Kesehatan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Berdamai dengan Dua Wajah

Bunuh diri pada penderita gangguan bipolar 20 kali lebih tinggi dibanding orang kebanyakan. Bisa ditekan dengan deteksi dan terapi dini.

i

Tiba di apartemennya di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Senin petang pekan lalu, Paul Agusta langsung bergegas ke satu kamar di lantai tiga. Di ruangan inilah dia biasa menumpahkan ide dan melahirkan karya-karyanya. Dari tangan pengidap gangguan bipolar ini, telah lahir puluhan film pendek dan tiga film panjang. Ya, Paul Agusta adalah penderita gangguan bipolar—dengan prestasi tinggi.

Salah satu film panjangnya, At the Very Bottom of Everything, berkisah tentang testimoni seorang penderita gangguan bipolar—atau biasa dikenal dengan istilah depresi-manik. Penderitanya kerap dilanda suasana hati berlawanan. Suatu waktu, mereka bisa amat gembira, penuh semangat, dan percaya diri berlebihan (manik). Pada waktu lain, mereka terjerembap dalam wajah serba muram, malas-malasan, termasuk berpikir tentang kematian dan bunuh diri (depresi).

Tingginya angka bunuh diri penderita gangguan bipolar dibahas dalam satu seminar di Jakarta dua pekan lalu. Berjudul "Gangguan Bipolar: Dapatkah Dikendalikan?", seminar ini memperbincangkan antara lain kecenderungan bunuh diri di Indonesia yang terus meningkat: salah satu pemicunya adalah gangguan bipolar. "Sebanyak 10-20 persen penderita bipolar meninggal akibat bunuh diri," kata dokter Ayu Agung Kusumawardhani, Kepala Departemen Psikiatri Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, salah satu pembicara. "Sebanyak 30 persen penderita gangguan bipolar pernah mencoba bunuh diri," dia menambahkan.


Paul Agusta membenarkan ada kecenderungan bunuh diri yang tinggi pada dirinya. "Puluhan kali," Paul menggambarkan seringnya dia berniat mengakhiri hidupnya. Niat itu benar-benar diwujudkan pada 2006 dengan cara menenggak bermacam obat yang dicampur wiski dan minyak korek api. Tapi aksi nekat itu gagal. "Saya bersyukur banget didiagnosis bipolar, bisa bertemu dengan psikiater dan mendapat obat," kata Paul kepada Tempo di apartemennya.

161834988158

Adanya kepastian diagnosis dan pengobatan membuat Paul relatif stabil sehingga mampu berkarya lebih baik. Obat membuatnya bisa mengerem keinginan bunuh diri, hal yang kerap muncul manakala depresi melanda. Literatur menyebutkan tindakan bunuh diri pada pengidap gangguan bipolar 20 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bukan penderita.

Data statistik Komunitas Bipolar Amerika yang didapat Paul saat dia melakukan riset untuk pembuatan film At the Very Bottom of Everything lebih tinggi lagi: 5 dari 6 penderita gangguan bipolar mencoba bunuh diri, dan 3 dari 5 penderita berhasil melaksanakan niatnya. Jadi, rata-rata 50 persen penderita mencoba bunuh diri dan berhasil. "Itu angka yang amat menakutkan," kata Paul.

Dokter Handoko Daeng, Ketua Seksi Bipolar Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, menjelaskan, meningkatnya risiko bunuh diri pada penderita gangguan bipolar merupakan dampak keterlambatan deteksi atau kesalahan diagnosis. Risiko lain adalah munculnya perilaku merugikan, hilangnya pekerjaan, atau penderita menjadi resisten terhadap terapi.

Untuk menekan berbagai risiko itulah Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia terus mengkampanyekan perlunya deteksi dini bipolar. Mereka juga giat menggelar simposium kedokteran agar dokter tak salah lagi mendiagnosis gangguan bipolar. Data yang dirilis Badan Kesehatan Dunia (WHO) tentang peningkatan bunuh diri layak ditengok agar kita lebih waspada.

