Kriminalitas 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Menguntit Kedelai Bercampur Ketamin

i

Bermula dari informasi Drug Enforcement Administration (DEA) Amerika Serikat, polisi berhasil menyita 148 kilogram sabu-sabu senilai Rp 265 miliar dan 280 kilogram ketamin seharga Rp 165 miliar.

Seperti sebuah adegan di film Hollywood. Siang itu di kawasan industri Cikande, Banten, puluhan polisi tampak merapat ke sebuah bangunan senyap, bekas pabrik kabel PT Sumaco.

Mereka terbagi menjadi empat tim. Sebagian mencoba masuk dengan memanjat pagar tembok setinggi 3 meter yang ada bagian belakang, samping kiri dan kanan pabrik yang luasnya tiga hektare.


Tim lain masuk lewat bagian depan, dengan terlebih dahulu melumpuhkan dua orang petugas keamanan pabrik yang sedang berjaga. Mulanya, Dani dan Mamat, petugas keamanan pabrik, sempat melawan sebelum mengetahui siapa gerombolan yang tiba-tiba menyergapnya. ”Kami dikira perampok,” kata Wakil Direktur IV Narkoba, Komisaris Besar Indradi Thanos, yang berada di lokasi saat penggerebekan berlangsung.

161830782943

Setelah berada di dalam lokasi pabrik, polisi langsung merangsek ke gedung tempat pembuatan pil ekstasi dan sabu-sabu yang ada di bagian selatan. Di dalam gedung utama seluas 4.000 meter persegi itu terdapat banyak ruangan yang dibatasi penyekat dari bahan asbes.

Ruangan di sisi timur, misalnya, merupakan tempat penyimpanan bahan kimia yang dimasukkan ke drum dan jeriken. Ruang tengah sebagai lokasi mesin pencetak ekstasi. Adapun bagian belakang bangunan itu digunakan sebagai tempat mencetak sabu-sabu.

Polisi menemukan Garnick Nicholas, 61 tahun, lelaki asal Belanda, dan Sergi Atlovi, 42 tahun, warga negara Prancis, di ruang tengah. Saat itu keduanya tengah bekerja memproduksi pil ekstasi. ”Saat kami masuk, mesin dalam keadaan hidup,” kata Komisaris Besar Indradi Thanos.

Ketika polisi merangsek lebih ke dalam, di bagian belakang pabrik mereka menemukan pintu rahasia. Pintu itu tertutup lemari besi yang lebar dan tingginya 3 meter. Ketika lemari itu digeser, terlihatlah sebuah ruangan tempat lima orang warga Cina tengah meracik sabu-sabu. ”Mereka juga ditangkap tanpa perlawanan,” ujar Indradi.

Wajah kelima warga asing itu terlihat ketakutan. Mereka terperanjat mendengar suara rentetan tembakan selama lima menit. Tembakan dilepaskan petugas di pekarangan pabrik, karena ada pegawai pabrik yang berusaha kabur. ”Tak ada dari para tersangka yang terluka,” kata Indradi. Penggerebekan itu berlangsung kurang dari satu jam. Dari tempat itu polisi mencokok 15 orang.

Di lokasi lain, tujuh polisi berusaha menyergap Benny Sudrajat, pemilik pabrik ekstasi dan sabu-sabu itu. Mereka menggerebek tempat tinggal Benny di kamar 2603 Apartemen Tropik, Jalan S. Parman, Jakarta Barat. Tapi kamar itu kosong.

Menggunakan alat pelacak lokasi (GPS/Global Positioning System), polisi bergegas meluncur ke arah Bandara Soekarno-Hatta setelah sinyal menunjukkan Benny berada di kawasan Bandara. Akhirnya Benny dibekuk saat duduk bersama istrinya, Lee Wen Wu, asal Taiwan, di ruang tunggu terminal 2F.

”Ada apa ini, saya dan istri mau berlibur ke Hong Kong,” Benny yang kaget sempat bertanya. Tapi bapak lima anak ini tak lagi banyak omong ketika tahu yang menyergapnya adalah polisi. Lelaki keturunan Cina ini langsung digelandang ke Markas Besar Polisi. Di sana Benny baru tahu pabrik ekstasinya di Cikande sudah digerebek.

Jumat, 11 November lalu itu rupanya benar-benar menjadi hari nahas bagi Benny. Selain pabrik besar di Cikande, pada hari yang sama tiga gudang lain miliknya ikut disegel polisi karena dijadikan tempat menyimpan alat dan bahan baku ekstasi.

