Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Memadatkan kubangan kerbau

Pengerasan dan pemadatan jalan tanah dengan permazyme diujicobakan di lubuklancang, sum-sel. cocok untuk daerah di kompleks transmigrasi. kukuatan jalan permazyme, tak setinggi jalan aspal & semen.

i
JANGANKAN jalan tol, jalan aspal pun masih merupakan impian bagi transmigran Lubuklancang, Sumatera Selatan. Mereka cuma punya jalan tanah yang selalu menjadi "kubangan kerbau" di musim hujan. Kendati cuma 50 km dari Palembang, Lubuklancang merupakan sebuah sudut di Kabupaten Musi Banyuasin yang terasing. Namun, jalanan yang biasa sepi itu mendadak ramai Selasa pekan lalu. Rupanya, rombongan Menteri Transmigrasi Soegiarto datang ke sana, untuk meninjau sepotong jalan tanah sepanjang 3 km, terletak di antara Lubuklancang dan ibu kota kabupaten Kayuagung, yang tampak mulus, rata, dan mengeras bak semen. Itulah jalan hasil pemadatan dengan teknologi "baru", permazyme. Proyek itu merupakan uji coba penggunaan permazyme yang pertama kali di Indonesia, dikerjakan oleh PT Indocantra Parmazyme Pratama (IPP), perusahaan Jakarta yang menjadi agen tunggal permazyme. Sejauh ini, permazyme baru digunakan di Kanada, Amerika, dan Australia, untuk jalanan desa (rural road). Permazyme sendiri diproduksi oleh perusahaan Kanada, Enza International. "Ia bisa menggantikan semen dan kapur," ujar John Bownes, 48 tahun, ahli teknik jalan Enza yang diperbantukan di PT IPP. Dari segi ongkos, permazyme lebih murah. Dibanding campuran semen dan kapur, kata Bownes, biaya pengerasan dengan permazyme 60% lebih rendah. Permazyme konon lebih murah ketimbang aspal. Jika dilihat dari hasil uji coba di Lubuklancang, tampaknya teknik permazyme itu tak terlalu rumit. Mula-mula, badan jalan dibongkar sedalam 20 cm dengan menggunakan bajak putar (disc harrow). Lapisan tanah teratas itu dibolak-balik berulang-ulang, hingga hancur menjadi serpihan-serpihan kecil. Setelah melumat, lapisan tanah itu disemprot dengan air yang diambil dari mobil tanki. Penyemprotan air ini dilakukan sampai dengan kadar air tanah hingga mencapai 5% di atas kadar air optimum -- pada kondisi ini serpihan tanah belum melumpur. Setelah tanah itu "dibasuh", barulah larutan permazyme disemprotkan. Tentu saja, pemakaian permazyme ini ada takarannya. Setiap 1 liter larutan permazyme diencerkan dengan 150 liter air. Lantas larutan encer itu bisa digunakan mengeraskan tanah sebanyak 3,3 m3 -- setara dengan badan jalan sepanjang 5 m, tebal 20 cm, dan lebar 3,3 m. Harga parmazyme konon hampir Rp 20 ribu/liter. Setelah permazyme disemprotkan secara rata, penggilasan tanah pun dimulai. Berulang kali. Mula-mula digilas mesin roller lalu diratakan dengan grader. Lalu digilas lagi, diratakan kembali, sampai padat. Kemudian, tanah akan mengering setelah 24 jam. Namun, pemantapan struktur tanah itu baru akan tercapai setelah 72 jam. Memang, kekuatan jalan permazyme itu tak setinggi jalan aspal atau semen. Tapi untuk digunakan di daerah transmigran, menurut Direktur Teknik PT IPP, Sidharto Susilo, permazyme sudah cukup memadai. "Untuk dilalui bis atau kendaraan pengangkut sayur dan palawija, saya yakin dia mampu," ujarnya. Permazyme bisa menyulap tanah becek menjadi keras dan kaku. Bahan kimia ini memang punya bakat khusus untuk membuat butir-butir tanah berpegangan kuat. Caranya, dengan membongkar selubung lapisan air yang membungkus butir-butir tanah. Pada kondisi alamiah, selubung yang terbentuk karena sifat tegangan permukaan air itu menghalangi perekatan antarbutiran tanah, betapapun tanah digilas dengan roller raksasa. Tapi permazyme bisa menghancurkan selubung air itu, seperti deterjen memecah bola-bola air yang menempel di atas kaca, juga berperan sebagai "promotor" berlangsungnya perekatan. Namun, permazyme hanya efektif dipakai pada tanah yang mengandung fraksi liat (butiran yang diameternya kurang dari 2 mikron) setidaknya 12%. Persyaratan lain: fraksi debu (2-62 mikron) tak lebih dari 40%, dan fraksi pasir (lebih dari 62 mikron) tak melampaui 65%. Persyaratan teknis itu memang terpenuhi oleh tanah merah di daerah Lubuklancang. Tapi tak berarti bahwa jalan permazyme itu akan dibangun dalam skala besar. "Saya belum bisa memastikannya. Kita evaluasi dululah," ujar Menteri Soegiarto. Tapi dia mengaku senang dengan uji coba itu. "Kalau ada empat perusahaan berbuat serupa, berarti kami memperoleh 12 km," ujarnya berseloroh. Uji coba di Lubuklancang itu dimaksudkan memperoleh data yang menyangkut soal-soal pengerjaannya (workability). Pengujian di lab PU di Bandung menekankan pada aspek kelayakannya secara teknis, efek kekerasannya, misalnya, atau pengaruh musim kemarau dan penghujan. Tentang hasil uji cobanya, Kepala Litbang Jalan Departemen PU, Soedarmanto Darmonegoro, berkomentar, "Kami belum bisa menarik kesimpulan, pengujian baru saja berlangsung." Namun, Dr. Muhammad Wirahadikusumah, pakar biokimia ITB, agak skeptis. Permazyme sebagai enzim sintetis, menurut Muhammad, bersifat labil. "Peka terhadap pengaruh lingkungan, seperti cuaca atau keasaman tanah," ujarnya. Dia pun membayangkan bahwa perawatan jalan permazyme itu juga sulit. Gampang ataupun sulit, terobosan baru untuk membangun jalan-jalan murah di daerah transmigrasi tampaknya memang harus terus dicari. Kondisi jalanan yang buruk telah membuat transmigran bagai tertusuk pisau bermata dua: di satu pihak harga produk pertaniannya terbanting, di sisi lain harga barang-barang dari kota terasa mencekik. Bersihar Lubis dan PTH

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836263778



Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.