Nasional 4/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kamar Bawah Tanah Ibu Artis

Angelina Sondakh mulai berkomunikasi dengan Mindo Rosalina. Diminta terbuka kepada komisi antikorupsi.

i

DARI komputer di meja kerjanya, lantai tiga kantor Komisi Pemberantasan Korupsi, Bambang Widjojanto memantau seluruh ruangan di gedung itu. Di layar wakil ketua komisi antikorupsi itu antara lain tampak ruang tahanan di lantai paling bawah.

Satu unit kamera pengawas menyorot dua petugas perempuan yang berjaga di ruang tunggu. Dari lima kamar di ruang tahanan itu hanya dua yang diisi: Angelina Sondakh dan Mindo Rosalina Manulang. Keduanya terjerat perkara suap proyek pembangunan Wisma Atlet Jakabaring, Palembang.

Rosa lebih dulu menempati selnya, sementara Angelina baru masuk pada Jumat dua pekan lalu. Ketika Tempo melihat layar monitor di ruang Bambang, tak tampak kegiatan di ruang tahanan itu pada Rabu malam pekan lalu. "Kata petugas, Angelina memang lebih banyak di dalam sel. Kadang-kadang ia mengaji," ujar juru bicara Komisi, Johan Budi S.P.


Angelina, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, keluar dari selnya jika menerima tamu. Penjenguk keluarga dibolehkan bertemu dengan tahanan di ruang tunggu. Tamu lain hanya bisa mengobrol di "Ruang Tatap Muka". Penjenguk dan tahanan tak bisa kontak fisik karena dipisahkan pelapis kaca—semacam penjara yang ada di film-film Hollywood. "Kami mengobrol lewat telepon," kata Kahfi Siregar, juru bicara Angelina, yang datang Senin pekan lalu.

161862746418

Kahfi melihat Angelina tak banyak berubah sejak masuk sel: tetap tenang dan banyak senyum. Ia ditahan setelah diperiksa pertama kali sebagai tersangka. Selain perkara suap proyek pembangunan Wisma Atlet, Puteri Indonesia 2001 ini disangka terlibat perkara korupsi proyek di sejumlah perguruan tinggi.

Angelina menangis hanya ketika berpisah dengan tiga anaknya pada Jumat malam, ketika ia masuk sel. Setelah anak dan orang tuanya pulang, ia mengaku bisa tidur nyenyak di dipan busa berukuran 0,9 x 1,8 meter.

Tak banyak yang dibawa Angelina ke dalam selnya. Hanya sekoper pakaian ganti yang dikirim orang tuanya, buku catatan, Al-Quran, dan mukena. Menurut Kahfi, sejak menjadi mualaf pada 2009 karena menikahi artis-cum-politikus Demokrat, Adjie Massaid, Angelina intens belajar mengaji.

Lewat pengacaranya, Angelina meminta Komisi Pemberantasan Korupsi membolehkannya membawa gitar dan alat lukis. Angelina memang suka menyanyi dan main musik. Ia merekam ulang lagu favoritnya, Kau yang Kusayang, yang diciptakan dan dipopulerkan band The Rollies. Sejauh ini Komisi belum mengabulkan permintaan Angelina itu.

Angelina tak bisa tidur pada Minggu malam karena hidungnya berdarah. Sudah lama ia mengidap sinusitis, yang kambuh jika ia mengalami stres atau berada di tengah udara lembap. Karena di tahanan hanya ada dokter umum, Angelina dirujuk ke klinik telinga, hidung, dan tenggorokan di Menteng, Jakarta Pusat. Kembali ke tahanan, Angelina kembali terlihat segar.

Setiap hari ada saja tamu yang datang menjenguk. Waktu kunjungan cukup longgar. Setiap hari tamu boleh datang antara pukul 10-12 dan 13-15. Subur Budi Santoso, pendiri Demokrat, tampak menjenguknya dan memberi dua buku kumpulan doa. Beberapa sahabat Angelina dari Women, organisasi mantan Puteri Indonesia, juga terlihat datang menjenguk.

Menurut penjaga tahanan, di luar waktu menerima kunjungan tamu, Angelina lebih banyak mengurung diri di kamar. Jika tak di kamar, ia masuk ke toilet untuk merokok. Berbeda dengan tetangganya, Mindo Rosalina Manulang, yang lebih dulu menghuni sel.

Ada lima sel di ruang tahanan KPK. Dua sel lainnya masih direnovasi dan satu sel kosong yang siap huni. Tiap sel luasnya 2 x 3 meter. Di tiap kamar hanya ada dipan, lemari, dan exhaust. Rosalina, kata para penjaga, jauh lebih supel dan sering mengobrol dengan penjaga sambil menonton televisi. Sedangkan Angelina jarang ke luar kamar sepekan ini.

