Pekan yang kaku - Musik - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Musik 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pekan yang kaku

Pekan ansambel musik anak-anak dan remaja berlangsung di gelanggang mahasiswa sumantri brodjonegoro. merupakan evaluasi non lomba pendidikan musik dengan "metode bina musika".

i
BEGITU pentingkah pendidikan musik di Indonesia? Dijawab oleh Syarif Thayeb: "Musik yang baik, pening artinya dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan melalui pendidikan musik dapat dikembangkan rasa inilah yang . . . ". Kalimat-kalimat Menteri P & K tersebut merupakan sambutan tatkala dia langsungkan apa yang dinamakan Pekan Asambel Musik Anak-anak dan Remaja, mengambil tempat di Gelanggang Mahasiswa Sumantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta, tanggal 17 -19 Januari ini. 14 buah daerah (Bengkulu, Sulawei Tengah, Nusa Tenggara Barat, DI Yogyakarta, Lampung, Sumatera Utara, fawa Tengah, Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Barat, DKI Jaya, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan), telah terangsang hadir. Dikabarkan beberapa daerah yang lain tak sempat mengirimkan ansambelnya karena kesulitan duit. Tak apa, mereka juga dikasih tanda penghargaan. "Karena daerah itu termaiuk yang sudah mengembangkan metode Bina Musika", sambut Sampurna Direktur Pengembangan Kesenian yang yang menjadi Ketua Panitia. Sebagai diketahui, Direktorat Pengembangan Musik telah memberi nama pendidikan musik di Indonesia dengan 'Metode Bina Musika". "Sebelumnya, sistim pendidikan kesenian terutama musik dikerjakan dengan cara sendiri-sendiri tanpa pola kerja yang sama", kata Sampurna lebih lanjut. Pada 1973 rupa-rupanya telah dimulai pencarian metode, dengan mengundang tokoh-tokoh dari lepang dan Jerman yang terkenal memiliki sistim pendidikan musik "Orff" (ini nama orang Jerman). Metode yang kini dipakai adalah hasil lokakarya dari ahli-ahli tersebut. Sementara pekan yang sedang berlangsung dipakai sebagai barometer untuk melihat sudah sejauh mana hasil-hasil yang dicapai. Dengan memakai alat-alat pinjaman dari agen-agen alat musik di Jakarta, pekan evaluasi non lomba itu terutama menukikkan perhatian pada nilai-nilai pembinaan, di samping pada mutu teknis maupun artistik. Perlu dicatat tidak kurang dari Rp 30 juta biayanya. Setiap unit diharuskan memilih 2 dari 10 buah lagu yang diwajibkan. Yang paling laris adalah lagu Tidurlah Dik dan Burung Kutilang, disusul lagu Oh Bulan dan Tanah Airku. Sedang lagu Dua Burung dan Bourre'e sama sekali tidak dijamah. Dan dengan sangat menyesal harus dikatakan bahwa malam pertama yang menampilkan lagu-lagu wajib itu, berlangsung dengan tidak meriah. Penonton sedikit sekali, paling banter orang tua para peserta. Itupun hanya terbatas peserta Jakarta. Tetapi dasar anak-anak, suasana masih cukup gaduh juga, karena ulah para peserta yang menunggu giliran di lapangan basket itu. Agus Rusli, sang pembawa acara yang mengenakan baju batik, berkali-kali minta agar mereka tenang. Tidak digubris. Untunglah pandangan ke arah panggung cukup sedap, dengan pohon-pohon bunga hasil kreasi Dinas Pertamanan DKI. Di panggung yang manis itu kemudian muncul ban yang formil. Para peserta daerah tampil dengan kaku, karena peraturan terlalu kering. Para peserta diharuskan keluar masuk dengan berbaris rapi. "Ini tidak sesuai dengan jiwa anak-anak", protes seorang penonton padahal dia juga panitia. "Kalau mereka sedikit dibebaskan, barangkali akan lebih akrab". Tentu saja protes sehat, tapi siapa tahu mungkin kalau dibebaskan justru malah makin gawat. Kenapa Jakarta Menang Pada hari pertama, peserta DKI-lah satu-satunya yang mengenakan pakaian daerah. Para gadisnya mengenakan kain batik, baju panjang dan kerudung kuning. Sementara prianya dengan gaya Abang Jakarte, menghijau muda, dengan destar batik sogan. Obi, sang dirijen yang juga muncul sebagai Abang Betawi, memimpm anak-anak Bang Ali itu mengucapkan salamualaikum. Peserta-peserta dari daerah kebanyakan membuat kombinasi dengan batik. Yang menarik adalah wakil Sumatera Utara yang lebih suka mengenakan baju merah model Spanyol dengan rompi dan celana kuning gading. Bertentangan dengan wail Jawa Barat yang hanya mengenakan stelan putih-putih dengan pita merah di leher. Kostum ini sedikit berubah pada hari kedua, karena beberapa peserta menambahkan sedikit bau daerah. Hari kedua itu suasana sedikit meriah. Lantas muncul Kincir-kincir dari DKI Jaya mendapat sambutan gemuruh. Juga lagu Warung Pojok yang dibawakan Bandung dalam instrumental. Sumatera Utara sendiri memilih lagu Nalumbang Maliling yang dibawakan sambil menortor. Kemudian Riau berhasil menampilkan Lancang Kuning dengan aransemen yang menarik. Frans Haryadi, salah seorang juri memberi komentar: "Saya tidak setuju sebutan artis cilik kepada mereka seperti dilakukan salah seorang panitia. Karena Bina Musika tidak bertujuan menjadikan mereka pemusik prof, tapi untuk pengembangan anak saja". Itulah pula rasanya alasan kenapa kemudian unit ansambel Jawa Barat kalan dengan Yogya dan Jakarta: karena penampilan yang sudah terlalu berbau prof. "Terlalu banyak gaya, mereka menutupi kelemahan dengan menonjolkan vibrafun yang memang dimainkan dengan baik. Ada kesan seolah-olah mau menipu telinga", kata tokoh musik yang kini mulai debutnya sebagai konduktor itu. Tapi lelaki brewok itu juga tidak mengingkari kemungkinan seandainya mereka di kemudian hari mengarahkan diri pada musik prof. "Yang penting dasar kuat dulu, sehingga di kalangan generasi yang akan datang pemusik profesional kita tidak hanya mementingkan segi komersiil saja", katanya kepada TEMPO. **** PARA PEMENANG Peserta Terbaik: I. DKI Jakarta Raya. II. D.I. Yogyakarta III. Jawa Barat. **** Pembawaan Lagu Terbaik: I. DKI Jakarta Raya. II. D.I . Yogyakarta. III. Jawa Barat. **** Teknik Memainkan Instrumen Dan Menyanyi Terbaik: I . DKI Jakarta Raya. II. D.I. Yogyakarta. III. Jawa Timur. **** Aransemen Lagu Terbaik: I. DKI Jakarta Raya. II. Nusa Tengga Barat. III. D.I. Yogyakarta. **** Direksi Terbaik: I. DKI Jakarta Raya II. D.I. Yogyakarta. III. Jawa Timur. **** Penampilan Terbaik: I. DKI Jakarta Raya. II. D.I . Yogyakarta. III. Riau. **** Para Juri: AP. Suhastjarja M. Nus (ketua), FX Sutopo, Frans Haryadi, RAJ Sudjasmin, R. Rusman, Praharyawan Prabowo, MJ Fonno.
2020-06-01 10:10:40


Musik 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.