Kolom 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Polisi sahabat asongan

Untuk mempererat hubungan polisi dan masyarakat. di ja-teng bintara yang telah diseleksi dan memenu hi syarat,ditambah dengan kursus diterjunkan ke de sa-desa. proyek ini disebut babinkamtibdes.

i
TERBETIK berita, seorang pedagang asongan telah menyelamatkan nyawa seorang polisi, Kopral Satu Joko Pamuji. Pada malam itu, sang kopral sedang memeriksa dua orang yang dilaporkan melakukan pemerasan di stasiun kereta api Bojonegoro, Jawa Timur. Seorang pedagang asongan turut menonton pemeriksaan tersebut. Waktu sampai ke acara penggeledahan, tiba-tiba salah seorang yang sedang diperiksa itu mengeluarkan senjata api genggam dari balik bajunya, dan bersiap menembak sang kopral. Melihat gelagat yang gawat tersebut, pedagang asongan yang berinisial M.A. itu segera menabrak orang tersebut. Terjadilah pergumulan. Sekalipun senjata tersebut sempat meletus, jiwa sang kopral selamat, kendati harus dirawat juga. Saya tidak tahu persis, apakah berita tentang pedagang asongan di Jakarta yang diuber-uber polisi itu, menyusul proyek OEPH (Operasi Esok Penuh Harapan) Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Sudomo, sampai juga di telinga M.A. Kalau ia tidak tahu, cerita dari stasiun Bojonegoro itu merupakan cerita kepahlawanan dan solidaritas kemanusiaan. Tetapi andaikan sang pedagang asongan itu tahu betapa teman-temannya di Jakarta sedang diuber-uber polisi berpakaian preman, ceritanya pun akan menjadi lebih menarik. Dalam hubungan ini barangkali bisa dikatakan, M.A. telah kejangkitan "penyakit oknum" -- yang lagi mewabah di Indonesia, dalam artian positif. Maksudnya, pedagang asongan tersebut melihat Kopral Joko sebagai "oknum polisi", sehingga tidak bisa begitu saja dianggap mewakili korpsnya yang sedang sibuk memburu-buru pengasong di Ibu Kota. Maka, oknum polisi Joko harus ditolong. Dari Jawa Timur kita bergeser ke Jawa Tengah. Kepolisian Daerah Jawa Tengah cukup kreatif dengan mengembangkan berbagai gagasan yang cukup unik, seperti "Polisi Sahabat Anak", lomba "thek-thek", proyek polisi main ketoprak, dan yang terakhir membangun suatu model sheriff desa yang merupakan perwujudan konsep besar "Polisi Mitra Masyarakat". Karena polisi ingin menjadi sobat kental masyarakat yang demikian itu, siasat pun dipasang untuk membantu dan mendampingi masyarakat, hampir dalam segala urusan. Membetulkan antena, membantu dalam soal-soal perkawinan dan sengketa tanah, bahkan mencarikan dukun bayi. Pokoknya, apa saja. Untuk menciptakan model yang ingin saya sebut "mempolisi dengan tangan kosong" ini, Polda Ja-Teng pun menyeleksi para bintaranya yang memenuhi persyaratan untuk kemudian diberi kursus, dan akhirnya menerjunkan polisi berbaju sipil ini ke desa-desa. Proyek yang dinamakan Babinkamtibdes (Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Desa) ini dimulai sebagai proyek yang malu-malu, tapi ternyata sambutan masyarakat cukup antusias. Sekarang ini sudah ratusan bintara disebar ke pelosok desa di Jawa Tengah. Polisi memang merupakan badan yang boleh dibilang cukup "misterius", dan karena itu cukup sering kurang dimengerti oleh masyarakatnya sendiri. Salah satunya adalah sifat ambivalennya dalam berhadapan dengan masyarakat. Di satu pihak ia melayani dan melindungi masyarakat, di lain pihak masyarakat yang sama ini pula dijadikannya sasaran pendisiplinan. Babinkamtibdes tadi adalah simbol sisi yang satu, sedang borgol dan pistol untuk sisi yang lain. Belum lagi berbicara tentang masalah penggunaan kekuasaan. Masyarakat biasanya ingin melihat penggunaan kekuasaan oleh polisi sebagai sesuatu yang eksepsional, sedang bagi polisi sendiri penggunaannya lebih bersifat fungsional. Memang, mana ada polisi berhasil menangkap maling dengan cara merayu? Lalu sampai di mana batas-batas penggunaan kekuasaan yang "baik" dan "tidak baik" itu? Kompleksitas, kerumitan interaksi antara polisi dan masyarakatnya telah dicontohkan dalam bentuk cerita polisi dan asongan di stasiun Bojonegoro tersebut. Kerumitan tersebut sebetulnya merupakan bagian serta aspek saja dari pekerjaan polisi yang memang jauh dari simpel. Dibandingkan dengan polisi, barangkali menjadi militer boleh dibilang pekerjaan yang lebih sederhana: menghadapi musuh. Dan musuh harus dihancurkan. Titik. Tetapi sasaran kerja polisi sungguhlah tidak sederhana, karena pembinaan dan pendisiplinan harus berjalan bersama-sama, sedang yang menjadi sasaran adalah rakyat yang sama itu juga. Sungguh, asongan yang diuber-uber polisi dan asongan yang menyelamatkan jiwa polisi merupakan karikatur yang nyaris sempurna mengenai interaksi antara polisi dan masyarakatnya yang rumit itu. * Bekas Dekan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161832899663



Kolom 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.