Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Irit dengan Teknologi Semar Buang Angin

Universitas Gadjah Mada membuat konverter yang memungkinkan mobil melaju dengan bahan bakar gas. Minimnya stasiun gas jadi kendala.

i

BILA Semar sudah membuang angin, tidak ada musuh yang sanggup tetap tegak. Kentut pemilik pertapaan Tumaritis itu dikisahkan sangat bertenaga: lebih kuat daripada angin puyuh, lebih beracun ketimbang gas mana pun.

Namun, karena ini cerita wayang, tidak ada keterangan tentang mekanisme yang berlangsung di perut Semar sehingga ia punya angin sakti. Dalang pun paling banter menyebut itu kentut dewa, karena Semar adalah dewa yang tengah menyamar. Toh, dari dewa atau bukan, mekanismenya tetap harus mengikuti hukum fisika: angin mengalir dari tempat bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah, jadi saat katup pengatur tekanan dibuka... duuut.

Dengan mesin yang memiliki mekanisme yang sama, dan nama yang sama, sebuah sedan hitam melesat meninggalkan Yogyakarta pada pertengahan bulan lalu. Di belakang kemudi ada Bastian Muhammad. Di sampingnya ada Muhammad Nurul Ahbab. Dua mahasiswa Teknik Mesin dan Industri Universitas Gadjah Mada ini membelah malam, mengarah ke barat, menuju Jakarta, untuk test drive sekaligus memamerkan sedannya kepada Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta.


Sekilas Suzuki Baleno pelat merah keluaran 1996 itu tak tampak istimewa. Harganya di pasar mobil bekas paling banter Rp 60 juta, tak mungkin lebih. Tapi jenguklah jeroannya.

161835342253

Di balik kap mesin, terselip converter kit yang membuat oto 1,15 ton ini melaju dengan bahan bakar gas. "Jadi lebih murah dan ramah lingkungan," ujar Ahbab, 20 tahun, kepada Tempo, di halaman kantor Kementerian Riset dan Teknologi, Jakarta, dua hari setelah ia meninggalkan Yogyakarta.

Ada banyak mesin serupa di dunia, tapi mesin ini merupakan reka cipta Jayan Sentanuhady, 38 tahun. Karena dibuat di Indonesia, pas benar untuk iklim tropis. Dosen teknik mesin ini sejak sekitar 2005 menyadari pentingnya energi alternatif bagi kendaraan bermotor. Lulusan Fakultas Teknik UGM ini lalu mengambil master teknik mesin di Universitas Saitama, Jepang, dan mendalami sistem pembakaran. Begitu studinya kelar pada 2008, penelitiannya berlanjut di Yogyakarta, menggunakan tabung detonasi buatan sendiri.

Tabung sepanjang enam meter itu vital untuk menguji ledakan dari berbagai bahan bakar yang lebih murah ketimbang bensin, dari hidrogen, gas minyak bumi cair (LPG), sampai gas alam terkompresi alias CNG. Pilihan jatuh pada CNG karena paling ramah lingkungan dan murah. Dengan memampatkan metana (CH4) dari gas alam, unsur karbonnya lebih sedikit ketimbang propana (C3H8) dan butana (C4H10) di LPG. Harga CNG Rp 3.100 untuk volume setara satu liter bensin jauh lebih murah dibanding LPG, yang mencapai Rp 6.600 dengan jumlah yang sama. "Hidrogen dicoret karena mahalnya ongkos mengekstrak hidrogen murni dari air," kata Jayan.

Dia mengajak sepuluh mahasiswanya—termasuk Bastian, yang bertugas merancang mesin, dan Ahbab pada uji keamanan—membuat converter kit. Sistem ini terdiri atas tujuh bagian dengan pengurang tekanan yang diberi nama Semar sebagai komponen utama (lihat infografis). Bongkar-pasang di sudut kampus di Bulaksumur, Yogyakarta, ini menelan dana Rp 600 juta. Coba tebak, berapa duit yang diberikan pemerintah?

Menurut Jayan, ia mengeluarkan Rp 400 juta dari kantong pribadi. Ini bukan tanpa akibat buruk. "Teman-teman sudah punya rumah, saya belum," kata Jayan. Dia nye­ngir kuda. "Untung istri tidak marah."

Untung kerja keras Jayan dan mahasiswanya segera berbuah. Sejak tahun lalu, Baleno pelat merah yang dihibahkan untuk eksperimen itu resmi memakai mesin dengan dua bahan bakar: bensin dan gas. Perjalanan Bastian dan Ahbab ke Jakarta sekaligus menjadi ujian terakhir teknologi itu.

Dari kampus mereka sampai Cilacap yang berjarak sekitar 140 kilometer, Baleno melaju berkat pasokan 10 lsp (liter setara Premium) CNG. Artinya, 1 lsp untuk 14 kilometer. Baleno terus melaku. Toh, akhirnya gas itu habis. Padahal di sepanjang jalan belum ada penjual CNG.

Ketika sensor menemukan gas di tangki mulai tekor, sensor itu mengaktifkan lampu merah di sudut kiri dasbor. Dengan satu sentuhan, Ahbab menekan tombol, dan, sret..., Semar diistirahatkan. Baleno kini menenggak Premium.

Jayang mengungkapkan peranti konverter Semarnya siap diproduksi massal. Ia memperkirakan harga per unitnya Rp 9 juta. "Dalam tempo kurang dari setahun, uang itu telah terganti," dia berjanji.

