Komputer 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Komputer super menanti ajal

Kalau upaya eugene d.brooks iii ahli dari as berhasil, super komputer konvensional seperti buatan cray akan mubazir. ia sedang membuat resep memanfaatkan micro processor sebagai komputer super.

i
KALAU upaya Eugene D.Brooks III berhasil, super komputer konvensional seperti buatan Cray akan segera ajal. Pasalnya, pakar di laboratorium beken di Livermole, AS, ini sedang membuat resep memanfaatkan microprocessor (otak PC) sebagai komputer super. Sebagai pakar fisika kuantum lulusan California Institute of Technology, peneliti berusia 34 tahun ini memang sedang merasa gemas. Sebab, setiap kali ia memakai komputer mini untuk mengolah penelitiannya di universitas, ia harus menunggu berhari-hari, bahkan sebulan untuk mendapatkan jawaban. Maklum persoalan fisika kuantum memang menggunakan rumus yang pelik dan data yang berjubel. Wajar kalau Brooks dan rekan-rekannya merasa perlu mendapatkan komputer yang lebih cepat bekerjanya. Komputer cepat ini sebenarnya sudah ada. Yaitu yang sering disebut sebagai komputer super, yang kini dibuat oleh Cray di Amerika Serikat dan Hitachi, NEC, serta Fujitsu di Jepang. Hanya saja harganya memang audzubillah, 35 sampai 100 milyar rupiah sebuahnya. Pilihan lain adalah menggunakan komputer paralel yang lebih murah. Namun, karena komputer ini baru dikembangkan, perangkat lunaknya belum banyak tersedia. Dan membuat perangkat lunak untuk persoalan rumit seperti dalam fisika kuantum bukanlah pekerjaan mudah dikerjakan dalam beberapa hari. Sebab, seseorang harus menguasai bahasa komputer itu dahulu sebelum dapat membuat program. Maka, Brooks mencoba kiat lain. Ia mencoba membuat program yang, secara otomatis, dapat mengalihbahasakan program-program pada komputer konvensional menjadi program untuk komputer paralel. Dan kiat ini tampaknya dianggap cukup masuk akal. Terbukti laboratorium terkenal Lawrence Livermore National Laboratories menyumbangkan 10 juta dolar AS bagi Brooks untuk menyelesaikan programnya dalam tiga tahun. Pendukung kiat Brooks ternyata bukan hanya di Amerika Serikat. Pemerintah Jepang sudah memutuskan untuk memfokuskan upaya pengembangan teknologi komputernya pada arah yang sama. Padahal, sembilan tahun silam Jepang memutuskan memfokuskan penelitiannya pada artificial intelligence (AI). Namun, kemacetan dalam pengembangan AI rupanya membuat para pakar Negeri Samurai ini berpikir lain. Apalagi untuk AI memang diperlukan komputer yang mampu bekerja sangat cepat seperti ditawarkan komputer paralel. Kecepatan ini sudah dibuktikan oleh Brooks dan rekan-rekannya. Dengan memaralelkan 64 microprocessor, mereka berhasil mengolah problem rumit dalam waktu kurang dari satu hari. Padahal, dengan komputer mini konvensional diperlukan waktu ratusan jam. Keberhasilan ini membuat Brooks semakin yakin terhadap keandalan metode komputer paralel. Pada seminar-seminar ilmiah ia meramalkan nasib sial akan menimpa superkomputer. "Tak ada yang mampu bertahan terhadap hantaman mikro si pembunuh," katanya dengan yakin. Dan serangan itu sudah dimulai. "Kami bukan berbicara tentang 10 tahun atau lima tahun ke depan, melainkan dalam beberapa tahun ini," kata Brooks. Sebagai alasan, ia menunjuk pada semakin cepatnya waktu pengolahan oleh microprocessor yang menggunakan perangkat lunak terbaru. Misalnya saja kecepatan microprocessor IBM RISC/6000 -- yang menggunakan penyederhanaan instruksi dalam programnya -- terbukti mampu menandingi kecepatan komputer super Cray X/MP dalam mengolah beberapa program tertentu. Banyak pakar yang sependapat, "Saya kira superkomputer konvensional sudah menjadi dinosaurus," kata Gordon Bell, perancang komputer VAX di Digital Equipment. "Orang-orang mikro akan membunuh mereka," tambahnya. Tapi banyak pula yang tak setuju. Terutama mereka yang meragukan kecepatan pengembangan komputer paralel. Bahkan rekan Brooks di Livermore yang menangani komputer super Cray, Dieter Fuss, merasa yakin superkomputer konvensional masih akan bertahan lama. "Terutama untuk mengolah masalah ilmiah yang besar dan secara matematika tergolong rumit," katanya. Sebagian pakar lagi mengambil sikap yang moderat. "Kalau saya adalah produsen superkomputer, saya tak akan menutup usaha dulu," kata Omri Serlin, pengamat industri yang mengikuti perkembangan superkomputer dari Los Altos, California. "Pada akhirnya Brooks akan terbukti benar, tapi persoalannya berapa cepat hal ini akan terbukti," tambahnya. Bagi Brooks, hambatan utama pengembangan komputer paralel datang dari para pakar yang dibesarkan dalam lingkungan komputer konvensional. "Mereka tentu tak ingin menghadapi perubahan drastis," kata Brooks, karena itu berarti investasi ilmu mereka selama ini harus dikaji kembali. Dan pengkajian ini bukannya sederhana. Sebab, antara komputer paralel sendiri terdapat perbedaan. Pada beberapa komputer paralel, misalnya, semua proses pengolahan dikontrol oleh satu instruksi. Sedangkan pada komputer yang dipakal Brooks dengan menggunakan belasan microprocessor Motorola 88000 -- setiap processor-nya dapat diberi penugasan yang berbeda. Ini tampaknya memang gejala umum dalam pengembangan teknologi komputer. Lengah sebentar, ilmu langsung tertinggal. Bambang Harymurti

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836404760



Komputer 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.