Kriminalitas 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Uppindo Ceroboh, Negara Rugi

Pn jakarta pusat memvonis 4 tahun 6 bulan penjara dan denda rp 15 juta kepada hendrawan alias phien. hanya dengan sebuah sertifikat tanah palsu, ahien berhasil menipu pt uppindo sebesar rp 1 milyar.

i
KALAU mau menipu jangan tanggung-tanggung: "Nasihat" yang konon populer di dunia kejahatan itu, agaknya, "dipatuhi" Direktur PT Sonokeling, Hendrawan alias Ahien, 41 tahun. Hanya dengan sebuah sertifikat tanah palsu, menurut hakim, ia berhasil menipu lembaga keuangan bukan bank, PT Uppindo, sebesar Rp 1 milyar. Karena tak tanggung-tanggung itulah, Hendrawan, Rabu pekan lalu, divonis majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang diketuai Monang Siringoringo, 4 tahun 6 bulan penjara ditambah denda Rp 15 juta. Di samping itu, dia diwajibkan membayar uang pengganti Rp 1 milyar. Awal kejadiannya, menurut pengacara Hendrawan, John Waliry, dimulai ketika bintang film Roy Marten mempertemukan Hendrawan dengan pihak Uppindo 27 Agustus 1986. Ketika itu, Hendrawan bermaksud mengambil kredit Rp 1 milyar. Ia mengajukan permohonan kredit dengan agunan sertifikat tanah senilai Rp 2 milyar di Rawaterate, Jakarta Timur. Selain sertifikat tanah itu, ia juga menjaminkan LC PT Brain Forest Indonesia dan kayu senilai Rp 170 juta di gudang PT Sonokeling. Tiga bulan kemudian Uppindo mengabulkan kreditnya. Namun, April 1987, pihak Uppindo menyatakan sertifikat yang diagunkan Hendrawan palsu. "Jelas, itu kesalahan Uppindo, kenapa Uppindo tak meneliti sertifikat itu sebelum mengabulkan permohonan kredit," bela John Waliry. Karena itu, John berharap agar pihak Uppindo juga diusut dalam kasus tersebut. Sebenarnya, menurut John Waliry, kliennya justru menjadi korban penipuan dalam kasus tersehut. Semula tanah di daerah Rawaterate seluas 3 ha itu, cerita John, dibeli Hendrawan dari Fuad. Ketika dilakukan jual beli di depan notaris, Fuad membawa seorang wanita bernama Syamsidar, yang disuruh mengaku sebagai pemilik tanah itu dan bernama Zubaidah. Fuad sendiri mengaku sebagai menantu Zubaidah. Ketika itu, kata John, memang terjadi kejanggalan. Syamsidar, yang mengaku sebagai Zubaidah, di depan notaris mengatakan KTP-nya tertinggal. Fuad kemudian meminta uang Rp 50 ribu kepada Hendrawan untuk mengambil KTP Zubaidah "palsu" tersebut. Beberapa jam kemudian, Fuad datang kembali dengan membawa KTP atas nama Zubaidah. Jual beli pun berlangsung. Ternyata, Fuad dan komplotannya, menurut John, telah menipu Hendrawan. Hingga kini Fuad belum bisa dihadirkan sebagai saksi karena tak ketahuan jejaknya. "Mereka itu sindikat tanah," kata John. Uang kredit Uppindo, menurut Hendrawan, hanya diterimanya Rp 990 juta setelah dipotong provisi Rp 10 juta. Kredit Rp 990 juta itu dipakai Hendrawan untuk mengurus keperluan ekspor kayu dengan pihak Singapura sebesar Rp 250 juta. Sisanya, Rp 180 juta dipakai untuk membeli tanah di Bekasi, Rp 80 juta untuk membayar bunga tiga bulan ke Uppindo, Rp 40 juta untuk komisi Roy Marten, dan Rp 450 juta diberikan kepada Andi Zen Assegaf untuk biaya kerja sama mengelola hutan (HPH) seluas 65.000 ha di Kalimantan Timur. "Tak ada yang saya gunakan untuk keperluan pribadi," kata Hendrawan pada TEMPO. Tetapi saksi Andi Zain Assegaf, Direktur PT Tanah Grogot Kalimantan Timur, teman bisnis terdakwa dalam pengelolaan hutan tersebut, mengatakan bahwa terdakwa, yang seharusnya menyediakan dana Rp 600 juta sesuai dengan perjanjian, ternyata, hanya memberikan dana Rp 62 juta. Karena itu, menurut saksi, HPH-nya dicabut Departemen Kehutanan. Menurut sebuah sumber TEMPO, PT Sonokeling konon termasuk dalam daftar di Bank Indonesia sebagai perusahaan yang kreditnya macet. Tapi hal itu baru disadari pihak Uppindo setelah kreditnya cair. Kendati begitu, menurut Monang Siringoringo, tak tertutup kemungkinan menyeret Uppindo sebagai terdakwa. "Tergantung hasil pemeriksaan selanjutnya," katanya. Asal tahu saja, yang rugi negara juga. Sebab, lembaga keuangan itu 80% sahamnya dimiliki Bank Indonesia, sisanya milik sebuah lembaga keuangan Negeri Belanda. Dan siapa tahu pemberian kredit semacam itu tak hanya dilakukan Uppindo. Gatot Triyanto dan Tomy Tamtomo (Jakarta)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836268532



Kriminalitas 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.