Itu agaknya bukan janji kosong. Di atas kertas, converter kit ini membuat pemiliknya berhemat sampai Rp 15 juta per tahun. Mari dihitung. Harga CNG Rp 3.100 per liter, lebih murah ketimbang Premium yang kini masih Rp 4.500. Pada Baleno, seliter gas cukup untuk 14 kilometer, sementara seliter Premium hanya 10 kilometer. Selisih itu dikalikan penggunaan harian, misalnya 70 kilometer. "Penghematan bisa lebih besar kalau pembandingnya adalah bensin nonsubsidi," katanya.

CNG sanggup membawa Baleno lebih jauh. Menurut perhitungannya, gas alam terkompresi memiliki nilai oktan 130. Lebih tinggi ketimbang Premium yang cuma 88, Pertamax 92, dan Pertamax Plus 95. "Sesuai dengan ilmu mesin, oktan lebih tinggi dipastikan tidak merusak mesin," ujar Jayan.

Teknologi Semar itu membawa Jayan dkk ke Istana Negara. Pada pertengahan Maret lalu, Presiden Susilo Bambang Yudho­yono memanggilnya bersama Rektor Universitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Institut Teknologi Bandung, terkait dengan energi alternatif. Di sana Jayan menyelam sambil minum air. Sambil memaparkan mesin Semarnya, ia meminta Presiden tidak mengizinkan investor asing membangun pabrik mesin pengalih di Indonesia. "Supaya industri converter kit kita bisa tumbuh," ujarnya.

Presiden pun menyanggupi permohonannya. Dosen Teknik Mesin ITB Tri Yuswijayanto Zaenuri mengatakan penelitian tentang kit penyulih bahan bakar atau converter kit di Indonesia sudah lama, sejak 1988. Kit ini gagal keluar dari laboratorium karena harga bensin bersubsidi kala itu masih ratusan perak. "Sehingga zonder keuntungan ekonomis."

Kelemahan lainnya adalah minimnya stasiun pengisian bahan bakar gas. Doktor dari Technische Universitaet Clausthal Jerman ini pernah memasang kit sejenis buatan kampus Ganesha, lima tahun lalu. Namun penyulih itu dia perotoli karena di Bandung tak ada stasiun pengisian gas. Hingga kini kendala itu belum teratasi. Baleno Bastian dan Ahbab, misalnya, baru bisa menyesap gas di Jalan Pemuda, Jakarta Timur—antre bersama bus Transjakarta—karena di sepanjang jalan ke Jakarta tidak ada stasiun gas.

Setelah harga minyak membengkak seperti sekarang, belum jelas juga nasib converter kit ini. Sungguhpun begitu, ada angin segar. Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional di Jakarta dua pekan lalu, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan akan membangun seratus stasiun pengisian gas di Jawa. Pemerintah juga meminta produsen mobil melengkapi converter kit pada produk baru, sehingga bisa berjalan dengan gas dan bensin, lengkap dengan garansinya.

Di pelataran parkir kantor Kementerian Riset dan Teknologi, Jakarta, dua pekan lalu. Menteri Gusti Muhammad Hatta terlihat gembira dengan Baleno UGM. Dia pun mendukung gagasan UGM untuk membuat pabrik converter kit berkapasitas seratus buah saban bulan. Meski begitu, dia sempat mengkritik penggunaan nama wayang. "Kenapa Semar?" tanya Gusti. Yang dikritik hanya mesam-mesem tanpa memberi penjelasan kesaktian Semar sehebat Baleno.

Reza Maulana, Anton William, Sundari


CNG merupakan gas yang dikompres pada tekanan tinggi, terdiri atas metana (CH4). LGV alias LPG untuk kendaraan terdiri atas campuran propana (C3H8) dan butana (C4H10).

Tabung CNG
Kapasitas 11 liter setara Premium (bisa ditambah sesuai dengan kebutuhan). Ketebalan 8 milimeter, sanggup menahan tekanan 800-1.000 bar. Dilengkapi pressure release sebagai pengaman dari ledakan.

Katup Pengisian
Lokasi penyuntikan CNG untuk pengisian di stasiun gas.

Filter Gas
Menyaring kotoran di dalam gas, seperti debu dan uap air.

Penurun Tekanan/Semar
Ibarat jantung pada sistem mesin pengalih. Semar bertahap menurunkan tekanan dari tangki CNG. Penurunan tekanan dilakukan dua tahap, dari 200 bar menjadi 30 bar, lalu menjadi 2-3 bar.

Pengendali elektronik injektor
Mengendalikan jumlah gas yang disemprotkan ke dalam ruang bakar menurut injakan pedal gas.

Injektor
Saluran akhir CNG menuju mesin. CNG disemprotkan ke ruang bakar dan dibakar untuk memutar mesin.

 Fase BeratTekananSuhu Nyala
(derajat Celsius)
OktanHarga (Rupiah)
CNG gasLebih ringan dari udara200 bar6501303.100
LPG/LGV cairLebih berat dari udara15 bar481966.600
Premium cairLebih berat dari udara-275888.500 (disubsidi
menjadi 4.500)

Keunggulan CNG

  • 100 persen produksi dalam negeri
  • 40 persen hemat bahan bakar dibanding Premium
  • Harga konverter murah, mulai Rp 8 juta
  • Penghematan bahan bakar per tahun Rp 15 juta (biaya pembelian dan pemasangan impas dalam satu tahun)
  • Pengalihan otomatis menggunakan tombol di samping kemudi tanpa menyebabkan batuk pada mesin
  • Suara mesin lebih halus dan bebas knocking
  • Ramah lingkungan

    Kelemahan CNG

  • Daya mesin berkurang 20 persen
  • Stasiun pengisian masih terbatas akibat kurangnya jaringan pipa gas

    Sumber: Jayan Sentanuhady, Universitas Gadjah Mada


    Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835342253



  • Ilmu dan Teknologi 1/1

    Sebelumnya Selanjutnya

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.