Sarapan Beracun - Kesehatan - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Kesehatan 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Sarapan Beracun

Keracunan makanan diderita sejumlah karyawan pabrik cambries GKBI Medari, Sleman. 129 orang dirawat di rumah sakit. Penyebab keracunan masih diselidiki.

i
SABAN hari sebelum bergumul dengan pekerjaan sehari suntuk para karyawan pabrik Cambries GKBI Medan, di Kabupaten Sleman, Yogyakarta mampir dulu ke kantin. Sarapan ala kadarnya disediakan di sana. Pagi tanggal 18 Januari yang lalu, sekitar jam 9 mereka mampir juga. Semuanya, sekitar 500 orang bergiliran memasuki kantin. Menu makanan pada pagi itu adalah sebutir telur dadar, sambel-goreng, tahu, tempe dan sepotong kerupuk. Begitu mereka menyelesaikan tugas di kantin itu, aktifitas pabrik sehari itu hampir saja lumpuh, karena santapan sekali ini mengandung racun. Tiga-perempat jam setelah makanan masuk ke perut, kepala para karyawan pabrik itu jadi pusing dan sejam kemudian disusul dengan muntah-muntah. Pabrik yang biasanya sibuk, kini hampir jadi sepi sebab para korban terpaksa digotong ke Rumah Sakit Sleman atau malahan sampai RS Pugeran, Bethesda dan Muhammadiyah di kota Yogya. "Waktu makan tak terasa apa-apa, selain enak", jawab Saimin, 24 tahun, kepada wartawan TEMPO Syahril Chili yang datang ke tempat perawatannya di rumahsakit Morangan. Dua jam lebih dia digelut pusing dan muntah-muntah dan baru sadar kembali di rumahsakit setelah menghabiskan 8 botol cairan. Berbeda dengan karyawan muda itu Nyonya Endang Larangadina, 31 tahun sejak semula sudah merasa ada sesuatu yang kurang beres. "Telurnya kurang enak. Tak seperti biasanya", ujarnya. Satu setengah jam setelah dia menyelesaikan santapannya di kantin, sang nyonya merasa pusing dan disusul muntah-muntah. "Perut saya bagaikan dikocok", sambungnya lagi. Dia jadi hilang kesadaran, sebagaimana juga yang dialami suaminya sendiri, yang kebetulan juga karyawan pabrik yang sama. Karyawan lain juga mengalami hal sama, cuma saja tergantung dari daya tahan tubuh masing-masing. Hingga dari sekian banyak karyawan yang ikut menghabiskan jatah sarapan pagi itu hanya 129 orang yang terpaksa masuk ke rumahsakit. Dan syukurlah tak ada yang sampai meninggal. Melihat banyaknya korban yang jatuh pagi itu dan kesemuanya setelah sarapan, pimpinan pabrik cepat mengambil kesimpulan bahwa asal bencana adalah makanan yang disediakan di kantin. Makanan segera distop dan mereka yang mau mengambil giliran makan pagi dilarang masuk. Bagi mereka yang tidak mengambil jatah di pagi yang naas itu diberi ganti-rugi Rp 71 per orang. Pelihara Kera Ir HA Bakri, manajer Pabrik Cambrics GKBI Medari, merasa puas juga kareka dia berhasil memperkecil jumlah penderita. Sekitar 2000 karyawan yang bekerja di bawah pengawasannya. Menurut dia fihak pabrik tak bisa dipersalahkan, karena ransum di kantin itu disediakan oleh karyawan sendiri melalui koperasi mereka. Sedangkan pabrik hanya tinggal mendrop uang. Korban-korban itu jatuh memang gara-gara keracunan makanan. Tetapi makanan yang mana masih belum jelas, kecuali pembuktian dari sebuah laboratorium. Sebab seperti tutur Saimin, ada karyawan yang hanya makan telur saja tiga butir tidak apa-apa. Tapi ada pula karyawan yang membawa pulang makanan yang disediakan di kantin itu. Sampai di rumah telur yang dibawa pulang ternyata mengambil korban anak sendiri. Ada juga yang makan nasi dan tempe saja, dan tak terjadi apa-apa. Namun yang makan nasi dan sayur (ada tahu dan tempenya) ternyata menceret. Ada yang menduga, minyak yang digunakan yang beracun. Kalau memang minyak mengapa tak semuanya keracunan. Yang jelas pihak kepolisian Sleman masih meneliti kemungkinan tindakan sengaja dalam peristiwa keracunan itu sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Di antara para karyawan ada juga dugaan bahwa kejadian itu dikerjakan dengan sengaja oleh seorang yang ingin menduduki kursi kepengurusan koperasi di pabrik itu. Sementara itu pihak pabrik sekarang ini sedang mencari jalan yang aman dalam memberikan pelayanan makanan kepada karyawannya. Usul yang masuk bermacam-macam sampai pada pekerjaan yang nampaknya akan mentertawakan. Seperti usul supaya tiap makanan yang akan disuguhkan dicobakan dulu kepada kera. "Usul ini cukup merepotkan, karena pabrik harus memelihara kera", kata ir. Bakri.
2020-08-11 13:59:04


Kesehatan 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.