Hukum 6/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Balada utang si tunawisma

Pn bogor memenangkan raden suhara endon yang kehilangan rumah dan pabriknya di bogor sejak 19 tahun lalu. tapi sebagian obyek sengketa sudah pindah ta ngan. bermula utang suhara pada geonoeng rp 5 juta.

i
SUDAH dua windu lebih, Raden Suhara Endon, 72 tahun, hidup bagaikan "malam berselimut embun, siang bertudung awan". Alias tunawisma. Padanal, kakek tua renta itu dulu cukup berada, memiliki sebuah rumah di atas tanah seluas 4.372 m2 dan pabrik tegel di tanah seluas 2.169 m2 di bilangan Bondongan, Bogor. Semuanya itu ludes hanya gara-gara ia pada 1971 meminjam uang Rp 5 juta dari Goenoeng Harahap. Setelah itu bisnis Suhara hancur. Ia bahkan stres berat sehingga dua tahun dirawat di Rumah Sakit Jiwa di Bandung. Tapi keadilan ternyata masih ada. Pengadilan Negeri Bogor baru-baru ini menghukum enam ahli waris Goenoeng Harahap -- si pemberi pinjaman dahulu -- untuk membayar ganti rugi sekitar Rp 1,7 milyar kepada Suhara. Sebab, "Goenoeng (almarhum) meminjamkan uang tanpa peri kemanusiaan, dengan memanfaatkan posisi Suhara yang sedang sulit," kata Ketua Majelis Hakim, A. Rasyid Noor. Kecuali itu, hakim juga mewajibkan tergugat mengembalikan rumah penggugat berikut pabrik itu. Vonis menyegarkan itu segera dikabarkan Pengacara Indra Cahaya kepada kliennya, Suhara, yang kini bermukim di tanah leluhurnya di Tasikmalaya. "Allah swt. mahaadil. Kezaliman akan hancur oleh kebenaran sejati," gumam Suhara, yang hidupnya sehari-hari kini ditopang sanak saudaranya di sana. Hanya saja, hingga pekan ini ahli waris mendiang Goenoeng, selain menyatakan banding, juga tetap menguasai rumah bertingkat dua itu. Bahkan pabrik tegel itu pun kini sudah beralih ke orang lain, Agus Suhardja, yang mengganti lokasi itu menjadi pabrik penggorengan dan penggilingan kopi. Akankah Suhara mereguk kembali sisa kejayaan masa lalunya? Pada 1971, Suhara dikenal sebagai bos Pabrik Tegel Gunung Salak dan kontraktor di Bogor. Suatu hari, ia ditawari seorang pengusaha bernama Anggoro untuk ikut menggarap proyek perluasan lapangan udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Tapi syaratnya, Suhara harus menyediakan uang pelicin Rp 5 juta. Karena tak punya uang tunai, ketika itu, ia pun meminjam kepada Letnan Kolonel (Purn.) Goenoeng Harahap. Goenoeng memberikan pinjaman Rp 5 juta, setelah dipotong uang muka 10%, dengan jaminan rumah dan pabrik tadi -- yang nilainya ditaksir sampai Rp 150 juta. Tapi urusan itu juga dibawa Goenoeng ke Mohamad Adam, wakil notaris di Bogor. Maka, pada 27 April 1971, dibuatlah, anehnya, akta jual beli atas rumah tinggal dan pabrik itu. Menurut Indra Cahaya, kedua akta itu sebetulnya proforma saja. Sebab, pada hari itu juga dibuat akta untuk membeli kembali jaminan itu: jika Suhara sanggup membeli dalam jangka waktu 3 bulan, ia harus membayar seharga Rp 6,125 atau Rp 7,5 juta dalam waktu enam bulan. Sampai Januari 1972, Suhara sudah empat kali mengangsur utangnya (+ Rp 588 ribu per bulan). Tapi setelah itu, Goenoeng semakin sulit ditemui -- kadang pergi ke luar kota. Padahal, Suhara