Bagaiamana Skandal Korupsi PhilHealth di Tengah Pandemi Covid-19 Menggemparkan Filipina - Internasional - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Internasional 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ikan Kakap di Rasuah Dana Pandemi

Para pejabat perusahaan asuransi kesehatan Filipina, PhilHealth, diduga menyelewengkan dana pandemi Covid-19. Sebanyak 43 pejabat senior mundur.

i Pemeriksaan terhadap petugas kesehatan sebelum bertugas di rumah sakit kota Manila, April 2020. REUTERS/Eloisa Lopez
Pemeriksaan terhadap petugas kesehatan sebelum bertugas di rumah sakit Manila, April 2020. Reuters/Eloisa Lopez
  • Pejabat asuransi kesehatan Filipina diduga terlibat korupsi dana Covid-19. .
  • Sebanyak 43 pejabat senior mundur.
  • Menteri Kesehatan Filipina ikut terseret ke dalam pusaran skandal korupsi PhilHealth. .

MEMO baru yang dirilis Presiden Philippine Insurance Corporation (PhilHealth) Dante Gierran pada akhir September lalu langsung membawa dampak besar. Gierran meminta para pejabat yang menerima gaji lebih dari 109 ribu peso atau sekitar Rp 33 juta per bulan segera keluar dari perusahaan asuransi kesehatan milik negara itu. Kurang dari dua pekan setelah surat itu keluar, sebanyak 43 pejabat senior PhilHealth menyatakan mundur atau pensiun dini.

Surat itu menjadi bagian dari upaya Gierran untuk membersihkan perusahaan tersebut dari skandal korupsi. PhilHealth diperkirakan kehilangan hampir Rp 4,5 triliun selama penanganan pandemi Covid-19. Sebanyak 27 pejabat, 21 di antaranya dari kantor pusat PhilHealth, menyatakan mundur. Adapun 16 pejabat lain memilih opsi pensiun dini.

PhilHealth, seperti dilaporkan Manila Times pada Jumat, 9 Oktober lalu, menyebut memo itu sejalan dengan perintah Presiden Rodrigo Duterte untuk memberantas korupsi dan membersihkan lembaga tersebut dari orang-orang culas. Sebelum memo itu keluar, PhilHealth memiliki 66 pejabat yang menerima gaji lebih dari Rp 33 juta per bulan, tapi sebagian besar hanya berstatus pejabat sementara.


Juru bicara kepresidenan, Harry Roque, mengatakan perintah Gierran itu adalah cara tercepat untuk merombak PhilHealth. Gierran memiliki waktu terbatas untuk membersihkan PhilHealth dari korupsi. “Kami yakin dia memiliki informasi bagus untuk memandunya memilah surat pengunduran diri siapa saja yang bisa diterima,” kata Roque seperti dilaporkan CNN.

Kasus skandal korupsi PhilHealth meledak ketika Filipina justru tengah berjuang menghadapi pandemi Covid-19. Penyakit itu telah menginfeksi lebih dari 334 ribu penduduk dan membunuh 6.152 orang. Selama pandemi, PhilHealth membantu pendanaan untuk pengetesan dan perawatan pasien Covid-19. Namun para pejabat PhilHealth diduga telah menyelewengkan dana pandemi tersebut.

Presiden Duterte menunjuk Gierran menggantikan Ricardo Morales, yang mundur pada akhir Agustus lalu dari kursi pemimpin PhilHealth. Dengan latar belakang pengacara, akuntan, dan bekas Direktur Badan Investigasi Nasional, Gierran dinilai cocok merapikan PhilHealth. Presiden Duterte menugasi Gierran membersihkan PhilHealth dari para koruptor dalam waktu dua tahun. “Penjarakan mereka,” tutur Duterte seperti dilaporkan One News.

Praktik korupsi sistemik diduga telah menggerogoti PhilHealth dalam satu dekade terakhir. Penelusuran tim audit PhilHealth menemukan ribuan klaim asuransi, transaksi, dan pengeluaran dana yang janggal. Sejak 2013, PhilHealth diperkirakan telah kehilangan sekitar Rp 44 triliun karena penggelapan dana, transaksi palsu, dan korupsi. Duterte pernah melontarkan ancaman akan membubarkan PhilHealth jika skandal korupsi tak bisa diatasi.

Menurut bekas anggota tim antikorupsi PhilHealth, Thorsson Keith, para pejabat perusahaan diperkirakan mencuri sekitar US$ 300 juta dari dana mekanisme pembayaran kembali selama pandemi. Kebijakan ini awalnya dibuat untuk memotong prosedur pengucuran dana yang rumit sehingga rumah sakit dan fasilitas kesehatan bisa memperoleh uang lebih cepat dalam kondisi darurat, seperti ketika Filipina dihantam badai Haiyan pada 2013 atau saat terjadi krisis kemanusiaan akibat konflik bersenjata di Marawi tiga tahun lalu. Ketika pandemi Covid-19 menyerang Filipina, mekanisme ini diaktifkan lagi.