Pada 2001, lembaga tersebut melansir data rata-rata bunuh diri di Indonesia mencapai 1,6-1,8 per 100 ribu penduduk. Tahun itu, jumlah penduduk negeri ini 205 juta. Artinya, ada sekitar 4.000 orang yang bunuh diri tahun itu. Masih menurut WHO, dalam rentang 2005-2007, kasus bunuh diri di Indonesia melejit menjadi 50 ribu orang, atau lebih dari 16 ribu orang per tahun. Di Jakarta, kenaikan angka bunuh diri juga terlihat. Data kepolisian menunjukkan pada 2009 tercatat 165 kasus, dan meningkat menjadi 176 kasus—dua hari sekali—pada 2010.

l l l

Para ahli di seluruh dunia masih terus berupaya keras menemukan sumber penyebab gangguan bipolar. Sejauh ini, baru satu hal yang telah jelas, yakni para penderita dilanda "badai atau gelombang naik-turun" dalam alam perasaannya. Gelombang itu bisa membawa seseorang ke periode manik, depresi, campuran depresi-manik, eutimia (keadaan normal), atau hipomanik (keadaan manik ringan).

Menurut penelitian terakhir, kata Profesor Tuti Wahmurti dari Majelis Kehormatan Profesi Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, gangguan bipolar terjadi karena ada beberapa sirkuit neurotransmisi di otak yang kacau, yakni di norepinefrin, dopamin, dan serotonin. "Hal itu bisa terjadi karena ada faktor kerentanan genetik," kata Tuti dalam seminar yang sama.

Meski termasuk gangguan kejiwaan bersifat kronis, serius, dan sering berpotensi fatal (bunuh diri), gangguan bipolar dapat dikendalikan. Deteksi dan diagnosis dini yang akurat serta terapi yang optimal adalah kuncinya.

Deteksi dini dapat dilakukan menggunakan The Mood Disorder Questionnaire dengan melihat sejumlah gejala.

Umpamanya merasa gembira berlebihan, amat gampang marah, punya kepercayaan diri tinggi, merasa tak butuh tidur, banyak berbicara, atau berbicara lebih cepat dari biasanya. Gejala berikutnya: energetik dan amat aktif, pikiran berlomba, konsentrasi mudah teralihkan, memiliki masalah pada lingkungan sosial dan pekerjaan, lebih tertarik terhadap seksualitas, memiliki perilaku berisiko, dan boros.

Ayu Agung menyorongkan rumus "tiga" yang dapat digunakan untuk memprediksi bipolaritas seseorang. Caranya dengan melihat apakah dia mengalami episode depresi mayor, kegagalan perkawinan, kegagalan merespons antidepresan, memiliki tiga atau lebih profesi berbeda, atau memiliki saudara kandung yang menderita gangguan emosi.

Perlu dilihat juga apakah dia berperilaku impulsif (berjudi, terobsesi kegiatan seksual, ngebut dengan mobil), berpacaran dengan 2-3 orang sekaligus, memiliki gangguan kepribadian, histronik (kepribadian yang didominasi emosi berlebihan), psikotik (halusinasi, waham, perilaku atau pembicaraan aneh), atau ambang (tidak stabil), serta amat menyukai benda atau aksesori berwarna merah. "Bila seseorang memiliki tiga atau lebih dari kategori itu, ada kemungkinan dia memiliki gangguan bipolar," kata Ayu.

Jika diagnosis gangguan bipolar sudah ditegakkan, langkah berikutnya adalah pengendalian agar tak makin buruk. Salah satu caranya dengan pengobatan yang benar, seperti pemberian obat untuk menstabilkan alam perasaan (mood stabilizer) dan obat antipsikotik untuk mengusir halusinasi dan sebagainya. Selain untuk mengobati kekacauan alam perasaan, pengobatan bermanfaat buat mencegah kekambuhan.

Untuk kebaikan penderita, Tuti mengingatkan pentingnya penerimaan keluarga dan lingkungan. Hartono, 39 tahun, penderita gangguan bipolar asal Kemayoran, Jakarta Pusat, yang memberikan testimoni dalam seminar tersebut, setuju pada pernyataan Tuti. "Jangan malu menerima kenyataan," kata pria yang didiagnosis mengidap gangguan bipolar sejak berusia 23 tahun itu.

Keberadaan penderita gangguan bipolar tak perlu disembunyikan—karena malu. Jangan pula dicap negatif. Si penderita harus dibantu agar mendapat terapi sehingga kondisi emosinya stabil dan ia tak berpikir aneh-aneh, termasuk ingin bunuh diri. Paul Agusta dan Hartono sepenuhnya sepakat dengan pendapat ini, berdasarkan pengalaman mereka.

Dwi Wiyana


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161834988158



Kesehatan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.