Luar Negeri 2/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Jatuhnya sang presiden

Setelah presiden brasil, kini presiden venezuela harus berhadapan dengan pengadilan. ia didakwa korupsi us$ 17 miliar.

i
SETELAH Brasil, kini Venezuela. Presiden Carlos Andres Perez Rodriguez, dalam beberapa hari ini, bakal duduk sebagai terdakwa di Pengadilan Tinggi Caracas, dengan dakwaan menggelapkan uang US$ 17 miliar. Padahal, pekan lalu, Perez sudah berupaya membersihkan namanya: selama setengah jam, ia berpidato di televisi. Ia pun mengingatkan rakyatnya bahwa kemakmuran Venezuela adalah berkat dia. Ia khawatir kemajuan politik dan ekonomi yang sudah dicapainya bakal mengalami kemunduran bila sebuah konspirasi politik yang menjatuhkan namanya itu berhasil. Pidato itu rupanya tenggelam oleh letusan kembang api serta suara peluit dan klakson mobil yang diperdengarkan massa yang anti-Perez, yang memenuhi jalan raya menuju Gedung Pengadilan Caracas, malam itu. Sejumlah spanduk yang antara lain bertuliskan ''Penjara bagi Tikus Besar Perez'' dikibarkan massa yang ribuan jumlahnya. Hari itu juga kabinet membubarkan diri. Skandal korupsi atas diri Perez, 70 tahun, terbongkar bersamaan waktunya dengan kemenangan Aristobolo Isturiz dalam pemilihan Wali Kota Caracas. Isturiz mengalahkan calon dari kelompok politikus elite pendukung Perez yang terkenal korup. Kemenangan Isturiz itu dipengaruhi oleh peristiwa tergulingnya Presiden Brasil Fernando Collor de Mello gara-gara korupsi, Desember 1992. ''Ini pertanda kebangkitan demokrasi,'' kata Isturiz. Sejak itu , penyelidikan terhadap kasus-kasus korupsi pun makin berani. Padahal, sebelumnya, penyelidikan itu tak berhasil menembus barikade politikus elite. Dan buntutnya, terungkaplah skandal penggelapan uang yang dilakukan Perez. Ceritanya, Perez memerintahkan menteri dalam negerinya agar meminta dana sebesar US$ 17 juta sebagai dana keamanan Venezuela, tahun 1989. Ternyata, uang macet di meja staf Perez, yaitu Reinaldo Figueredo. Meskipun Perez menyatakan tak tahu menahu soal itu, jaksa penuntut anti-korupsi menuduh bahwa uang itu masuk ke kantong Perez. ''Bagaimana mungkin ia tak tahu uang sebanyak itu lewat di meja stafnya,'' kata Ramon Escovar Salom, sang jaksa. Belakangan, setelah pihak kejaksaan mengusut kekayaan Cecilia Matos, istri muda Perez, ditemukan bukti bahwa uang itu diputar untuk bermain valuta asing, sehingga Perez untung sampai US$ 10 juta. Sikap keras Perez yang menolak tuduhan itu menyebabkan jaksa agung Venezuela mengundurkan diri. Demonstrasi anti-Perez pun mulai menjalar. Kantor organisasi sosial milik Cecilia Matos dibom, dan dua kali terjadi percobaan kudeta militer. Partai Aksi Demokratik, partainya Perez, pun meminta Perez mengundurkan diri. Kasus korupsi di Venezuela tak sempat terungkap karena tertutup oleh kemakmuran ekonomi negeri itu: penjualan minyaknya melimpah pada tahun 1970-an. Baru setelah harga minyak anjlok di tahun 1980 an, negara yang menggantungkan 70% anggarannya pada penjualan minyak ke AS ini mengalami krisis ekonomi. Sejak itulah Venezuela yang berpenduduk 20 juta jiwa ini mulai mengutik-ngutik kekayaan para pejabat tinggi yang korup. DP

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836258832



Luar Negeri 2/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.