Studi: Senyum Meskipun Palsu Dapat Membuat Anda Bahagia - Ilmu dan Teknologi - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Senyum Palsu Pun Membuat Bahagia

Studi oleh peneliti University of South Australia menemukan bahwa tersenyum, meski palsu, dapat berdampak positif pada suasana hati. Kabar baik di tengah tingginya jumlah orang yang mengalami depresi akibat pandemi Covid-19. 

i Ilustrasi yoga yang menekankan pada wajah untuk tersenyum dan tertawa, di Jogjakarta, Mei 2017./Dok Tempo/Pius Erlangga
Yoga yang menekankan pada wajah untuk tersenyum dan tertawa dipraktekkan sejumlah orang di Yogjakarta, Mei 2017. Dok. Tempo/Pius Erlangga
  • Penelitiaan oleh ilmuwan dari University of South Australia menemukan bahwa senyuman yang palsu sekalipun dapat berdampak positif pada suasana hati. .
  • Menggerakkan otot-otot wajah sehingga meniru gerakan senyum dapat mengelabui otak sehingga otak berpikir Anda sedang bahagia.
  • Temuan ini dianggap tepat waktu di saat dunia di tengah krisis Covid-19, dan meningkatnya kecemasan dan depresi yang mengkhawatirkan di seluruh dunia. .

DEPRESI menjadi tren global setelah dunia dilanda pandemi Covid-19. Wabah yang bermula dari Kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019 lalu itu kini menginfeksi lebih dari 36 juta jiwa, merenggut nyawa lebih dari 1 juta orang, dan menyebabkan ratusan jutaan orang kehilangan pekerjaan karena perekonomian global yang melambat.

Washington Post pada edisi akhir Mei lalu merilis data Biro Sensus Amerika Serikat yang menyebut sepertiga orang Amerika menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau depresi klinis. Ini merupakan tanda paling pasti dan mengkhawatirkan dari korban psikologis yang ditimbulkan oleh pandemi. Temuan tersebut menunjukkan peningkatan drastis dibanding situasi sebelum pandemi.

Dengan angka depresi yang meningkat secara global, penelitian University of South Australia yang dirilis Agustus lalu bisa menjadi kabar baik. Hasil studinya menegaskan bahwa menggerakkan otot-otot wajah, yang membuat orang terlihat tersenyum, dapat menipu pikiran sehingga membuat orang lebih positif. “Saat dunia di tengah krisis Covid-19, dan meningkatnya kecemasan dan depresi yang mengkhawatirkan di seluruh dunia, temuan ini sangat tepat dari sisi waktu,” demikian penjelasan University of South Australia dalam siaran persnya.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Experimental Psychology volume 67, para peneliti menemukan bahwa tersenyum—bahkan senyuman palsu—dapat berdampak positif pada suasana hati. Hasil studi itu intinya menegaskan bahwa memicu otot wajah sehingga membuatnya terlihat tersenyum dapat “mengelabui” otak Anda sehingga berpikir bahwa Anda bahagia. “Ketika otot Anda mengatakan Anda bahagia, Anda lebih cenderung melihat dunia di sekitar Anda dengan cara yang positif,” kata Fernando Marmolejo-Ramos, salah satu peneliti.

Dalam studi ini, peneliti meminta 120 peserta (55 laki-laki dan 65 perempuan) untuk tersenyum dengan cara menggigit pena di antara gigi mereka, yang memaksa otot wajah mereka meniru gerakan senyuman. Tim peneliti menemukan bahwa aktivitas otot wajah itu tidak hanya mengubah ekspresi wajah, tapi juga menghasilkan emosi yang lebih positif.

Marmolejo-Ramos mengatakan gerakan otot pada senyuman merangsang amigdala—bagian otak yang memungkinkan Anda merasakan emosi—untuk melepaskan neurotransmitter yang mendorong keadaan emosional yang positif. Neurotransmitter adalah senyawa kimiawi dalam tubuh yang bertugas untuk menyampaikan pesan di antara satu sel saraf (neuron) ke sel saraf target. “Jika kita bisa mengelabui otak agar menganggap rangsangan sebagai ‘bahagia’, kita berpotensi menggunakan mekanisme ini untuk membantu meningkatkan kesehatan mental,” kata Marmolejo.

Studi ini memang bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Penelitian dari ahli saraf yang berbasis di New York Isha Gupta juga menemukan bahwa tersenyum dapat meningkatkan kadar hormon seperti dopamin dan serotonin dalam tubuh. “Dopamin meningkatkan perasaan bahagia kita. Pelepasan serotonin dikaitkan dengan berkurangnya stres. Tingkat serotonin yang rendah dikaitkan dengan depresi dan agresi,” kata Gupta seperti dilansir NBC News.

Menurut Margaretha, pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya, studi peneliti di University of South Australia itu terkait dengan upaya mengubah proses di dalam otak. Selama ini, upaya itu bisa dilakukan dengan mengubah tiga hal: fisiologis, perilaku, dan berpikir. Perubahan secara fisiologis terjadi melalui penambahan hormon tertentu untuk menurunkan tingkat stres. Kadar serotonin yang rendah dalam tubuh seseorang bisa menyebabkan depresi. Untuk mengatasinya, suplemen hormon diperlukan untuk membantu kestabilan emosi.