Dua perempuan ini terhubung oleh kasus suap pembangunan Wisma Atlet di Palembang, Sumatera Selatan. Sebagai anak buah Muhammad Nazaruddin, Bendahara Umum Partai Demokrat, Rosa didakwa menyuap Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga Wafid Muharam untuk memenangkan PT Duta Graha Indah, kontraktor Wisma.

Rosa juga yang berperan mengatur proyek ini dengan menyuap anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Atas jasanya itu, perusahaan Nazaruddin—Grup Permai—mendapat fee 13 persen dari nilai proyek Rp 191 miliar. Saat Wafid ditangkap, komisi itu baru disetor Rp 4 miliar.

Percakapan BlackBerry Messenger antara Rosa dan Angelina mengungkap persekongkolan itu. Anggota Badan Anggaran DPR itu berkali-kali meminta Rosa menyediakan uang suap dalam bentuk rupiah dan dolar Amerika Serikat untuk disebar ke anggota Badan Anggaran yang lain agar proyeknya segera cair. Mereka punya istilah yang disepakati: uang suap disebut "apel". Sedangkan Rosa menyebut Angelina sebagai "Bu Artis".

Saat bersaksi untuk Rosa di pengadilan, Angelina menyangkal meminta suap hingga Rp 5 miliar. Ia bilang tak pernah berkomunikasi dengan Rosa karena tak memiliki BlackBerry. Angelina berkukuh dengan penyangkalan itu bahkan saat bertemu dengan Rosa di ruang tunggu tahanan KPK. "Akhirnya keduanya bertemu Ahad dua pekan lalu," kata Yulianis, karib Rosa di perusahaan Nazaruddin. Rosa sempat bertemu setelah Yulianis diperiksa penyidik KPK.

Angelina ditetapkan menjadi tersangka dua bulan lalu. Namun penyidik baru memeriksanya Jumat dua pekan lalu dan langsung menahannya. Para penyidik yang memetakan 30 kasus korupsi Nazaruddin menemukan ada aliran dana untuk Angelina, dan mereka sudah memblokir rekeningnya.

Sejauh ini penyidik belum meminta konfirmasi soal aliran duit itu. Pengacara Angelina keburu mengembuskan isu dan menawarkan status Angelina sebagai justice collaborator atau saksi pembongkar kasus dengan imbalan hukuman diringankan. Juga konfrontasi soal isi BlackBerry Mes­senger kepada Rosa. "Baru pemeriksaan pertama. Baru menyinggung tugas dia sebagai anggota Badan Anggaran," kata Bambang Widjojanto.

Sebagai dua orang penting dalam pusaran suap Wisma Atlet, Angelina dan Rosa pun jadi canggung saat bertemu di ruang tunggu tahanan, Ahad dua pekan lalu. Sebuah sinetron sedang diputar di sebuah televisi menjadi bahan pembuka percakapan keduanya. Rosa yang mendekati lebih dulu.

Seorang polisi wanita duduk di antara mereka saat keduanya mulai bercakap. Soalnya ini pertama kali mereka duduk satu kursi. Sebelumnya, Angie-Rosa selalu kucing-kucingan: satu ke luar sel, satu di dalam; satu urung ke toilet jika yang lain sedang duduk di ruang tunggu.

Tapi lama-lama suasana cair karena Rosa terus memancing pembicaraan dengan bertanya soal anak dan kesehatan Angelina. "Sebelum kasus ini meledak, keduanya akrab dan suka jalan-jalan bareng sekeluarga," kata orang dekat Rosa.

Seorang penjenguk Rosa bercerita, Angie, yang semula tenang dan banyak senyum, agak tercenung ketika disinggung soal komunikasi melalui BlackBerry. "Rosa bilang, ‘Bu Angie bekerja sama saja karena semua sudah terbuka dan lambat-laun juga akan ketahuan’," kata penjenguk ini mengutip cerita Rosa. Saat itu Angie menjawab, "Saya tak tahu apa-apa, Bu. Saya tak punya BlackBerry pada 2009."

Obrolan kemudian merembet ke hal-hal lain: soal dukungan pacar, soal rencana pernikahan. Kepada Rosa, Angelina bertanya apakah mungkin jika di tahanan bisa membawa gitar dan alat lukis untuk mengusir bosan. "Emangnya pindahan rumah?" kata Rosa, terbahak. Angie menanggapinya hanya dengan senyum.

Setelah itu, keduanya belum terlihat lagi bertemu dan mengobrol lama di ruang tunggu. Angelina selalu sibuk menerima tamu, jika tak diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi. Sesekali ia me­ngaji.

Bagja Hidayat


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161862746418



Nasional 4/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.