Surat Dari Redaksi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kesibukan wartawan

Baby farida sendjaya,33, memulai karirnya sebagai reporter. kini ia sebagai pengelola rubrik luar negeri. dibantu a.dahana, pengajar sejarah politik cina fsui, bergabung dengan tempo sejak 1975.

i
BANYAK orang bilang bahwa jam kerja wartawan itu 24 jam. Pernyataan itu mungkin agak berlebihan. Tapi seorang wartawan memang harus selalu siap dengan tugas-tugas mendadak tanpa batas jam kerja. Kondisi kerja semacam itu toh tak membuat Baby Farida Sendjaja, 33 tahun, ibu dua orang anak (yang bungsu baru berusia delapan bulan), memilih diam di rumah. Padahal, ia, terutama di hari-hari deadline, tidak jarang pulang larut. Baby mengawali kariernya sebagai wartawan sembilan tahun lalu -- ia melamar sebagai reporter TEMPO ketika masih jadi mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia. Selang beberapa tahun, Baby, yang memang menaruh minat pada masalah-masalah internasional, mulai kami arahkan menulis berita-berita luar negeri. Terhitung April lalu kami menugasinya sebagai pengelola rubrik Luar Negeri TEMPO. Tentu saja Baby, karena keterbatasannya sebagai ibu rumah tangga, tak kami bebani tugas mengisi seluruh halaman rubrik Luar Negeri, yang rata-rata tujuh halaman setiap minggu. Ia dibantu oleh A. Dahana, 49 tahun, yang juga cukup sibuk di luar TEMPO. Dahana adalah pengajar sejarah politik Cina pada Fakultas Sastra UI -- dan sejak Januari 1989 diangkat sebagai Ketua Program Studi Cina. Meski Dahana adalah "orang kampus", toh ia bukan lagi asing bagi kami. Ia sudah membantu TEMPO sejak 1975. Bahkan ketika Dahana mengambil program doktor pada University of Hawaii, Honolulu, ia sering kami tugasi meliput peristiwa-peristiwa penting di Amerika Serikat. Dahana menyelesaikan studinya di Hawaii pada 1986 dengan disertasi berjudul Evolusi Kebijaksanaan RRC Terhadap Malaysia Sejak 1949. Sepulang dari Hawaii, di sela-sela kesibukannya mengajar pada FSUI, Dahana masih meluangkan waktunya untuk TEMPO. Tidak sepanjang minggu memang. Tapi, pada hari-hari deadline. Dahana juga suka pulang larut. Mengapa Dahana masih menyisihkan waktunya untuk TEMPO? "Saya senang bekerja di TEMPO, karena suasananya seperti kampus," jawabnya. Dahana ada benarnya. Di TEMPO, untuk mewawancarai sebuah sumber berita, seorang reporter memang harus menyiapkan diri bagaikan seorang mahasiswa. "Untuk sebuah pekerjaan, saya mesti membaca buku lagi," kata reporter Rustam F. Mandayun. Tentu tak hanya kesibukan membaca buku yang membuat suasana di TEMPO seperti suasana di kampus. Kami juga melakukan riset dan diskusi -- pekerjaan yang biasanya banyak dilakukan dan digemari orang-orang kampus -- sebelum berangkat mencari berita. Malah, tidak jarang riset itu kami lakukan di berbagai perpustakaan, antara lain yang sering kami datangi adalah Perpustakaan Nasional, Jakarta. Semua itu kami lakukan agar informasi yang kami sajikan kepada Anda lengkap dan perlu.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836612075



Surat Dari Redaksi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.