Ekonomi dan Bisnis 2/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Lebih Murah dari Gajah Putih

Toyota kembali meluncurkan mobil hibrida. Pasar masih sangat kecil.

i

ANGKA konsumsi bahan bakar minyak yang tertera di layar multi-information display itu rata-rata di atas 8,6 kilometer per liter. Siang itu, Rabu tiga pekan lalu, Tempo mendapat kesempatan perdana uji mengendarai All New Camry 2.5 Hybrid. Menembus kemacetan kota-kota di Pulau Dewata, perjalanan Seminyak-Nusa Dua sepanjang 10 kilometer ditempuh sekitar setengah sejam. Artinya, seliter lebih sedikit bensin yang dibakar selama perjalanan.

Konsumsi BBM itu tergolong hemat untuk ukuran mobil 2.500 cc. All New Camry Hybrid adalah andalan baru PT Toyota Astra Motor. Agen tunggal pemegang merek Toyota di Indonesia ini mengimpornya dari Thailand, dan resmi memamerkan kepada publik di Grand City Surabaya, 20 April lalu. "Hasilnya mengejutkan. Kami telah mendapatkan order 100 unit," kata Direktur Pemasaran Toyota Astra Joko Trisanyoto.

Di Negeri Gajah Putih, Camry Hybrid diperkenalkan pertengahan Maret lalu dengan harga 1,87 juta baht (Rp 555 juta). Pada saat yang sama, peluncuran dilakukan di Australia. Bedanya, Toyota Australia menawarkan dua varian, yakni tipe H dan HL. Keduanya dibanderol dengan harga setara dengan Rp 331 juta dan Rp 392 juta. Di Indonesia, Camry Hybrid dijual Rp 635,6 juta, lebih mahal daripada Camry biasa yang sekelas.


Penguasa pasar mobil Indonesia itu agaknya masih belum kapok menjajal pasar mobil hibrida, yang sangat tipis. "Tak sampai satu persen," kata Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia Jongkie D. Sugiarto kepada Sundari dari Tempo. Tahun lalu penjualan mobil di Indonesia mencapai 894.164 unit.

161835445876

Sebelumnya, Toyota meluncurkan Prius pada 2008 dan Lexus pada awal 2010. "Prius hanya terjual 50 unit," kata juru bicara Toyota Astra, Rouli H. Sijabat. Harganya yang Rp 600 juta menjadi kendala karena Corolla Altis dengan spesifikasi yang hampir sama hanya dijual Rp 300-400 juta.

Kini Toyota datang dengan strategi baru. Joko menjelaskan dua faktor yang membantu menekan harga. Pertama, ukuran mesin Camry Hybrid hanya 2.500 cc, sehingga pajaknya lebih rendah daripada Camry 3.500 cc. Kedua, Camry Hybrid diimpor dari Thailand. "Bea impornya hampir nol persen karena masuk skema ASEAN," kata Joko. Prius, yang diimpor langsung dari Jepang, dikenai bea masuk 40 persen.

Joko juga yakin pada pemasaran Camry Hybrid karena konsumsi bahan bakarnya cuma separuh dari kebutuhan normal. Ia juga cocok dengan tren masa kini, yang menghendaki mobil ramah lingkungan. "Tingkat emisinya nyaris nol," katanya. Namun, kata Jongkie, penjualan mobil hibrida di Indonesia masih seret karena kendala harga. "Mestinya pemerintah menerapkan kebijakan bea masuk dan perpajakan yang berbeda untuk hibrida," katanya.

Situasi itu juga yang agaknya membuat PT Honda Prospect Motor belum berniat memasarkan mobil hibridanya di Indonesia. Pada 2007, agen tunggal pemegang merek Honda ini, kata Direktur Pemasaran dan Purnajual Jonfis Fandy, pernah mendatangkan lima Honda Civic Hybrid. Tapi cuma dua yang dilego. Yang lain dipakai untuk riset. "Kami masih menunggu kepastian kebijakan pemerintah mengenai mobil ramah lingkungan ini."

Kementerian Perindustrian sebetulnya bersedia memberi insentif kepada produsen mobil hibrida asalkan mereka mau memproduksinya di Indonesia. Direktur Jenderal Industri Unggul Berbasis Teknologi Tinggi Budi Darmadi mengatakan pemangkasan pajak penjualan barang mewah tak akan menekan harga secara signifikan karena perbedaan harganya terlalu lebar, sekitar 40 persen. Menurut dia, insentif bukan satu-satunya cara. Kuncinya adalah produksi massal.

Retno Sulistyowati, I Wayan Agus Purnomo, Ucok Ritonga (Nusa Dua)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835445876



Ekonomi dan Bisnis 2/6

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.