Resensi Film Cuties: Tarian Kontroversial dan Kerisauan Orang Dewasa - Sinema - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Sinema 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tarian Kontroversial Geng Cuties

Cuties dituduh sebagai film provokatif yang mendukung eksploitasi seksual anak. Perlu kepala dingin untuk memahami persoalan lebih besar yang harus diselesaikan di baliknya.

i Keluarga Amy mengikuti pengajian rutin yang diselenggarakan komunitasnya. Netflix.com
Keluarga Amy mengikuti pengajian rutin yang diselenggarakan komunitasnya. Netflix.com

DI antara 90 menit durasi film Cuties, separuhnya sangat mungkin membuat penonton memalingkan kepala dari layar dan berharap adegan yang sedang berlangsung cepat berlalu. Memang, menonton film ini dapat menjadi pengalaman sulit dan tak nyaman bagi banyak orang dewasa. Menit-menit terasa begitu panjang saat kamera dengan intens menyoroti bagian tubuh tertentu dari sekelompok anak perempuan berusia belasan tahun awal yang sedang menari dengan sensual.

Eksploitasi sudut kamera itu menjadi salah satu alasan film ini dihujani protes keras. Kecaman makin kencang saat Netflix, yang mendistribusikannya, memilih memasang poster yang terang-terangan menampilkan anak perempuan di bawah umur mengenakan kostum terbuka dan berpose dengan provokatif. Bahkan, sebelum perilisan resmi, ratusan ribu orang melayangkan petisi menolak Cuties karena menganggapnya berbau eksploitasi seksual anak. Tanda pagar #CancelNetflix sempat menjadi tren pembicaraan populer di Twitter. 

Amy (Fathia Youssouf) saat menjalanin hari pertama masuk sekolah. Netflix.com


Deskripsi singkat yang dicantumkan Netflix saat pertama kali mempromosikan film ini pun tak membantu. Tertulis: “Amy, 11, terpesona oleh kelompok tari twerk (tarian yang melibatkan goyangan dan entakan pinggul). Dia mulai menggali sisi femininnya dan menabrak tradisi keluarga untuk bergabung dengan kelompok itu.”

Setelah mendapat protes, Netflix mengganti poster dan mengubah susunan kalimat dalam deskripsi film, antara lain dari kelompok tari “twerk” menjadi “berjiwa bebas”. Co-CEO Netflix Ted Sarandos juga menghubungi sutradara Maïmouna Doucouré secara personal untuk meminta maaf karena pilihan strategi pemasaran mereka tak mencerminkan ide besar film yang dirilis dalam Sundance Film Festival awal tahun lalu dan membuat Doucouré diganjar Directing Award tersebut. Di tengah suara sumbang, penayangan Cuties tetap berjalan sesuai dengan rencana dan sudah dapat disaksikan di Netflix sejak awal September lalu. 

Cuties memang jauh lebih dalam dan memiliki banyak lapisan penting dibanding sekadar cerita tentang anak kecil ingin menari seksi. Ada persoalan rumit yang melibatkan tradisi patriarki yang mengakar, identitas masa puber, dan konten tanpa penyaring yang membanjir pada era media sosial. Permasalahan ini paling keras menghantam anak-anak dari kelompok marginal, yang dalam film ini diwakili oleh Aminata atau Amy.

Amy (Fathia Youssouef) menunjukan minatnya untuk menari. Netflix.com

Amy adalah anak perempuan sulung dari keluarga imigran muslim Senegal di Paris yang diandalkan untuk menjaga kedua adiknya. Amy tumbuh dalam ajaran tradisi dan agama Islam yang kuat. Hal ini dipastikan oleh dua perempuan dewasa dalam keluarga itu, yaitu ibunya, Mariam (Maïmouna Gueye), dan seorang bibi (Mbissine Thérèse Diop). Sementara itu, ayah dalam keluarga ini adalah sosok yang samar-samar. Dia tidak hadir dalam separuh durasi awal karena sedang mudik ke Senegal. Tapi kuasanya atas keluarga itu terasa kuat dan menjadi sumber konflik yang pelik.