Adapun perubahan secara perilaku bisa dilakukan melalui perilaku yang tampak dan tidak tampak. Kedua jenis perilaku itu bisa mengubah stimulus yang disalurkan ke otak, yang kemudian diproses untuk memunculkan respons neurologis di pusat pemrosesan di otak. Penelitian di University of South Australia ini berkaitan dengan perilaku yang tidak tampak dengan menyuruh orang menggigit pensil, menggerakkan otot wajah sedemikian rupa sehingga menstimulasi senyum.

Riset serupa yang sudah dilakukan sebelumnya adalah mendorong perubahan otak melalui perilaku yang tampak. Contohnya penelitian untuk meningkatkan kepercayaan diri. Selama ini, orang yang tidak percaya diri cenderung ditampilkan badannya mengecil dan tatapan kontak matanya lebih rendah. Upaya mengubahnya bisa dengan cara memintanya membusungkan dada dan membuat kontak matanya lebih langsung. “Perubahan itu mempengaruhi informasi ke otak dan lama-kelamaan ini menimbulkan rasa percaya diri,” kata Margaretha.

Pengajar yang kini sedang melanjutkan studi di Australia itu punya pengalaman menangani orang depresi ringan. Orang-orang ini, kata Margaretha, biasanya terfokus pada persoalan hidupnya dan sangat mudah jatuh ke dalam spiral kesedihan. Yang ia lakukan adalah mengubah cara berpikirnya untuk melihat yang terjadi di luar. Salah satu cara yang dia terapkan adalah memanipulasi perilaku.

Menggunakan pendekatan perilaku kognitif, Margaretha memberi tugas kepada orang tersebut untuk menyapa orang dan tersenyum ke orang di sekelilingnya, paling tidak lima orang per hari. Perilaku itu akan memaksa dan memanipulasi perilaku yang cenderung menutup diri. “Dampaknya lebih alamiah, situasinya riil. Kalau kamu tersenyum, orang akan senyum balik. Ada feedback. Beda kalau dengan cara gigit pensil,” kata dia.

Perubahan ketiga, kata Margaretha, bisa dilakukan melalui cara berpikir. Dengan mengatakan kata-kata tertentu secara terus-menerus hingga orang itu mempercayainya, sampai pikiran orang itu berubah. Dengan mengubah cara pandang, asumsinya itu akan mengubah pandangannya, dan kemudian hal itu akan mengubah cara otaknya bekerja.

Menurut Margaretha, otak menjadi sasaran untuk diubah karena fungsinya mengatur seluruh tubuh. “Ketika otak kita itu dibuat lebih rileks, dia akan mengatur tubuh untuk memproduksi hormon rendah stres. Tapi, kalau otak kita mempersepsikan stres sangat tinggi, ia akan memerintahkan tubuh menghasilkan hormon untuk menghadapi stres. Kalau hormon stres sangat banyak, itu berpengaruh ke seluruh organ tubuh,” ucap Margaretha.

Margaretha setuju bahwa studi University of South Australia ini menarik, tapi perlu hati-hati untuk menyebutnya sebagai terobosan bagi kesehatan mental. Mengutip pernyataan Badan Kesehatan Dunia (WHO), komponen kesehatan mental itu meliputi empat kemampuan: produktif, menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari, aktualisasi bakat dan potensi diri, serta produktif untuk komunitas. “Keempat poin itu menunjukkan bahwa kesehatan mental bukan hanya tentang gangguan mental, apalagi hanya bahagia atau tidak bahagia,” tuturnya.

Bagaimana memanfaatkan studi terbaru ini dalam kebutuhan sehari-hari? Menurut Margaretha, akar penyebab stresnya harus dilihat terlebih dulu. Kalau pemicu stres adalah masalah yang butuh penyelesaian, perlu dicari strategi untuk menyelesaikannya. Tapi kalau persoalannya adalah pada sesuatu yang sifatnya pengelolaan emosi, hal lain bisa dilakukan. Misalnya, mendengarkan lagu yang riang, atau yang nadanya lebih cepat. “Atau bisa bikin senyum dengan menggigit pensil ini,” ujar dia.

Untuk kebutuhan hidup sehari-hari di tengah pandemi ini, kata Margaretha, hasil studi dari kampus di Australia itu mungkin bisa diterapkan untuk membantu mereka yang mengalami depresi ringan. “Kalau depresi berat, mungkin karena persoalannya lebih mengakar, tidak bisa dengan cara biasa, tapi sudah butuh intervensi obat-obat psikoterapi,” kata Margaretha.

ABDUL MANAN (UNIVERSITY OF SOUTH AUSTRALIA, EXPERIMENTAL PSYCHOLOGY, AUTRALIAN’S SCIENCE CHANNEL, NBC NEWS, WASHINGTON POST)                                                                                    

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-10-23 10:25:31

Kabar Pandemi #JagaJarak #PakaiMasker #CuciTangan Penelitian Ilmiah

Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB