Ekor Kamar 14 - Kriminalitas - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Kriminalitas 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ekor Kamar 14

Ruben I Ureta, mabuk-mabuk dan melukai 3 orang. Ia dijatuhi hukuman oleh PN Jakarta Barat. Ia datang ke Jakarta membawa mayat Aniceto R. Domingo, yang dibunuh oleh Jr Karangan di Sorong.

i
PENGADILAN Negeri Jakarta Barat-Selatan pertengahan bulan lalu agak repot juga. Sidang perkara pidana yang dipimpin Hakim Sitinjak SH, harus menyediakan 2 penterjemah dari bahasa Indoneia ke bahasa Inggeris texrus ke bahasa Iagalog, dan sebaliknya. Terdakwanya Rubcn I Ureta, warganegara Pilipina yang menjadi masinis kapal MT Rustler. Ia diseret ke meja hijau karena mabuk-mabuk dan melukai 3 karyawan Hotel Kartika Chandra. Itu tuduhan pertama yang memenuhi pasal 351 KUHP. Sedang tuduhan kedua menyangkut pasal 406. Ruben ketika mabuk merusak pesawat TV, alat pemadam kebakaran dan barang-barang hotel lainnya. Sedianya Ruben menginap di hotel tersebut 11 Desember lalu. Namun karena ulahnya itulah tempat penginapannya dipindahkan ke Komdak Metro Jaya. Ia bermalam Minggu dan mendekam terus di kantor polisi sampai 23 Desember, setelah Konsul Bernabe De Gusman meminta Ruben ditahan luar. Selama mabuk Ruben memukulkan termos ke kening Iaman Sanubari. Juga botol Greenspot dipakai untuk melukai karyawan hotel itu. Karyawan lain. Phasang Tutu, dipukul pula dengan botol dan diteruskan dengan pecahan botol itu. Untung si korban bisa segera lari sehingga tidak bertambah parah. Tapi ada karyawan lain lagi, Djumari, yang dilempari botol dan alat pemadam kebakaran. Punggung, bagian belakang kepala dan tangan terkena amukan Ruben. Di persidangan, Ruben segera meminta maaf kepada ketiga karyawan hotel. Kerugian hotel sekitar 600 ribu, telah dibayar oleh PT Pelayaran Khusus Bhaita yang menyewa tenaga Ruben. Karena kesalahannya, Ruben dituntut oleh Jaksa Ny. Rennyaty hukuman 1 minggu dalam masa percobaan 3 minggu. Hakim Sitinjak menjatuhkan putusan sesuai dengan tuntutan jaksa. Dalam waktu 3 minggu sejak diputus tanggal 15 bulan lalu, Ruben tentu saja tidak boleh meninggalkan Indonesia. Menurut Jaksa Rennyaty, untuk melaksanakan putusan itu tidaklah sulit. Sebab toh sudah ada jaminan dari Kedutaan Besar Pilipina. "Mereka kita harapkan menghormati hukum kita", ujar Jaksa dengan alamat Kedubes Pilipina. Dan finak Kedubes memang begitu. Pada waktu Ruben diadili, dua petugas dari Kedubes langsung menyatakan siap menjamin Ruben agar tetap dalam pengawasan mereka sebelum masa percobaan habis. Ruben, 25 tahun, sebenarnya bertugas di daerah Sorong, Irian Jaya, pada sebuah kapal yang sedang beroperasi mencari minyak. Namun sampai juga ia di Jakarta walau bukan atas kemauannya sendiri. Ia mengantarkan jenazah rekannya Aniceto R Domingo, untuk dibawa ke Pilipina lewat Singapura. Kematian Aniceto di Sorong sendiri punya kisah yang tidak kalah menarik dengan amukan Ruben di Kartika Chandra Jakarta. Begini: Minum Kopi Aniceto dan kawannya, Crispin Cananan, berhasil menjalin hubungan erat dengan suami isteri J.R. Karangan (JRK), yang punya kedai minum di Sorong. JRK dalam mengurus kegiatan dagangnya pergi ke Merauke dan Jaya pura, September lalu. Rencananya sampai Desember. Tapi konon hati kecilnya mendesaknya segera pulang. Begitulah, baru dua bulan pergi, JRK sudah kembali. Kedatangannya disambut oleh kedua pelaut Pilipina tadi. Namun hati JRK berdebar-debar menerima pelukan selamat datang dari dua pelaut muda itu. Lalu terlihat sikap dingin Ny. JRK, sementara sang suami sudah sangat rindu. Perubahan juga terlihat dalam tatacara Ny. JRK berpakaian. Aniceto pernah memberi "uang persaudaraan" Rp 40 ribu kepada JRK tapi ditolak. Rupanya kemudian dialamatkan kepada isterinya, dan diterima. Makin besar hasrat JRK untuk mengetahui apa yang terjadi selama isterinya ditinggal pergi. Dan berkat ketekunannannya, JRK berhasil membuat si isteri buka kartu. Selama ditinggal, si nyonya memang sering berhubungan dengan Aniceto. Bukan sembarang hubungan, tapi hubungan sebagai suami isteri. Jumlah hubungan itu tercatat 5 kali. Sekali di rumah, sekali di bawah pohon pisang di belakang rumah, dan 3 kali di Hotel Sorong, kamar 14. Yang membujuk Ny. JRK, menurut pengakuannya adalah Crispin dengan alasan hanya diajak minum-minum. Tapi ketika sampai di hotel, ia dibawa masuk oleh Aniceto ke kamar 14. Isteri yang sedang ditinggal suaminya ini merasakan bahwa Aniceto menggunakan "alat tertentu" yang menyebabkan ia suka, jauh melebihi "kwalitas" dari suaminya. Sebelum hubungan terjadi wanita itu diberi minum kopi yang membuat ia kehilangan rasa takut dan malu. Pada giliran berikutnya ajakan Aniceto tak pernah ditolak. Dengan pengakuan isterinya, JRK mendatangi kantor Aniceto. Yang disebut belakangan tak bisa mengelak ketika JRK melontarkan persoalan kamar 14. Lahirlah kesepakatan: Aniceto "menanggung ongkos" 1.250 dolar AS uang ini dimaksudkan JRK untuk ongkos memulangkan isteri dan anak-anaknya ke kampung. Waktu itu baru dibayar 500 dolar. Kekurangannya dijanjikan akan dibayar sekitar hari Natal, sambil menunggu kiriman uang dari Pilipina. Tapi menurut pendengaran JRK kesanggupan itu akan dipenuhi seluruhnya pada 5 Desember. Maka ketika tanggal itu Aniceto belum juga datang, esok harinya JRK mengadukan permainan antara isterinya dengan Aniceto kepada polisi di Sorong. Sebenarnya JRK tak senang perbuatan isterinya diketahui orang banyak. Tapi karena merasa dihina - lantaran isterinya dizinahi dan hanya diberi hiburan 500 dolar apa boleh buat, terpaksa lapor polisi. Sementara itu tengah malam menjelang 9 Desember, Crispin, Aniceto dan Ruben, setelah berekreasi, bertemu dengan JRK di daerah pelabuhan. Mendadak Ruben berteriak karena melihat ada pisau pada JRK. Tapi terlambat: begitu badik terhunus dari sarung, begitu senjata itu langsung ditusukkan JRK ke tubuh Aniceto. Sebentar saja senjata tajam ini bersarang dalam badan pelaut muda itu. JRK segera mencabutnya. Kemudian lari menyerah pada polisi di Sorong. Ruben terpaksa berurusan dengan polisi di Jakarta ketika mengantar jenazah Aniceto. Menurut Jaksa Rennyaty, ulah Ruben mabuk-mabukan sekedar pelarian dari kejutan mental. Karena selama itu Ruben selalu teringat bagaimana badik menembus tubuh Aniceto akibat permainan di kamar 14.
2020-06-01 09:52:13


Kriminalitas 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.