Kritik 5/5

Sebelumnya Selanjutnya
text
i
SAYA, sebagai salah satu pemilih partai Anda (PAN), mengajukan beberapa kritik. Mudah-mudahan, sebagai pengkritik, saya tidak dianggap sebagai lawan. Dan penyumbang dana tak dianggap sebagai teman yang patut diberi fasilitas. Pengalaman menunjukkan bahwa teman yang bersedia menyumbangkan dana besar tidak selamanya berhati tulus. Anda, saudaraku, Amien Rais, cukup bijaksana ketika mengatakan Anda tidak lagi dapat berbicara atas nama Poros Tengah atau Fraksi Reformasi begitu Anda terpilih menjadi Ketua MPR. Anda selama ini juga masih dikenal sebagai tokoh reformasi, reformasi yang bukan hanya berupa enam pasal seperti yang sering diungkap dalam kampanye pemilu, tapi juga yang berarti menempatkan lembaga-lembaga tinggi pada fungsinya yang benar. Maka, pertanyaan timbul ketika Anda ikut aktif menyusun nama-nama menteri bersama Gus Dur. Adakah ketika itu Anda sebagai Ketua MPR, Ketua PAN, ataukah sebagai sahabat dekat Gus Dur? Rakyat banyak akan sangat sulit membedakan antara semua itu. Adakah Anda sendiri ingat akan kata-kata Anda di atas bahwa sudah sulit menampilkan diri Anda tanpa dikaitkan dengan posisi Anda selaku Ketua MPR? Sebagai Ketua MPR, tidak seyogianya Anda ikut aktif tawar-menawar dalam menyusun kabinet, apalagi sudah siap dengan membawa nama-nama calon menteri dalam sebuah kabinet presidensial. Hal serupa berlaku bagi Akbar Tandjung, yang kebetulan juga Ketua DPR. Peristiwa ini selanjutnya akan mempersulit MPR dan DPR sebagai lembaga pengontrol pemerintah karena ketua-ketuanya ikut terlibat dalam proses tawar-menawar penyusunan kabinet. Juga dengan komposisi kabinet seperti yang sekarang ini, diragukan efektivitas DPR dan MPR sebagai lembaga pengontrol pemerintah. PDI Perjuangan akan segan terhadap pemerintah karena ketua umumnya menjadi wakil presiden dan beberapa ketuanya menjadi menteri. Demikian pula PKB, PPP, PBB, dan Partai Keadilan. Ketua-ketuanya langsung menjadi menteri. Mereka tentu tidak ingin ”menepuk air di dulang tepercik muka sendiri”. Juga Golkar dan PAN, yang ketua-ketuanya ikut dalam menyusun kabinet dan menjabat sebagai Ketua MPR dan DPR. Jika demikian, mana reformasi yang pernah Anda janjikan? Jangan-jangan kabinet ini akan menjadi kabinet status quo berbaju reformasi, kecuali dalam proses pemilihan presidennya. Pada ujungnya yang akan terdengar adalah retorika lama: bukankah pemerintah telah berhasil memulihkan kondisi ekonomi, meningkatkan GNP, menurunkan inflasi, dan sebagainya? Pada ujungnya pun terbukti benar dugaan bahwa partai-partai peserta pemilu yang menjanjikan reformasi ternyata juga hanya mengejar posisi dalam kabinet bagi ketua-ketua partainya. Saya berharap MPR dan DPR membuktikan bahwa kekhawatiran saya tidak benar. Kritik yang kedua mengenai kemarahan Anda kepada Duta Besar AS, yang Anda tuduh mendikte pemerintah, setelah Anda mendapat laporan dari Bambang Sudibyo, orang Anda yang Anda tempatkan sebagai Menteri Keuangan. Terlepas dari benar tidaknya laporan itu, agaknya Anda lupa bahwa setelah menjadi menteri, Bambang Sudibyo bukan lagi bawahan Anda. Ia adalah bawahan Presiden, sehingga lebih tepat jika Presiden yang bereaksi keras terhadap tekanan Duta Besar AS tersebut. Reaksi Anda kemudian menjadi masalah karena baik Alwi Shihab maupun Mar’ie Muhammad membantah adanya tekanan Duta Besar AS kepada Menteri Keuangan RI. Kritik ini saya sampaikan sebagai manifestasi hak saya selaku konstituen Anda yang masih mengharapkan Anda tetap konsisten dalam memimpin reformasi. KARTONO MOHAMAD Jakarta

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836833939



Kritik 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.