Keith adalah salah satu pembocor informasi adanya korupsi di PhilHealth. Dia memutuskan keluar dari lembaga itu karena merasa jijik terhadap praktik masif korupsi. Dia menduga ada jaringan mafia yang menguasai lembaga itu. Dalam pertemuan dengan Senat, seperti dilaporkan Rappler pada Agustus lalu, Keith menyebut Menteri Kesehatan Francisco Duque III sebagai bos mafia. Pasalnya, Duque terlibat dalam penunjukan sejumlah pejabat PhilHealth yang dinilai bermasalah.

Pekan lalu, Badan Investigasi Nasional menyampaikan laporan tuntutan dugaan korupsi terhadap Ricardo Morales. Selain menyasar Morales, tim investigasi mengincar delapan bawahannya yang diduga berpartisipasi dalam praktik korupsi. Mereka diduga bersekongkol mengeluarkan dana sebesar 2,7 miliar peso atau sekitar Rp 819 miliar untuk 139 rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Metro Manila yang menangani pasien Covid-19. Hasil penyelidikan lanjutan menunjukkan sebagian besar fasilitas kesehatan itu justru tak pernah merawat satu pun pasien Covid-19.

Morales juga diduga terlibat dalam penggelembungan dana untuk membeli peralatan dan perangkat lunak dalam anggaran teknologi dan informasi PhilHealth sebesar 2,1 miliar peso. Seperti dilaporkan ABS-CBN News, sejumlah harga barang didongkrak sampai empat kali lipat dari yang sudah disetujui Departemen Informasi dan Teknologi Komunikasi. “Ada sejumlah angka dalam anggaran dan laporan keuangan yang tak cocok,” ujar Alejandro Cabading, akuntan publik dalam tim pemeriksa laporan keuangan PhilHealth.

Menteri Hukum Menardo Guevarra mengatakan akan ada lebih banyak “ikan kakap” yang ditangkap dalam sesi perburuan para koruptor berikutnya. “Kami baru memulainya dan terus mengumpulkan bukti-bukti,” tutur Guevarra dalam rapat bersama Senat seperti dilaporkan The Inquirer pada Senin, 5 Oktober lalu.

Anggota Senat, Panfilo Lacson, menyebutkan tim investigasi dari Kementerian Hukum memiliki cukup bukti untuk menuntut Menteri Kesehatan Francisco Duque III. Duque sudah lama disebut-sebut sebagai pejabat yang paling diincar dalam skandal PhilHealth. Namun nama Duque, yang juga menjabat ketua dewan direksi PhilHealth, tak tercantum dalam laporan Badan Investigasi Nasional yang disampaikan ke kantor Ombudsman Filipina.

Nama bekas Wakil Presiden PhilHealth, Rodolfo del Rosario Junior, juga tak ada dalam laporan tersebut. Padahal Rodolfo pernah mengakui bahwa pengucuran dana sebesar 14,9 miliar peso untuk menalangi biaya rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain adalah tindakan ilegal.

Guevarra menyatakan tim investigasi akan tetap membongkar kasus-kasus dugaan korupsi yang diperkirakan melibatkan sejumlah pejabat publik senior itu. “Tidak tertutup kemungkinan ada sejumlah orang penting yang bakal dituntut,” ujarnya.

Duque membantah tudingan terlibat dalam korupsi di PhilHealth. Dia menyatakan justru menjadi korban ketidakadilan dan persekusi akibat tudingan tersebut. Duque mengaku tak hadir ketika para pejabat PhilHealth menandatangani keputusan pengucuran dana darurat Covid-19. “Saya sudah absen dari pertemuan direksi hampir empat bulan,” kata Duque. “Tak pernah ada tanda tangan saya dalam surat keputusan itu.”

Kesibukan sebagai ketua tim khusus penanganan pandemi Covid-19, menurut Duque, membuat dia tak lagi bisa hadir dalam pertemuan bersama petinggi PhilHealth. Duque menyebut semua tudingan itu tidak memiliki dasar apa pun. “Saya akan melawannya di pengadilan dan akan melakukan segalanya untuk membersihkan nama saya.”

Duque pun mendapat dukungan Presiden Duterte, yang menyatakan belum ada bukti kuat keterlibatan dan kesalahan Duque dalam skandal PhilHealth. Duterte mengatakan orang tak bisa serampangan menuntut seseorang karena tekanan untuk mendapatkan pelaku korupsi. “Saya harus memastikan aturan, baik itu untuk melawan maupun membela seseorang, bisa dipatuhi,” ucapnya.

GABRIEL WAHYU TITIYOGA (INQUIRER, PHILIPPINE STAR, RAPPLER, CNN, THE STAR

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-10-21 02:25:22

Filipina Covid-19 Rodrigo Duterte Korupsi

Internasional 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB