Ekonomi dan Bisnis 6/12

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ya Gresik, ya Indorayon

3 bumn siap meramaikan pasar modal, masing-masing: pt semen gresik, semen padang dan semen tonasa. sementara puluhan perusahaan swasta siap menyusul terjun di bursa menangguk modal trilyunan rupiah.

i
MEI sampai Juli adalah masa-masa orang memecahkan tabungan. Lebaran baru berlalu, tapi musim naik haji sudah di ambang pintu. Kemudian, liburan panjang. Setelah itu, para orangtua harus menyediakan uang pendaftaran murid baru, serta membeli perlengkapan sekolah. Tapi pengeluaran besar yang beruntun itu tidak masuk hitungan berbagai perusahaan, yang hari-hari ini akan menangguk modal di bursa saham. Padahal, jumlah modal itu mencapai trilyunan rupiah. Ada tiga BUMN yang sudah pasti akan go public, yakni PT Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa. Agaknya, giliran pertama jatuh pada PT Semen Gresik. Suatu tim yang dipimpin Dirut Anang Fuad Rivai, kabarnya, tengah mematangkan proses emisi itu. Dan public expose-nya, sekitar 21 Mei 1990. Penjualan saham Semen Gresik akan dijamin oleh sejumlah perusahaan sekuritas di bawah pimpinan PT Indovest. "Pemerintah menghendaki harga saham BUMN dibikin dengan PER serendah mungkin," kata seorang eksekutif dari perusahaan sekuritas. Kabarnya, Gresik akan menjual saham sebanyak 25 juta lembar, dengan harga sekitar Rp 12.000. Itu berarti, jumlah dana yang akan ditimbanya bisa mencapai Rp 300 milyar. Sementara itu, Direksi Semen Padang mengharapkan izin go public sudah akan keluar sebelum 30 Juni 1990. Menurut Direktur Keuangan PT Semen Padang Rustam Gafur, jumlah saham yang akan dilepas sekitar 12 juta lembar, dana yang dibutuhkan sekitar Rp 140 milyar. Hanya saham PT Semen Tonasa yang belum jelas jumlah dan nilainya. Namun, agaknya, BUMN yang juga ditugasi untuk memperbesar kapasitas produksinya itu akan mereguk dana yang cukup banyak di bursa. Sementara ini, sejumlah perusahaan swasta lebih dulu berlomba ke sana. Masih ingat kan, kisruh pinus di Sumatera Utara? Nah, perusahaan yang berada di pusat kisruh itu, yang bernama PT Inti Indorayon Utama, kini akan go public. Sahamnya bernilai hampir Rp 268 milyar. Menurut Yannes Naibaho, Direktur Eksekutif Danareksa -- yang akan bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi -- Indorayon akan menjual 27,2 juta lembar saham pada harga Rp 9.850 per lembar. Pekan silam, PT Danareksa juga telah tampil sebagai penjamin pelaksana untuk emisi saham PT Cipendawa Farm Enterprise. Perusahaan pembibitan ayam ras, yang kepunyaan pengusaha terkenal Probosutedjo, sejak 7 Mei lalu menjual saham bernilai Rp 17,7 milyar. Tak kurang dari 11 perusahaan sekuritas, termasuk perusahaan baru, seperti PT Bunamas Investindo, PT Carr Dharmala Securities, ikut menjamin sukses pemasaran saham Cipendawa. Padahal, saham yang ditawarkan Cipendawa hanya tiga juta lembar. Harganya relatif murah -- Rp 5.900 per lembar -- tetapi PER (price earning ratio) untuk saham itu cukup berani, yakni di atas 20 kali perkiraan laba per saham untuk tahun 1990. "Wajar dong, karena tahun 1990 ini sudah hampir berjalan separuh," ujar Yannes Naibaho. Pada tahun 1987, Cipendawa mencatat penjualan bersih Rp 16,8 milyar, tahun 1988 merosot jadi Rp 14,3 milyar, tapi meningkat di tahun 1989, sampai sekitar Rp 16,2 milyar. Tampaknya, manajemen Cipendawa semakin efisien. Buktinya, omset sembilan bulan pertama 1989 lebih rendah dari tahun 1987, namun laba tahun 1989 tercatat Rp 602 juta atau hampir 2,5 kali laba tahun 1987. Senin pekan ini, PT Trias Sentosa -- yang bergerak di industri kertas kemasan -- ini juga telah public expose. Saham yang dilepasnya sebanyak tiga juta lembar, senilai Rp 35,4 milyar. Menurut Presdir Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto, sekitar 65% hasil penjualan saham akan dipakai untuk melunasi utang. Produksi Trias Sentosa adalah kertas kaca pengemas, antara lain dimanfaatkan untuk pengemasan rokok, makanan (seperti Supermi, Chiki), deterjen (Rinso, So Klin), kertas kado, dan kaset. Menurut Supari D., Presdir PT Inter Pacific Finance Corporation yang bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi, boleh dikatakan bahwa TSP memonopoli kertas kaca. Didirikan pada 1980 oleh Ario Seto (perusahaan milik Sigit Harjojudanto), perusahaan itu berpatungan dengan PT Gudang Garam, dan PT Panggung Elektronik (agen tunggal JVC). Saingan TSP hanyalah PT Haga Karya dari Salim Group, yang berlokasi di Bogor. Tapi, permintaan terhadap kertas kaca tetap saja tinggi. Tak mengherankan jika dalam lima tahun terakhir saja, omset Trias Sentosa naik dari Rp 5,6 milyar menjadi Rp 23,8 milyar. Labanya yang tahun 1989 sekitar Rp 2,7 milyar, tahun ini diharapkan melonjak jadi Rp 10,8 milyar. Wajar bila PT Inter Pacific yakin bahwa saham Trias Sentosa akan laris seperti saham PDFCI, sehingga pemasaran di pasar perdana cuma dibatasi tiga hari, 29-31 Mei ini. PT Aluminido Perkasa, sebuah BUMD milik Pemda DKI, akan maju dengan menawarkan saham sebanyak 1,5 juta, seharga Rp 9.800 per lembar. Pekan ini juga, Bank Umum Nasional (BUN), PT Prima Alloy Steel Nusantara juga disebut-sebut akan melakukan public expose. Sementara itu, pabrik trafo PT Trafindo Perkasa, sebuah pabrik makanan kering PT Mayora, pabrik benang Indo Rama, dan perusahaan kayu PT Sumatra Timber Utama Damai juga akan segera menjual saham. Para penjamin emisi optimistis bahwa daya beli masyarakat masih tinggi. Indikasinya bisa terlihat pada penjualan saham PDFCI bulan lalu. Jumlah saham yang dijual cuma lima juta lembar, tapi jumlah saham yang dipesan mencapai tiga milyar lembar atau 600 X. Direktur Eksekutif PT Danareksa Yannes Naibaho mengakui bahwa penjualan saham Inco agak di luar dugaan. Saham itu dijual hampir 50 juta lembar, bernilai Rp 486,88 milyar. Tapi pesanan lokal tak mencapai 51%. "Inco kan perusahaan modal asing. Rupanya, pembeli lokal khawatir bahwa di pasar sekunder nanti tak ada asing lagi yang boleh beli," kata Yannes. Kendati pesanan asing melampaui 49%, para underwriter hanya memberikan 37% kepada mereka. Dengan demikian, masih ada peluang untuk bermain harga saham Inco di pasar sekunder, yang dimulai Rabu pekan ini. Max Wangkar, Tommy Tamtomo, dan Bambang Aji

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836531333



Ekonomi dan Bisnis 6/12

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.