Perhatian Dunia - Fokus Kita - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Fokus Kita 1/1

Sebelumnya
text

Perhatian Dunia

Gilmore divonis hukuman mati atas kejahatannya di AS. Hukuman tembak tersebut menjadi perhatian dunia. Gilmore menghendaki hukuman itu, tapi pada analisa terakhir dia penggugat hukuman tersebut.

i
GILMORE akhirnya ditembak mati. Ia mendapat apa yang dikehendakinya. Ketika vonnis dijatuhkan atas kejahatannya (membunuh dua orang, dengan darah dingin), keputusan itu ia terima dengan lega. Ketika pelaksanaan hukuman mati itu dicoba ditunda - atas nama belas kasihan, mungkin -- ia memprotes: dua kali ia mencoba bunuh diri. Dan beberapa saat sebelum eksekusi dilakukan, kata-kata terakhirnya cuma: "Mari kita kerjakan". Hukuman tembak di pertengahan Januari di Utah di pagi yang dingin itu mau tak mau jadi perhatian dunia. Bukan cuma karena itu terjadi pertama kali selama dasawarsa ini di AS. Tapi karena sikap Gilmore sendiri. Tiba-tiba suatu paradoks nampak: Gilmore menghendaki hukum tembak bagi dirinya ia mencerca mereka yang menentang hukuman mati tapi pada analisa terakhir dialah justru penggugat hukuman itu. Sebab lewat dia kita jadi bertanya kembali: untuk apa itu semua? Logika dari hukuman, dalam kasus Gilmore, telah berubah. Hukuman itu jadi pembebasan. Sang penjahat telah memperoleh "keringanan" dengan tewas. Naluri matinya (bila kita percaya bahwa naluri semacam itu ada) telah terpuaskan. Dan dalih bahwa hukuman mati bisa jadi "penggertak" bagi calon pelaku kejahatan besar, tak berlaku. Gilmore mati, bagi mereka yang imajinasinya agak ferbatas, sebagai jagoan. Lihatlah: sebuah lagu pun telah diciptakan baginya. Seseorang telah menulis musik dan lirik Walking in The Footsteps of Your Mind . . . Mungkin akan banyak yang mengikuti jejak Gilmore. Mungkin akan lebih banyak lagi pembunuh, orang yang menembak atau mencekik atau mengkampak leher salah satu saudara kita, sonder alasan. Demi kemashuran. Demi kejagoan. Demi, barangkali naluri untuk mati. Eksekusi di penjara Salt Lake City itu, yang ditutup dari publik (sebagaimana lazimnya hukuman yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti itu), telah terdengar sebagai tepuk-tangan riuh seorang penggalak. 20 tahun yang silam Albert Camus pernah berkata, dalam Reflexions sur la peine capitale, bahwa hukuman mati menjungkirkan satu-satunya solidaritas manusia yang pasti - solidaritas kita menghadapi maut. Tapi eksekusi terhadap Gilmore justru seakan mengukuhkan satu jenis solidaritas lain solidaritas dalam putus-asa. Hukuman itu seakan mengamini katakata Gilmore: "Dalam maut kita dapat memilih dengan satu cara, yang tak dapat kita pilih dalam hidup". Dan hakim, yang mengirimkan Gilmore ke regu tembak, seperti setuju: ia pun tak punya harapan lagi terhadap sang penjahat. Kejamkah semua itu? Mungkin yang terkejam ialah rasa putus-asa itu sendiri. Dan seseorang, atau beberapa orang, atau sesuatu, pasti ikut berdosa, bila banyak orang menjadikan Gilmore rasul baru, dan memutuskan, bak kata penyair Pablo Neruda: 'Kok aku capek jadi manusia. Sucede que me canso de ser hombre.
2020-06-01 10:35:16


Fokus Kita 1/1

Sebelumnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.