Amy segera menyadari bahwa suara perempuan—setidaknya dalam ajaran yang diyakini keluarga dan komunitasnya—tak pernah lebih penting dari kebahagiaan laki-laki. Kepergian ayahnya bertujuan mencari istri baru yang akan dibawa ke Paris untuk tinggal bersama mereka. 

Dalam tekanan untuk menjadi perempuan dan istri yang patuh, Mariam harus legawa menghias kamar pengantin bagi si calon madu. Dia juga harus menyiarkan “kabar gembira” itu kepada kerabat dengan ceria dan penuh doa agar hubungan suami dengan istri keduanya mendapat berkah. Amy melihat betapa perihnya situasi itu untuk Mariam, tapi yang dia dengar dari penceramah dan orang dewasa lain di sekitarnya hanya, “Perempuan harus patuh kepada suami.”

Doucouré menyodorkan masalah menyesakkan tapi tak terkatakan dalam keluarga itu dari sudut pandang Amy. Gadis kecil itu hanya dapat mengamati dalam diam, mencuri dengar, dan menyatukan sedikit-sedikit alasan yang membuat rumahnya terasa makin tak nyaman. Tak beruntungnya Amy, dia tak punya cara mengungkapkan frustrasi yang memuncak akibat ketidakadilan yang ia rasakan. Sedikit celah dia temukan saat melihat anak perempuan tetangganya, Angelica, menari hip-hop dengan bersemangat di ruang cuci. 

Di sekolah, Angelica memiliki geng yang menyebut diri sebagai Cuties. Geng itu mendandani diri dengan baju crop top, rok mini, serta lip gloss meluber dan sedang bersiap mengikuti kompetisi tari. Ada yang menyala dalam diri Amy saat mengenal Angelica dan dia mulai mengalihkan perhatian pada upaya menjadi bagian dari kelompok trendi itu. Pada saat bersamaan, Amy mendapat akses ke telepon seluler dan media sosial yang menyediakan semua pengetahuan yang dia butuhkan tentang tarian. Tak ada yang mengingatkan Amy bahwa tak semua yang dia temukan dalam rimba digital itu pantas ditiru. Berbekal gerakan dan teknik menari sugestif yang dipelajari dari Internet, Amy mendapat pengakuan yang sangat dia butuhkan dari teman sebayanya.

Pilihan-pilihan yang diambil Amy makin lama makin mengganggu dan tak masuk akal. Namun, jika kita ingat bagaimana kita dulu pada usia 11 tahun, bukankah memang banyak tindakan tak masuk akal yang kita lakukan dalam perjalanan mencari identitas diri? Doucouré, seorang ilmuwan biologi, paham betul aspek biologis, sekaligus psikologis dan sosiologis, pada tahapan ini. Dia merangkai sebuah siklus cepat dan beruntun yang ditempuh Amy pada usia ketika pemberontakan sangat umum terjadi. Sesekali juga dimunculkan elemen sureal yang dapat dipahami sebagai mekanisme Amy untuk mencoba memahami atau membenarkan apa yang sedang terjadi di sekitarnya.

Cuties, meski dibintangi anak-anak dan menceritakan kisah kanak-kanak, bukanlah film yang ditujukan bagi penonton belia. Isinya adalah sekeping realitas yang disajikan secara mentah bagi orang dewasa yang lebih punya kuasa untuk menciptakan dunia yang lebih ramah anak.

Persoalan anak yang mempertontonkan diri dengan cara yang tak sesuai dengan umurnya memang menggelisahkan dan patut dihentikan. Tapi itu adalah buah persoalan lebih terstruktur yang membentuk identitas anak. Terutama anak dari kelompok yang tak memiliki privilese berupa pendidikan, komunikasi keluarga yang terbuka, dan dukungan mental untuk menapis konten media sosial. Dengan sangat provokatif, Cuties mencolek orang dewasa agar merasa risau bersama dan memikirkan jalan keluar dari persoalan itu. 

MOYANG KASIH

Cuties (Mignonnes)

Sutradara: Maïmouna Doucouré
Skenario: Maïmouna Doucouré
Pemain: Fathia Youssouf, Médina El Aidi-Azouni, Esther Gohourou, Ilanah Cami-Goursolas, Myriam Hamma, Maïmouna Gueye

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-10-27 22:36:48

Cuties Film

Sinema 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB