Kolom 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mitigasi Bencana dan Survival of The Fittest

Danny Hilman Natawidaja*

Alam punya dua sisi muka. Satu sisi terlihat ramah dan pemurah, sisi lainnya bengis dan tak kenal ampun. Nusantara sangat ideal merefleksikan dua karakter antagonistik ini. Negeri kita dikaruniai potensi sumber daya alam yang melimpah-ruah, tapi juga ancaman bencana alam yang luar biasa, termasuk banyaknya jalur patahan gempa, 140-an gunung api aktif, serta ancaman banjir dan tsunami. Karena itu, kelangsungan hidup bangsa dan negara sangat bergantung pada seberapa serius dan pintar kita mengelola kedua sisi antagonis ini.

i

Danny Hilman Natawidaja*

Alam punya dua sisi muka. Satu sisi terlihat ramah dan pemurah, sisi lainnya bengis dan tak kenal ampun. Nusantara sangat ideal merefleksikan dua karakter antagonistik ini. Negeri kita dikaruniai potensi sumber daya alam yang melimpah-ruah, tapi juga ancaman bencana alam yang luar biasa, termasuk banyaknya jalur patahan gempa, 140-an gunung api aktif, serta ancaman banjir dan tsunami. Karena itu, kelangsungan hidup bangsa dan negara sangat bergantung pada seberapa serius dan pintar kita mengelola kedua sisi antagonis ini.

Dalam satu dekade terakhir, Indonesia dilanda teror gempa dan tsunami besar dengan korban luar biasa banyak. Tsunami di Aceh pada 2004 telah menunjukkan bagaimana bencana alam dapat menghancurkan kehidupan dalam tempo sekejap. Sebelumnya, masyarakat hampir tidak mengenal kata tsunami, meskipun di Aceh, misalnya, ada kata ieu beuna untuk menyebut air bah besar, dan di Pulau Simeulue dinamai smong. Setelah bencana 2004 itu, hampir semua orang mengetahui apakah tsunami dan penyebabnya.


Tragedi tsunami 2004 menjadi tonggak baru kesadaran akan pentingnya mengantisipasi bencana. Hal ini terimplementasi melalui sistem peringatan bahaya tsunami di Lautan Hindia dan Andaman serta berbagai kegiatan untuk menyadarkan dan menyiagakan masyarakat dalam menghadapi kemungkinan bencana di masa mendatang. Sejalan dengan itu, pada awal 2007 dibuat Undang-Undang Nomor 24 tentang penanggulangan bencana. Sayangnya, undang-undang tersebut masih lebih berorientasi pada penanggulangan bencana pasca-kejadian, belum berasaskan konsep mitigasi bencana pra-kejadian. Karena itu, usaha untuk meneliti potensi sumber bencana di masa mendatang dan mengevaluasi risikonya masih belum mendapat perhatian yang memadai. Padahal ini sungguh sangat penting.

161835362775

Rentetan kejadian gempa besar dan tsunami di wilayah Sumatera-Jawa terjadi secara berantai setelah tahun 2004. Di antaranya, yang memakan banyak korban, gempa Nias (2005), gempa Yogya (2006), gempa-tsunami Pangandaran (2006), dan gempa-tsunami Mentawai, September 2010. Penelitian intensif oleh tim Puslit Geoteknologi LIPI, California Institute of Technology, dan Earth Observatory of Singapore (EOS) sejak 1991 membuktikan bahwa zona pertemuan Lempeng Lautan Hindia dan Asia Tenggara di sepanjang Palung Sumatera telah mengakumulasi energi gempa yang sangat besar. Analisis data Global Positioning System (GPS) kontinu yang terekam pada SuGAr (Sumatran GPS Array), yang dikelola oleh EOS dan LabEarth-Puslit Geoteknologi LIPI, menunjukkan bahwa proses rentetan gempa besar setelah 2004 tersebut terkait dengan sudah sampainya masa bagi wilayah itu untuk melepaskan energi regangan tektonik yang diakumulasi selama ratusan tahun itu.

Analisis terakhir dari sistem megathrust—patahan naik pada batas lempeng Samudra Hindia dan busur kepulauan Sumatera—memperlihatkan energi gempa belum habis terlepas. Akumulasi energi paling besar terdapat di segmen megathrust Mentawai, di bawah Pulau Siberut-Sipora-Pagai Utara sebesar 8,8 skala Richter. Megathrust di wilayah Aceh pun belum aman, masih menyimpan potensi gempa sampai 8 skala Richter, khususnya di bawah wilayah Simeulue. Segmen megathrust­ di selatan Bengkulu (dari Pulau Enggano-Selat Sunda-selatan Jawa) tak mempunyai catatan sejarah gempa besar di atas 8 skala Richter selama ratusan tahun, tapi ini belum tentu kabar baik. Bisa saja wilayah itu pun penuh ancaman.

Soalnya, dari pengalaman selama 10 tahun terakhir, proses terjadinya rentetan gempa penuh kejutan. Contohnya, gempa 2005 (8,7 skala Richter) di Nias bukannya disusul dengan pecahnya Segmen Mentawai yang diduga telah siap memuntahkan energi, melainkan memecahkan Segmen Bengkulu di sebelah selatannya pada 2007 (8,4; 7,9; dan 7,0 skala Richter). Padahal, dari studi tektonik, segmen ini kurang berpotensi karena merupakan segmen yang sangat lambat mengakumulasi regangan tektonik dibandingkan dengan Mentawai.

