Nasional 4/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Gedung Modern untuk Warga Nahdliyin

i
WARGA Nahdlatul Ulama akan segera punya gedung modern. Gedung berlantai dua di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, itu bakal segera disulap menjadi gedung delapan tingkat yang dilengkapi berbagai fasilitas modern seperti ruang konferensi dan beberapa ruang untuk disewakan. Tak bisa dimungkiri, ini memang berkah dari naiknya Gus Dur menjadi presiden. Sebab, renovasi ini sudah direncanakan sejak sepuluh tahun silam. Tapi, karena sertifikat tanah milik PB Nahdlatul Ulama yang 0,6 hektare dari total 1,4 hektare itu tak bisa keluar, renovasi tak kunjung terlaksana. Baru setelah Gus Dur menjadi presiden, tanpa proses berbelit-belit, Pemerintah Daerah DKI segera meloloskan sertifikat itu. Gratis lagi. Gus Dur memerintahkan agar pembangunan ini jangan ditunda lagi. "Sekarang waktunya sudah tepat," kata Manarul Hidayat, Ketua Panitia Pembangunan Gedung PB Nahdlatul Ulama, menirukan ucapan Gus Dur. Diperkirakan, pembangunan gedung yang ditargetkan bakal rampung dalam dua tahun mendatang ini menelan fulus Rp 22 miliar. Uang sejumlah itu tidak menjadi soal. Sebab, menurut Manarul, sampai sekarang, uang hasil "bantingan" dari warga NU sudah mencapai Rp 18,5 miliar. Ia optimistis kekurangannya bisa diperoleh dengan cepat. Itu keyakinan yang tak berlebihan. Sebab, selain jumlah jemaahnya berjibun, kabarnya, sejumlah pengusaha yang dikoordinasi Sofjan Wanandi ikut menyumbang. Tapi hal itu dibantah Manarul. "Sampai detik ini, uang yang masuk semua berasal dari warga NU," ujarnya. Dalam waktu dekat, semua nama penyumbang akan dipampangkan secara terbuka di kantor PB Nahdlatul Ulama sehingga siapa pun bisa mengetahuinya. Adalah K.H. Chotib Bisri yang mendengar info masuknya sumbangan dari beberapa pengusaha. "Ya, seperti dari Kedawung Group," katanya. Jumlah duit dari perusahaan milik Probosutedjo ini terbilang besar, sekitar Rp 1 miliar. Pengusaha lainnya, kata K.H. Chotib Bisri, adalah Gobel dan Ciputra. Namun, Ciputra membantah. "Saya kok tidak tahu dan itu tidak benar. Saya tidak menyumbang. Saya tidak berbohong," katanya. Probosutedjo sendiri, saat dikonfirmasi, tidak berada di tempat. Kabarnya, NU menunjuk K.H. Nur Muhammad Iskandar Sq. untuk melobi para tauke itu. "'Itu memang tugas saya dari dulu, menjadi penghubung orang-orang. Sifatnya hanya membantu," kata Nur Muhammad. Namun, dia tak mau menyebutkan siapa saja yang sudah menyumbang. "Masa, yang kayak gitu ditanya-tanya? Itu kan amal, enggak boleh disebut jumlahnya," katanya. K.H. Chotib Bisri lebih suka bila pembangunan gedung baru ini dimodali sepenuhnya oleh kaum nahdliyin. Menurut dia, kalau satu orang NU menyumbang seribu perak saja, dari Pulau Jawa bisa terkumpul duit sekitar Rp 16 miliar. Yang dikhawatirkan salah satu kiai sepuh ini, di masa datang pengusaha itu merasa mengutangi budi. Selain itu, dia melihat ada maksud tersembunyi di balik bantuan para pengusaha itu. "Paling tidak, mereka mencari rasa aman. Mereka kan bisa omong dengan orang lain, 'Saya sudah nyumbang ke PBNU, lo'," katanya. Irfan Budiman, Adi Prasetyo, Andari Karina Anom

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865596327



Nasional 4/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.