Kesehatan 2/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Prospek Terapi Gen

Di Amerika Serikat, terapi gen sudah diujicobakan untuk mengobati penyakit langka atau mematikan pada manusia. Prospeknya menjanjikan, tapi pelaksanaannya masih belum sempurna.

i
SEJAK lahir, sistem kekebalan tubuh Ashanti DeSilva sangat lemah. Kelainan genetis menyebabkan tubuh gadis asal Cleveland, Negara Bagian Ohio, ini tak memproduksi enzim adenosine deaminase (ADA), yang vital untuk melawan segala jenis infeksi yang sangat kecil sekalipun. Beruntung, Ashanti besar pada zaman terapi gen. Sembilan tahun lalu, dokter memberinya suntikan berisi gen pembuat enzim ADA untuk menggantikan gen yang sama tetapi rusak dalam tubuhnya. Dan untuk berjaga-jaga, gadis berusia 13 tahun ini masih mendapat suntikan enzim ADA seminggu sekali sampai sekarang. Memang sedikit repot. Tapi, berkat pengobatan tersebut, seperti dilaporkan Popular Science, Ashanti hingga sekarang bisa hidup normal seperti anak remaja umumnya. Terapi gen jelas terobosan baru yang menjanjikan dalam dunia medis. Sejak diperkenalkan pada 1990—Ashanti adalah pasien pertama—penelitian terapi gen tak lagi dibatasi untuk penyakit kelainan genetis saja, tapi juga untuk penyakit kanker, jantung, dan AIDS. Sampai sekarang, sudah ada 244 percobaan terapi gen yang terdaftar di Lembaga Kesehatan Nasional. Namun, karena semuanya baru bersifat eksperimental, penerapannya pada pasien belum terlalu luas. Sampai saat ini, para peneliti masih mengalami kesulitan untuk "menyetir" gen yang disuntikkan ke dalam tubuh pasien. Untuk masuk ke tubuh pasien, biasanya gen tersebut dicantolkan ke virus yang sudah dijinakkan. Teorinya, si virus secara otomatis masuk ke dalam sel tertentu yang gennya akan digantikan. Prakteknya, virus tadi sering nyasar. Alih-alih masuk ke sel yang dituju, ia malah masuk ke sel lain yang tak berkaitan. Ini salah satu alasan mengapa para terapis belum bisa menyuntikkan gen dalam jumlah besar sekaligus ke tubuh pasien. Lebih repot lagi kalau virus tadi menyelonong ke jalur DNA (asam deoksiribonukleat)—materi genetis—yang "panas" sehingga gen di dalamnya malah berproduksi secara berlebihan. Belum lagi fakta bahwa banyak juga virus yang terlalu kecil untuk menampung gen berukuran besar atau tampak terlalu asing bagi sel-sel imunitas pasien, sehingga langsung diserang dan dimusnahkan sebelum sampai ke tujuan. Gen salah jalan bukan satu-satunya sumber kerepotan para peneliti. Sampai sekarang mereka juga belum punya cara yang cespleng untuk mengatur usia dan daya produksi gen yang disuntikkan itu. Itu sebabnya efektivitas gen ADA yang dulu disuntikkan pada Ashanti pun dipertanyakan. Apakah betul hasilnya akan secemerlang itu kalau saja gadis itu tak diberi doping enzim setiap minggu? Salah satu lembaga yang berupaya untuk mengoreksi kekurangan-kekurangan tadi adalah Lembaga Terapi Gen untuk Manusia di Universitas Pennsylvania. Para ahli di lembaga ini berhasil mengatur produksi gen yang dicantolkan pada adenovirus (AAV). Untuk menyetop kelebihan atau mencegah kekurangan produksi enzim, dinding AAV direkayasa sedemikian rupa supaya gen yang menumpang itu hanya berproduksi jika pasien meminum pil rapamycin. "Dengan demikian, pasien tak perlu lagi mendapat suntikan enzim setiap minggu," kata dr. James Wilson, direkturnya. Yang dilakukan Rumah Sakit St. Elizabeth di Boston berbeda sama sekali. Di sini penggunaan virus sebagai pembawa gen malah dihentikan. Untuk para pasien jantungnya, dr. Jeffrey Isner langsung menyuntikkan gen yang membantu pertumbuhan pembuluh darah ke jantung mereka. Sementara itu, para peneliti di Universitas Rice di Houston berhasil menemukan polyenthylenimine, sejenis protein sintetis yang mampu mengantar kelompok DNA langsung ke dalam inti sel. Dokter Michael Blaese, kepala klinik terapi gen di Bethesda, Maryland—tempat Ashanti berobat—juga sudah mengembangkan metode chimeraplasty. Ketimbang menyuntikkan gen baru, metode ini memperbaiki gen yang rusak dengan cara mengirimkan molekul DNA-RNA (asam ribonukleat), disebut chimera, ke dalam sel. RNA akan mencari gen yang rusak, memperbaikinya, dan kemudian menempelkannya pada DNA yang mengandung gen sehat. Semua terapi gen itu memang masih bertaraf percobaan. Tak mengherankan bila penggunaan adenovirus (AAV) dalam terapi gen yang dilakukan tim dokter Universitas Pennsylvania pun saat ini sedang mendapat sorotan setelah September lalu seorang remaja 18 tahun tewas karenanya. Menurut The New York Times, ini kasus kematian pertama yang merupakan akibat langsung dari terapi gen itu sendiri, bukan karena parahnya penyakit yang diderita. Akibatnya, pemerintah AS untuk sementara menghentikan pemakaian AAV dan meninjau kembali protokol terapi gen yang sekarang berlaku. Awal Desember nanti, hasil tinjauan tersebut akan dibuka kepada publik. Wendi Ruky

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836587936



Kesehatan 2/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.