Ayah-Anak yang Berbagi Hati - Kesehatan - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Kesehatan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ayah-Anak yang Berbagi Hati

Demi kesembuhan anaknya, seorang ayah rela memberikan sebagian organ hatinya.

i

Cinta ditunjukkan oleh hati yang terbelah. Setengah untuk sang ayah dan sebelah lagi untuk sang anak. Tanpa ingin menjadi sutradara sinetron, Dr. Nigel Heaton menyarankan agar Mamoud, sang ayah, sudi membagi sebagian hati atau levernya kepada sang anak, Omar, yang hatinya sudah tak berfungsi. Dan tentu saja semua orang tua akan merelakan, kalau perlu, semua organ tubuhnya demi meniupkan roh kehidupan kepada anaknya.

Syahdan, Omar memang buyung kecil yang ringkih. Tulang-tulangnya teramat rapuh. Sejak berusia 10 bulan, pertumbuhan tubuhnya bahkan berhenti. Akibat gangguan fungsi hati, badan Omar tidak sanggup menyerap zat-zat gizi dari makanan yang dilahapnya. Jadilah ia tumbuh tidak normal dan tambah hari kondisinya terus memburuk. Bila tak dilakukan pencangkokan hati sehat, Omar diperkirakan meninggal dalam tempo beberapa bulan. Keluarganya lalu sepakat membawa Omar ke London, 2.000 mil dari Beirut, demi mendapatkan pelayanan terbaik?sebuah perjalanan yang tidak mudah dan juga tak murah. Mamoud harus menjual rumah, menguras isi tabungan, dan meminjam uang kiri-kanan.

Setiba di rumah sakit di London, Omar tak bisa langsung dioperasi. Berhubung bukan warga Inggris, dia masuk daftar antre paling buncit untuk mendapat donor hati. Di atasnya masih ada lima anak Inggris yang menunggu giliran. Heaton, yang mengetahui perjuangan keluarga ini, kemudian menyarankan penggunaan hati dari manusia hidup, yakni si ayah. Ini sebuah tindakan yang sebetulnya kurang disukai karena adanya risiko, baik pada si pemberi maupun si penerima hati.


Sang ayah setuju. Modalnya adalah hepar dan doa. "Tuhan, saya tidak minta kekayaan. Saya hanya minta kesehatan. Saya ingin keluarga kami hidup damai." Mamoud mendaras doa-doa seraya pasrah terbaring di ranjang Unit Bedah Hati London's King's College Hospital. Di ranjang sebelahnya terbaring Omar, 2 tahun, putranya. Sementara itu, Rania, ibu Omar, berlinang air mata.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTE6Mjg6NTQiXQ

Dipimpin Nigel Heaton, pentas drama operasi dimulai. Pertama, dalam lima jam operasi, tim Heaton mengangkat 25 persen jaringan hati Mamoud. Seperempat penggalan hati itu akan diberikan kepada Omar, si bocah.

Berikutnya adalah pentas operasi kedua. Dada si kecil Omar dibuka hingga tampaklah hatinya. Organ lever milik Omar besar serta berwarna hijau tua. Padahal hati yang normal berwarna cokelat kemerahan. Melalui pembedahan selama dua jam, hati si buyung diangkat. Berikutnya, jaringan hati milik ayahnya dicangkokkan untuk mengganti hati asli milik Omar. Sukseskah?

Heaton memperkirakan, jaringan hati yang telah dipotong tak akan merugikan tubuh si donor. Ini karena sel-sel hati termasuk sel yang sangat mudah mengalami regenerasi. Jadi, tak perlu risau. Organ yang terpotong itu akan kembali utuh dalam tiga bulan.

Sementara itu, persoalan Omar agak lain. Sepenggal hati si ayah yang dicangkokkan ternyata kelewat besar buat ukuran anak dua tahun. Ada kekhawatiran, jangan-jangan cangkokan yang gombrong ini bakal mengganggu metabolisme Omar. Tapi, menurut Heaton, kerisauan ini tidak beralasan karena jaringan hati yang gombrong dengan pintar bisa menyusut hingga mencapai ukuran yang tepat hanya dalam beberapa minggu.

Dan memang benar terbukti. Pekan lalu, sesuai dengan pemberitaan BBC, persis delapan minggu setelah operasi, jaringan hati yang dicangkokkan ke tubuh Omar berfungsi dengan baik. Kondisi kesehatan Omar pun berangsur membaik. Rania-Mamoud tentu senang bukan kepalang. Mamoud bahkan sudah segar dan sanggup pulang ke kota asalnya, Beirut, di Libanon, buat melunasi utangnya senilai lebih dari 500 ribu poundsterling (sekitar Rp 7,5 miliar) untuk ongkos operasi Omar dan biaya hidup selama di London, yang memang amat mahal. "Tak apalah demi kesembuhan Omar," ujar Rania.

Jika harus menunggu hati orang mati, nyawa Omar mungkin sudah keburu melayang. Mamoud telah memutuskan mengambil risiko dengan menyerahkan sebagian hatinya untuk Omar. Mamoud berujar, "Saya tidak khawatir risiko terhadap saya. Yang saya khawatirkan adalah risiko bagi Omar."

Syukurlah, Heaton, yang bertangan dingin, bisa menjalankan tugas dengan baik. Bapak-anak yang berbagi hati sama-sama selamat menjalani operasi. Kini semuanya sudah berlalu. Omar dan Rania tengah bersiap menyusul Mamoud ke Beirut. Heaton pun berucap, "Omar adalah salah seorang anak yang akan saya ingat selamanya."

Agus Hidayat (BBC)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 11:28:56


Kesehatan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB