Mengabadikan cokrojio - Hiburan - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Hiburan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mengabadikan cokrojio

Srimulat mengadakan pertunjukan ketoprak rutin di thr surabaya dengan nama sri budaya. cerita disajikan secara rasional dan mencoba lakon hamlet. nama sri budaya akan diganti cokrojio.

i
TATKALA Bengkel Teater WS Rendra memainkan lakon Perampok di gedung Gelora, Surabaya, 17 Januari yang lalu, di antara penonton tampak Teguh itu pimpinan Srimulat. Hari berikutnya, tatkala Srimulat sedang memainkan pertunjukan rutinnya, tampak Rendra bersama rombongannya menonton di deretan kursi bilangan depan. Tak sempat dibuntuti kenapa Rendra masih menyempatkan diri menonton Srimulat. Akan Teguh, kenapa dia sampai mengunjungi Perampok, inilah katakatanya: "Saya baru kali ini nonton Rendra. Karena ingin tahu saja". Tapi itu sebetulnya tak bisa dilepaskan dari usaha ketoprak yang mulai digarapnya. Setelah ditinggalkan 47 orang anggotanya - termasuk Gudel, Karjo, Suroto dan Sumiati -- Teguh tak henti-hentinya mencari akal baru. 2 bulan selama masa kehilangan itu, presentasi penonton Srimulat cukup gawat. Tapi sekarang keadaannya sudah normal lagi. Perubahan pokok pada gaya Srimulat kini ada 2 hal. Tidak lagi mempergunakan lawakan lelaki sebagai wanita. Tidak menambahkan lelucon kata pada nomor atraksi "lagu eksentrik". "Sebab hal itu berarti dobel. Biarlah kalau mau melucu, melucu dengan lagu saja", ucap Teguh. Sementara itu kegencaran untuk memasukkan lebih banyak bahasa Indonesia masih terus diusahakan. Hamlet Tetapi hal paling penting untuk diceritakan tentunya ekspansi Srimulat di kawasan THR Surabaya dalam bidang ketoprak tadi. Dengan mempergunakan sebuah gedung yang masih dalam kondisi darurat, telah berjalan pertunjukan rutin ketoprak yang dinamakan "Sri Budaya". Usaha ini sudah berlangsung lebih dari setahun. Harga karcis Rp 75 untuk harga yang paling murah. Tempat duduknya terbuat dari bangku-bangku murahan, dengan atap yang kadangkala tak bisa membendung hantaman hujan. Kendati begitu mereka masih mampu mengeruk sekitar Rp 60 ribu pada malam Minggu. Brontoyudo, badut dedengkot tua Srimulat yang kini beralih profesi menjadi pemegang pimpinan ketoprak, berkata: "Keadaan gedung menyebabkan tempat ini tidak mau dikunjungi kaum menengah dan atasan". Sementara Teguh yang mengharapkan dalam waktu dekat ketoprak itu akan mendapat gedung yang berharga Rp 15 juta dengan 1000 kursi - memberi catatan: "Tapi nantinyanya ketoprak itu juga tidak dimaksud sebagai santapan kaum menengah dan atasan saja, karena harga karcisnya tetap akan dipertahankan supaya rendah". Sri Budaya mempunyai sesuatu yang khas dalam penampilan. Ada perobahan untuk memberi kesegaran pada tata lampu dan terutama sekali dekorasi. Yang menarik adalah apa yang mereka cobakan dalam cerita. Beberapa waktu yang lalu mereka menambah lakon ketoprak dengan memainkan Hamlet hal yang juga sudah pernah dilakukan dalam sandiwara bahasa daerah RRI Yogya oleh Sumardjono. "Cerita ketoprak masih terbatas, sehingga dalam waktu 6 bulan mau tak mau kita akan sampai ke lingkaran memainkan cerita-cerita tersebut kembali", ungkap Teguh. Kabarnya kalangan ketoprak cukup kaget juga oleh percobaan itu. Terutama mereka amat kagum pada isi ceritanya, yang mereka anggap "begitu padat". Usaha Sri Budaya yang lain adalan mencoba membeberkan cerita-cerita secara lebin rasionil. Sehingga benteng-benteng yang dipasang oleh tukang-tukang cerita di masa-masa yang lalu untuk menutupi kebobrokan kalangan kraton misalnya, tidak dipertahankan lagi. Demikianlah cerita yang lama tiba-tiba menjadi segar dan tidak mati sebagai warisan yang beku. Tingkah semacam ini di Jakarta dilakukan oleh Wayang Orang Jaya Budaya. Harus dicatat penyegaran itu tidak dilakukan dalam rangka "semacam gerakan", atau apalagi dengan nama"pembaruan". Pertunjukan-pertunjukan Sri Budaya tetap memiliki kesederhanaan dengan banyak idiom-idiom dagelan yang ternyata kelanjutan saja dari apa yang terjadi di Srimulat. Misalnya membaurkan suasana perkelahian dengan main-main secara tiba-tiba, sehingga suasana yang serius pecah kembali, lalu orang tetap teringat bahwa mereka memang hanya menonton. "Kita berbuat seperti Rendra, tak berani", demikian pengakuan Teguh. Yang diusahakannya hanya mencoba memberi suasanabaru. Pada tokoh Roro Mendut misalnya. "Dahulu tokoh itu digambarkan suci, padahal kalau kita teliti, perempuan itu adalah perempuan tidak baik, ini yang kami bongkar", kata Teguh. Contoh lain: dalam cerita sejarah disebutkan ada tokoh bernama Kalinyamat sedang bertapa dalam keadaan telanjang, karena suaminya dibunuh oleh utusan Arya Penangsang. Tatkala raja Pajang Hadiwidjaja alias Djaka Tingkir datang, ketoprak-ketoprak dahulu menyisipkan 2 orang wanita lain dalam pertemuan itu. "Supaya Kalinyamat kelihatan sopan. Padahal kedatangan Djaka Tingkir di depan Kalinyamat yang telanjang sudah merupakan target Kalinyamat, agar lelaki itu kemudian mau membunilh Arya Penangsang", kata Teguh dengan sungguh-sungguh. Disebutnya juga, ia merencanakan menghubungi jawatan atau orang-orang yang menyimpan keterangan-keterangan yang akan membantu rasionalisasinya dalam bercerita itu. Juga dicanangkan mengganti nama Sri Budaya dengan nama seorang tokoh Ketoprak dari Yogya, yakni Cokrojio - kalau saja keluarga almarhum tidak keberatan. Menyaksikan pementasan Rendra yang mirip ketoprak, ia hanya tersenyum. "Saya nonton karena saya dengar cerita itu menyangkut Sultan Agung dan Sunan Giri yang juga ingin saya garap. Beberapa adegannya saya rasa bertele-tele, belum musiknya terlalu banyak. Waktu cerita berjalan 20% saya sudah bisa menebak. Sebagai orang profesional saya tak bisa terima penggunaan kasur dalam set dekornya. Aktingnya seenaknya, apa kurang sungguh-sungguh Sedangkan leluconnya adalah lelucon yang disengaja yang diperhitungkan untuk mengendorkan suasana".
2020-08-11 12:55:59


Hiburan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.