30 batang kayu dalam satu tahun. Jika lebih, hukum adat bicara. Bisa denda, bisa hukuman lain.

Apai Kudi lalu bercerita tentang aturan adat lain. Sepanjang yang dia ingat, hutan Sungai Utik sudah dibagi menjadi sejumlah zona dengan peruntukan berbeda-beda.

Wilayah hutan yang disebut kampong taroh adalah kawasan yang wajib dilindungi. Tidak boleh ada kegiatan berkebun dan berladang di sana, apalagi mengambil dan menebang kayu. Wilayah ini berfungsi melindungi mata air dan perkembangbiakan satwa. Karena itu, kampong taroh biasanya ada di hulu sungai.

Zona kedua disebut kampong galao. Wilayah ini adalah kawasan hutan cadangan. Di sini warga hanya boleh mengambil ta­naman obat dan kayu api. Hutan di kawasan ini mulai bisa dimanfaatkan, meski secara terbatas dengan pengawasan ketat.

Kampong endor kerja adalah kawasan hutan produksi. Di sini, warga bebas mengambil kayu selama diameter batangnya di atas 30 sentimeter. Pohon yang batangnya masih kecil tak boleh ditebang, karena biasanya dipakai sebagai bibit untuk ditanam di kawasan lain.

Untuk kebutuhan makan sehari-hari, warga menanam padi, buah, dan sayur-mayur di bagian hutan ini. "Ada juga yang tinggal petik dan tangkap, seperti daun pakis, sawi hutan, dan ikan," kata Kudi.

Untuk minyak goreng, mereka tak perlu kelapa sawit. Warga Sungai Utik memetik sendiri buah-buah tengkawang dari hutan. Buah itu diperam lalu dimasak dalam bambu. Minyak yang keluar dari bambu itu dipakai untuk menggoreng dan memasak aneka penganan. "Dicampur nasi juga enak," Rengga berseloroh.

Pendeknya, orang Sungai Utik benar-benar hidup dari apa yang disediakan alam untuk mereka. Bagaimana dengan garam, gula, dan kopi? "Kami punya karet di dalam hutan," kata Kudi.

Setiap hari, warga di sana menderas getah karet dari ribuan pohon di tengah rimba. Setelah sepekan, getah karet yang terkumpul disetorkan ke tengkulak untuk ditukar dengan barang kebutuhan sehari-hari. "Sekarang harganya Rp 11 ribu per kilogram," kata Rengga.

Bisa dibilang karet adalah hasil alam primadona warga Sungai Utik. Belasan anak muda dari kampung itu sudah jadi sarjana berkat panen karet. Dua orang bahkan sekarang tengah bersiap melanjutkan studi master ke kampus terkemuka di Pontianak.

Untuk berterima kasih kepada alam, orang Dayak Iban di Sungai Utik punya ritual menarik. Pada awal musim tanam, mereka akan mengadakan upacara mangol.

Di ladang yang belum ditanami, warga membuat boneka-boneka dari kayu, melambangkan roh leluhur dan penguasa hutan. Di hadapan simbol-simbol itu, seekor babi disembelih lalu diambil hatinya. "Jika hati babi itu bagus, artinya panen kami bakal berlimpah," kata Rengga.

1 1 1

ANCAMAN atas hutan adat Dayak Iban tak hanya terjadi sekali. Dua tahun setelah insiden di hulu Sungai Kapuas pada 1984, muncul lagi gangguan lain. Kali ini di hilir sungai.

"Ada perusahaan yang punya hak pengusahaan hutan dan memotong habis kayu di wilayah adat kami," ujar Rengga. Akibat aktivitas pembalakan, jalan satu-satunya yang menghubungkan Putussibau, ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu, dengan Dusun Sungai Utik rusak parah.

Kali ini pesan bernada ancaman tidak mempan untuk mengusir perusahaan itu. "Kami terpaksa tangkap anak buah mereka yang sedang bekerja, kami sandera," kata Rengga dengan nada datar.

Mendengar karyawannya ditahan warga setempat, manajer lapangan perusahaan kayu itu tergopoh-gopoh datang. "Kami ajak bicara baik-baik: kami jelaskan bahwa ini wilayah kami," kata Rengga tenang. "Tolong, jangan ganggu kami." Tak lama, perusahaan itu pergi.

Setelah dua insiden itu, hutan Sungai Utik relatif tak tercemar selama belasan tahun. Tak ada perusahaan sawit atau hutan tanaman industri yang berani mengutak-atik wilayah itu. Baru ketika gelombang pembalakan liar marak menimpa hutan-hutan di Kalimantan Barat pada 1999, ancaman kembali muncul.

Apeng, salah satu cukong kayu kakap, ketika itu secara terbuka menawarkan pembangunan fasilitas publik, seperti jalan raya, listrik, air bersih, dan pasar, kepada dusun-dusun warga Dayak. Syaratnya sederhana: operasi kilang penggergajian kayu ilegal miliknya tidak diganggu.

"Banyak warga di sini menyambut tawaran Apeng dan para pembalak liar lain dari Malaysia dengan tangan terbuka," kata Sunarji Aloy, Ketua Badan Pelaksana Harian Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Kapuas Hulu. "Hanya warga Sungai Utik yang menolak."

Rengga membenarkan cerita Aloy. "Kami diejek, disebut bodoh tidak mau terima duit," katanya pelan. Mereka menelan semua caci maki itu. "Tapi sekarang kami yang tertawa. Hutan di dusun-dusun tetangga kami sudah habis, uang mereka juga habis," katanya.

Sudah tak terhitung berapa kali pemerintah memberikan penghargaan pelestari alam kepada Apai Janggut dan warga Sungai Utik. Tahun lalu Kementerian Kehutanan memberikan bantuan ribuan bibit gaharu dan petai cina untuk ditanam di hutan.

Sayangnya, sampai sekarang belum ada pengakuan resmi atas wilayah adat warga Dayak Iban di sana. "Bupati Kapuas Hulu mengaku sedang mempelajari permintaan kami," kata Rengga. Entah sampai kapan.

Wahyu Dhyatmika (Tobelo), Aseanty Pahlevi (Kapuas Hulu)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161863013368



Selingan 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.