Luar Negeri 1/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pertarungan Dua Perempuan Bangladesh

Pemogokan umum berubah menjadi bentrokan berdarah antara aparat keamanan dan pendukung oposisi di Bangladesh. Pertarungan warisan dua partai politik yang menyengsarakan rakyat Bangladesh.

i
BADAI di Teluk Benggali menyapu rata pantai Bangladesh. Ini bukanlah satu-satunya bencana yang menyengsarakan rakyat Bangladesh. Bencana lain yang datang bersamaan dengan badai itu adalah huru-hara politik, yang secara periodik membuat rakyat Bangladesh semakin sengsara. Huru-hara yang terjadi Senin pekan lalu di jalan-jalan Ibu Kota Dhaka melibatkan 6.000 polisi, yang berusaha melumpuhkan aksi protes menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Sheikh Hasina Wajed. Polisi memukuli massa dengan pentungan, menghamburkan gas air mata dan tembakan peluru karet. Keberingasan polisi itu dibalas massa dengan lemparan batu dan ledakan bom rakitan. Akibatnya, puluhan aktivis oposisi dan tiga politisi oposisi babak belur. Aksi ini merupakan rangkaian aksi pemogokan yang sudah dimulai sehari sebelumnya, yang digerakkan oleh aliansi empat partai oposisi: Bangladesh Nationalist Party (BNP), Jatiya Party (JP), Jamaat-el-Islami (JI), dan Islami Oikya Jote (IOJ). Akibatnya, 60 kota di Bangladesh lumpuh total. Sementara itu, sekolah, toko-toko, dan pusat bisnis tutup. Sejauh ini tercatat ada tiga orang tewas dan 200 orang terluka. Di antara korban itu adalah Sadek Hossain Khoka, bekas Menteri Pemuda dan Olahraga pada pemerintahan Begum Khaleda Zia. Yang menyedihkan, korban jatuh disebabkan oleh bentrokan antara pendukung oposisi dan pendukung pemerintahan Sheikh Hasina, bentrokan antara aktivis oposisi dan pendukung partai berkuasa. Adalah Begum Khaleda Zia yang paling bertanggung jawab dalam aksi pemogokan ini. Bekas perdana menteri ini menyerukan pemogokan umum untuk mendesak Sheik Hasina turun dari kursi perdana menteri, untuk digantikan oleh pemerintahan sementara yang akan melapangkan jalan ke arah pemilu secepatnya. Cara-cara yang sama sebenarnya dilakukan oleh Hasina ketika menumbangkan pemerintahan Khaleda Zia pada 1996. "Ia seharusnya mundur tanpa harus menyia-nyiakan waktu. Kalau tidak, kami segera melakukan aksi yang lebih keras lagi," ujar Abdul Mannan Bhuiyan, Sekretaris Jenderal BNP. Keempat partai oposisi pun mengeluarkan pernyataan keras bahwa mereka akan terus melakukan kampanye intensif hingga pemerintah Partai Awami League pimpinan Sheik Hasina jatuh. Kekuasaan Hasina sudah diguncang oposisi selama 23 hari dalam setahun belakangan ini. Setiap hari, huru-hara diperkirakan telah menimbulkan kerugian di sektor ekonomi sebesar US$ 68 juta. Hasina sebenarnya telah memiliki reputasi yang baik di mata internasional, tapi aliansi partai oposisi menuduh Hasina gagal menyelenggarakan pemerintahan, mengorbankan kepentingan nasional, dan menindas aktivis oposisi. Menurut Abdul Mannan, polisi terus-menerus menggerebek rumah 5.000 aktivis BNP dengan tuduhan yang tak masuk akal. Sebenarnya Hasina sudah membuka diri dengan mengajak seterunya, Khaleda Zia, berdialog untuk menyelesaikan krisis politik. "Saya ingin mendiskusikan masalah apa saja, kapan saja, di mana saja dengan dia (Khaleda Zia)," ujar Hasina. Tapi kelompok oposisi menolak ajakan ini. Huru-hara politik sudah menjadi makanan sehari-hari rakyat Bangladesh, yang sebagian besar berkubang dalam kemiskinan sejak negeri itu memisahkan diri dari Pakistan pada 1971. Korbannya tidak cuma rakyat. Sejak Bangladesh berdiri, sudah ada dua presiden terbunuh, tiga kali kudeta militer, dan 19 kali kudeta militer yang gagal. Meski Sheikh Mujibur Rahman dianggap sebagai Bapak Bangsa, ayah Sheikh Hasina ini juga dituduh lawan politiknya dari BNP sebagai seorang autokrat yang melicinkan jalan bagi munculnya pemerintahan militer. Bahkan, Mujibur Rahman, sebelum terbunuh dalam sebuah kudeta militer pada 1975, sempat mengubah sistem pemerintahan perdana menteri ke pemerintahan satu partai di bawah sistem presidensial. Para pengkritiknya menyebut tindakan itu sebagai kecenderungan otoritarian Mujibur Rahman. Tampaknya, perilaku politik semacam ini menurun pada anaknya, Sheik Hasina, yang kini sedang digoyang seterunya, Khaleda Zia. Badai pun tetap akan melanda dataran rendah Bangladesh dan rakyatnya yang miskin. Raihul Fadjri (Reuters, Associated Press, AFP)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161866225123



Luar Negeri 1/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.