Terbongkarnya sindikat Benny, pemilik pabrik ekstasi terbesar di Asia Tenggara, bermula dari informasi DEA kepada Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional, Jenderal Sutanto, yang sekarang menjadi Kepala Polri. Pada 23 Mei 2005, disebutkan mesin-mesin ekstasi dan sabu-sabu dari Taiwan sudah masuk ke Indonesia melalui pelabuhan Tanjung Priok.

Dari informasi itu, Sutanto membentuk tim khusus bekerja sama dengan DEA, polisi Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan Bea Cukai. Perjalanan mesin yang baru masuk ke pelabuhan itu diawasi. Mula-mula mesin disimpan di sebuah gudang di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Kemudian dipindah lagi ke gudang di Muara Baru, Jakarta Utara. Sebulan berada di sana, mesin akhirnya dipindahkan ke lokasi bekas pabrik kabel PT Sumaco.

Di sekitar kawasan itu beberapa polisi kemudian ditempatkan untuk melakukan pengintaian. ”Kami harus indekos di rumah penduduk selama masa pengintaian sekitar tujuh bulan,” kata seorang polisi. Agar penduduk tak curiga, mereka mengaku sebagai mahasiswa yang sedang melakukan praktek kerja lapangan, ”Ada juga polisi yang harus menyamar sebagai tukang ojek,” ujar polisi yang tak mau disebut identitasnya.

Selain di kawasan pabrik, pengintaian dilakukan juga di Pelabuhan Tanjung Priok. Pengintaian membuahkan hasil. Pada 29 Juli 2005, polisi mencurigai kapal Pancaran Sinar yang sedang membongkar muatan. Dari lambung kapal itu dikeluarkan 400 karung, masing-masing seberat 50 kilogram. Menurut catatan kapal, karung-karung itu berisi kacang kedelai.

Tak percaya begitu saja, tim Bea Cukai memeriksa isi karung satu per satu dan menemukan 28 karung berisi serbuk putih. Serbuk itu diambil dan diperiksa di Laboratorium Forensik Markas Besar Kepolisian. Hasil tes menunjukkan serbuk putih itu ketamin, bahan campuran untuk membuat sabu-sabu dan ekstasi. Tapi petugas membiarkan karung-karung itu keluar dari pelabuhan. ”Kalau saat itu langsung bertindak, kami hanya bisa menyita barangnya, tanpa bisa menangkap sindikatnya,” kata Kepala Polisi Jenderal Sutanto.

Diam-diam perjalanan kedelai dan ketamin itu terus diikuti. Pada 4 Agustus, barang-barang itu diangkut dengan mobil boks ke sebuah gudang di Jatake kilometer 22, Tangerang, Banten. Setelah 19 hari, barang-barang itu dipindahkan ke gudang lain di Jalan Raya Industri II, jaraknya sekitar 1 kilometer dari gudang pertama.

”Kami terus menguntit kedelai dan ketamin itu,” kata seorang polisi yang ikut dalam operasi pengintaian. Agar tak mengundang kecurigaan, di kawasan pergudangan Jatake beberapa polisi menyamar sebagai pegawai gudang.

Kamis pagi, 29 September 2005, sebuah mobil boks terlihat keluar dari gudang di Jalan Raya Industri menuju ke bekas pabrik kabel PT Sumaco di Cikande, Banten. Memasuki bulan November, penyelidikan lebih diintensifkan. Mobil dan truk yang keluar-masuk ke pabrik di Cikande selalu diawasi.

Akhirnya, Jumat siang itu, polisi melakukan penggerebekan. Di sana polisi berhasil menyita 148 kilogram sabu-sabu senilai US$ 26,5 juta atau setara dengan Rp 265 miliar, dan ketamin 280 kilogram seharga US$ 16,5 juta atau sekitar Rp 165 miliar. Ikut disegel sejumlah mesin pembuat ekstasi dan sabu-sabu.

Para tersangka kini ditahan di gedung Badan Narkotika Nasional. ”Untuk sementara mereka ditahan di sini sampai proses pemeriksaan selesai,” kata salah seorang penyidik. Jika proses pembuatan berita acara pemeriksaan telah selesai, mereka akan dikirim ke ruang tahanan Markas Besar Kepolisian.

Eni Saeni, Joniansyah (Tangerang), Mawar Kusuma


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830782943



Kriminalitas 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.