bermaksud melunasi sisa utangnya. Pada Juli 1972, muncul surat dari Goenoeng, yang mengatakan bahwa utang Suhara menjadi Rp 10,6 juta plus bunga Rp 4 juta. Tentu saja Suhara kaget. Sementara itu, Anggoro -- yang sudah mengantongi uang Rp 5 juta dari Suhara -- lenyap tak tentu rimbanya. Puncaknya, November 1972, segerombolan orang yang ditugasi Goenoeng, mengusir secara paksa Suhara dari rumah itu. Hanya dengan pakaian seadanya, Suhara dan dua anak gadisnya terpaksa hengkang. Mereka akhirnya mengontrak sebuah rumah kecil di daerah Gadog, Bogor. Kejadian itu rupanya membuat Suhara jatuh mental. Selama dua tahun, ia menjalani perawatan di RS Jiwa di Bandung. Toh setelah Suhara sembuh, urusan hartanya tak juga selesai. Sebab, kendati Goenoeng meninggal pada 28 Desember 1982, keenam anaknya tetap mempertahankan bangunan tersebut. Bahkan mereka sudah membaliknamakan sertifikat tanahnya. Begitu juga pabrik tegel itu, pada 1984, mereka jual kepada Agus Suhardja -- hanya seharga Rp 24 juta. Berbagai upaya Suhara, sampai menggunakan jasa tiga pengacara berturutturut, tak membuahkan hasil. Akhirnya, melalui Indra Cahaya, pada Juli silam, Suhara menuntut ganti rugi sekitar Rp 8,2 milyar. Ia juga menuntut agar tergugat mengosongkan dan mengembalikan kedua bangunan tadi. Ternyata, pada 17 Maret 1990, majelis hakim yang diketuai A. Rasyid Noor memutuskan bahwa hubungan antara Suhara dan Goenoeng adalah utang-piutang, bukan jual beli. Bahkan majelis menilai, angsuran yang pernah dibayar Suhara itu ternyata diberlakukan Goenoeng sebagai bunga pinjaman terselubung. Berdasarkan itu, majelis juga menyatakan sertifikat tanah jaminan itu menjadi tak berkekuatan hukum. Atas keputusan itu, kuasa hukum ahli waris Goenoeng, Anni Safaat, menyatakan naik banding. "Aktanya itu memang jual beli. Hanya saja, atas dasar kebijaksanaan Goenoeng, Suhara diperbolehkan membeli kembali. Tapi kesempatan itu tak pernah dimanfaatkannya," kata Anni. Karena itu, sambungnya, sesuai dengan bunyi akta, kedua obyek perkara itu, ya, otomatis menjadi milik Goenoeng. Dan yang perlu diingat, masih menurut Anni, kesemua akta itu dibuat tanpa paksaan. Artinya, memang berdasarkan kesepakatan Suhara sejak semula. Sikap itu juga ditunjukkan Suhara sejak mencicil utang itu sampai kemudian tak mampu lagi. Bahkan sewaktu dua bangunan itu beralih ke tangan Goenoeng, kata Anni, Suhara pun membuat surat pernyataan terima kasih. Nah, "Kenapa setelah belasan tahun berjalan, kok baru sekarang menggugat dengan alasan tertipu," ujar Anni, yang mengaku masih terhitung sahabat Goenoeng. Benarkah argumentasi itu? Sayangnya, "notaris" Mohamad Adam lebih memilih diam. "No comment. Nanti sajalah," ujarnya. Sementara itu, Indra Cahaya tetap yakin kliennya berada di pihak yang benar. "Bukan maksud saya mendahului keputusan pengadilan tinggi. Tapi, berdasarkan bukti-bukti yang ada, saya optimistis keputusan itu akan dikukuhkan pengadilan banding." Happy S., Riza Sofyat, dan Ahmad Taufik (Bandung)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836684383



Hukum 6/6

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.