Kejadian gempa 11 April 2012 baru-baru ini sangat mengejutkan. Syukurlah, episenternya jauh di tengah samudra. Di wilayah ini sistem patahan aktif didominasi oleh patahan dengan mekanisme pergerakan mendatar, sehingga tidak banyak mengangkat dasar laut, meskipun gerak patahan itu mencapai 20 meter. Tsunami yang dibangkitkan pun tidak besar. Tapi yang fenomenal dari gempa ini adalah bahwa gempa itu merupakan lindu jenis patahan mendatar terbesar sepanjang abad ini.

Gempa kembar 8,6 dan 8,2 skala Richter itu merupakan sinyal alam bahwa lempeng bumi di barat Sumatera harus terus diwaspadai, karena di segmen megathrust-nya masih tersimpan akumulasi energi gempa yang besar. Apalagi analisis data SuGAr menunjukkan deformasi lempeng dari gempa 11 April itu mengakibatkan tambahan tekanan yang cukup tinggi pada segmen megathrust di Simeulue.

Data jaringan stasiun GPS SuGAr di Pulau Simeulue, Kepulauan Banyak, dan Nias merekam adanya pergerakan instan ke arah timur hingga 30-an sentimeter. Padahal desakan dari Lempeng Samudra Hindia yang besarnya 5-6 sentimeter per tahun terhadap Pulau Sumatera hanya menghasilkan pemampatan bumi di permukaan 2-3 sentimeter per tahun. Dengan kata lain, gempa tersebut memberikan beban tekanan tambah­an yang setara dengan efek pergerakan tektonik lempeng selama 10 tahun atau lebih. Di samping itu, efek instan dari gempa juga diduga memicu pergerakan patahan tanpa disertai gempa atau slow slip di bagian bawah megathrust Mentawai, yang menggeser Mentawai beberapa sentimeter ke barat.

Proses tersebut tentunya akan memberi tambahan tekanan pada patahan megathrust yang statusnya diduga sudah ”menunggu waktu untuk meledak”. Meskipun demikian, state of art ilmu pengetahuan belum mampu mengetahui kapan gempa bakal berlangsung. Karena itu, yang bisa dilakukan adalah melakukan persiapan sebaik-baiknya.

Salah satu hikmah dari gempa 11 April adalah gempa ini dapat dipakai sebagai tolok ukur untuk menilai tingkat kesiagaan masyarakat dan memperbaiki kekurangannya. Misalnya, apakah kondisi masyarakat di Padang dan Aceh terkendali, dan evakuasi sesuai dengan prosedur operasi standar; apakah info tsunami warning sudah cukup lengkap, akurat, dan dapat didiseminasikan dengan cepat ke masyarakat yang terkena dampak.

Pada 2011, dunia juga dikejutkan oleh gempa-tsunami di Sendai, Jepang. Gempa 9 skala Richter yang berasal dari megathrust di timur Jepang ini membangkitkan tsunami setinggi 14 meter dan melibas daratan sejauh 4 kilometer. Tsunami ini bahkan merusak instalasi nuklir, sehingga mengakibatkan bencana ikutan yang lebih parah. Walaupun negara yang paling mumpuni dalam mitigasi bencana gempa ini bisa dibilang kecolongan oleh keganasan alam itu, Jepang juga membuktikan ketangguhannya dalam menekan jumlah korban dan melakukan pemulihan. Ini merupakan buah dari berbagai program mitigasi bencana yang sangat intensif selama puluhan tahun. Di samping ditunjang oleh penelitian kebencanaan yang mendalam, proses pembudayaan mitigasi bencana juga tertanam dari pemahaman sejarah survival bangsa yang panjang di masa silam.

Pembelajaran dari pengalaman menghadapi bencana alam di masa lalu itu sangat penting untuk menghadapi bencana pada masa mendatang. Kurangnya data sejarah bencana alam di masa lalu di Nusantara menjadi salah satu sebab kenapa masyarakat kita seolah-olah kehilangan memori akan pengalaman dan kearifan di masa lalu, sehingga menjadi kurang membudaya dalam mitigasi bencana. Padahal sejarah memberi pelajaran bahwa eksistensi manusia selalu dihadapkan dengan proses katastropik alam yang berulang untuk menjaga kesetimbangannya. Fakta menunjukkan bahwa banyak peradaban purba yang hilang karena bencana katastropik. Dalam kaitan ini, tidak berlebihan jika mitigasi bencana tidak hanya dilakukan dalam ranah sipil, tapi diintegrasikan ke dalam program ketahanan nasional secara utuh. Ancaman bencana alam setara dengan ancaman teroris, malah kenyataannya lebih sering terjadi dan lebih fatal dampaknya.

Boleh jadi, pada akhirnya peradaban sekarang pun akan punah juga didaur ulang oleh bencana. Semakin canggih dan kompleks peradaban manusia memang kian rawan terhadap ancaman kehancuran; bukan sebaliknya. Namun, kalaupun akhirnya bencana katastropik memusnahkan peradaban kita, paling tidak kita sudah bertahan dengan elegan, tidak mati konyol. Wallahualam.

*Pakar geologi dan palaeotsunami Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835362775



Kolom 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.