Luar Negeri 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pemilu Malaysia yang Mendebarkan

Pertarungan Mahathir Mohamad versus Anwar Ibrahim segera muncul di ajang pemilu Malaysia. Diduga pertarungan akan berlangsung sangat sengit.

i
SEGALANYA ada di tangan Dokter M. Selasa pekan silam, Perdana Menteri Mahathir Mohamad membatalkan rencana perjalanannya ke Afrika Selatan. Dan keesokan harinya, secara mendadak ia mengumumkan pembubaran parlemen Malaysia. Warga Malaysia, termasuk para pengamat politik dan kalangan oposisi, segera mafhum bahwa pemilu yang mendadak ini adalah sebuah strategi politik. Hanya berselang satu hari, esoknya, Komisi Pemilu Malaysia mengumumkan bahwa pemilihan raya (pemilu) akan diselenggarakan pada 29 November tahun ini. Setelah 18 tahun memerintah Malaysia, dan hampir tak pernah menghadapi oposisi yang secara serius mengancam kedudukannya, kini Mahathir akan menghadapi pemilu yang cukup menantang. Mahathir adalah pemimpin yang terlama memerintah di antara para pemimpin Asia—tentu saja setelah Soeharto mundur setahun silam—dan baru kali ini akan menghadapi oposisi yang bersatu. Oposisi itu, antara lain, terdiri atas Partai Keadilan pimpinan Wan Azizah Ismail, istri mantan wakil perdana menteri Anwar Ibrahim, Partai Islam Se-Malaysia (PAS), dan Partai Aksi Demokrasi. Oposisi di Malaysia menjadi kuat ketika September tahun silam Anwar Ibrahim dipecat dari jabatannya sebagai wakil perdana menteri. Ia ditahan berdasarkan tuduhan, antara lain, melakukan kejahatan seksual dan korupsi. April tahun silam, Anwar divonis enam tahun penjara karena dianggap telah memanfaatkan kekuasaan selama menjabat sebagai menteri. Dan kini ia masih menghadapi tuduhan sodomi yang bisa mengantarnya mendekam selama 20 tahun di penjara. Selama 17 bulan, Malaysia—untuk pertama kalinya—diguncang demonstrasi dan perlawanan atas tindakan yang dianggap sewenang-wenang itu, terutama setelah Anwar terlihat dipukuli di tahanan. Namun, belum jelas apakah oposisi, yang tentu saja belum memiliki mesin politik secanggih UMNO—partai yang telah berkuasa selama 18 tahun—bisa memenangi pemilu secara telak. Apalagi pengumuman mendadak ini jelas memiliki berbagai implikasi politik, antara lain dr. M, panggilan sang Perdana Menteri, menyadari ketidaksiapan kalangan oposisi. Selain itu, Komisi Pemilu tidak mengikutsertakan 650 ribu pemilih baru dalam pemilu ini. Pemilih baru itu dianggap belum memenuhi syarat hingga Januari tahun depan meski mereka sudah terdaftar sejak April lalu. Kelompok oposisi menuduh Mahathir memajukan jadwal pemilu untuk menghindar dari munculnya pemilih baru yang umumnya dipercaya sebagai pendukung Anwar Ibrahim. Tapi tentu saja dr. M punya alasan sendiri kenapa ia mempercepat pemilu tujuh bulan dari jadwal aslinya—Juni 2000. "Kemarin saya memperoleh inspirasi," ujarnya enteng. Lim Kit Sang, anggota parlemen yang juga Ketua Partai Aksi Demokrasi, menyebut pemilu ini sebagai "tindakan putus asa." Membubarkan parlemen, menurut Lim, berarti menghambat kelompok oposisi memaksakan debat tentang kasus korupsi dalam pemerintahan Mahathir. Maka, pemilu kali ini dianggap sebagai pertarungan yang sangat sengit antara dua pribadi: Mahathir dan Anwar Ibrahim—sembari menjajal popularitas Mahathir. Anwar dijagokan oleh koalisi empat partai oposisi. Mahathir sendiri mengesampingkan rivalitas personal antara dirinya dan Anwar. "Saya tak peduli apakah saya populer atau tidak. Yang penting bagi saya adalah negeri ini memiliki pemerintahan yang baik," ujar Mahathir, yang menjamin akan bermain fair dalam pemilu ini. Sebagaimana biasanya, Mahathir memandang sebelah mata pada koalisi empat partai oposisi yang membentuk Front Alternatif untuk menghadapi koalisi Barisan Nasional. Mahathir sangat yakin Barisan Nasional akan memenangi dua pertiga mayoritas, sebagaimana yang diperoleh Barisan Nasional sejak kemerdekaan Malaysia dari Inggris pada 1957. Saat ini, Barisan Nasional menguasai 166 kursi dari 192 kursi di parlemen, sedangkan oposisi hanya menguasai 23 kursi. Koalisi partai oposisi tampaknya sulit memenangi kursi mayoritas, tapi mereka berharap dapat memperoleh 41 kursi tambahan agar mampu mendesakkan perubahan konstitusi yang selama ini hanya menguntungkan Barisan Nasional yang berkuasa. Namun, ini bukan pekerjaan gampang. Sebab, dukungan terhadap Mahathir masih cukup kuat karena prestasinya mengangkat ekonomi Malaysia. "Rakyat percaya kepada Mahathir karena ia mampu mengelola begitu banyak tantangan," ujar Marcus Low, seorang sales executive. Kepada TEMPO, Wan Azizah Ismail mengakui bahwa rakyat Malaysia selama ini menikmati kemajuan ekonomi. "Tapi kesenjangan sosial dan peristiwa politik yang tak adil akan membuat para pemilih kini berpikir untuk mencari alternatif," tuturnya optimistis. Raihul Fadjri (dari berbagai sumber)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161866099657



Luar Negeri 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.