Internasional 5/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Potong Gaji untuk Menang

Masalah lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi jadi pekerjaan rumah yang krusial. Sarkozy berusaha menggaet dukungan kelompok kanan.

i

Sejak krisis mendera Prancis pada 2008, kekerasan merupakan hal sehari-hari di wilayah itu. Menyodorkan alasan sempitnya lapangan pekerjaan, mereka menempuh jalan pintas: berjualan narkoba. Dua pekan lalu, dua orang polisi, tiga anak, dan seorang rabi, pemimpin agama Yahudi, tewas ditembak di tempat itu. Para pemuda itu bagian dari imigran gelap dari Aljazair dan Afrika Utara yang masuk ke Prancis melalui Spanyol. Ini topik yang jadi buah pembicaraan para kandidat Presiden Prancis.

Di depan seribu pendukungnya, pada Hari Buruh dua pekan lalu, presiden inkumben dari Partai Konservatif, Nicolas Sarkozy, berjanji memperketat imigran gelap yang masuk, menerapkan kebijakan anti-Islam, dan memberi jaminan keamanan nasional. Imigran gelap dan kelompok Islam dianggap sebagai masalah utama bagi Prancis. Mereka telah mengurangi anggaran bantuan pemerintah yang seharusnya hanya untuk pribumi. Ia siap memangkas jumlah imigran hingga 10 ribu orang.

Manuver ini memang seirama dengan suara kelompok Front Nasional—yang memenangi peringkat ketiga saat mengusung kandidat presiden Marine Le Pen. Le Pen mendapat dukungan 17,9 persen suara. Sarkozy memang sedang berupaya menggaet suara pendukung Le Pen. Pendukung Le Pen dianggap bisa mengatrol suara Sarkozy dalam pemilihan. Sarkozy, yang memperoleh 27,2 persen suara, bersaing ketat dengan Francois Hollande, yang memimpin putaran pertama dengan 28,6 persen. Ada kemungkinan pada putaran kedua Hollande mendapat dukungan dari kelompok kiri, Partai Komunis, yang sebelumnya mendapat 11,2 persen suara.


Le Pen di depan 6 juta pengikutnya menyatakan tidak akan menginstruksikan dukungan kepada salah satu kandidat. Ia menyerahkan lembaran kosong surat suara itu diisi sesuai dengan harapan masing-masing. Ia berpesan agar para pendukungnya tidak terpancing adanya kekerasan pada pemilihan presiden. "Pada hari Minggu, saya telah membuat pilihan. Pilihan itu saya serahkan kepada Anda," katanya.

161862588323

Dalam bidang ekonomi, Sarkozy tidak akan mengubah kebijakan secara signifikan. Ia tetap menargetkan keseimbangan anggaran pada 2017 dan mengurangi utang tiga persen pada 2013. Ia juga akan menaikkan usia pensiun, yang semula 60 tahun, menjadi 62 tahun. Namun sejumlah pihak menentang usul ini.

Hollande, yang berasal dari Partai Sosialis, santai menghadapi pertarungan. Ia telah menyiapkan program yang lebih mendukung rakyat kecil. Gaji mereka yang berpenghasilan di atas 1 juta euro atau sekitar Rp 12 miliar akan dipotong hingga 75 persen dan yang berpenghasilan separuhnya akan dipotong 45 persen. Ia berjanji membuka 150 ribu lapangan kerja baru dan fasilitas pelatihan kepada penganggur. Di bidang fiskal, Hollande siap merenegosiasi disiplin anggaran di Eropa. Misalnya penciptaan Eurobonds untuk pembiayaan infrastruktur dan pajak transaksi keuangan serta penggunaan Bank Investasi Eropa untuk membantu usaha kecil.

Dalam beberapa jajak pendapat yang digelar sejumlah lembaga, Hollande masih memimpin. Dua lembaga survei, BVA dan Ifop, yang menggelar jajak pendapat pada 1 Mei, mencatat Hollande unggul dengan 53,5 persen, sedangkan Sarkozy 46,5 persen. "Jajak pendapat itu opini yang membohongi. Itu tak pernah dilakukan terbuka bahkan setelah debat kandidat," kata Sarkozy kepada Radio RTL.

Debat kandidat disiarkan di televisi pada Rabu malam pekan lalu. Tema utamanya mengatasi ekonomi yang jatuh, angka pengangguran yang mencapai 10 persen, imigrasi, dan tenaga nuklir. Hollande terlihat percaya diri, sedangkan Sarkozy tampak gugup. Hollande mengatakan tidak yakin terhadap strategi menghadapi krisis dengan penghematan. Menurut dia, Prancis perlu menumbuhkan ekonomi baru. "Eropa tidak bisa mengatasi masalah dengan strategi itu," katanya. Ia menunjuk kegagalan Sarkozy mengurangi angka pengangguran. "Ini telah terjadi sejak 2009 tanpa solusi tepat," ujarnya.

Sarkozy membalas serangan Hollande. Ia mengklaim telah berhasil menghindari jatuhnya mata uang euro bersama Kanselir Jerman Angela Merkel. "Saya akan mengikuti Jerman, bukan Spanyol atau Yunani," katanya.

Malam itu, jalan-jalan Kota Paris terlihat sepi, tak seperti biasanya. Banyak orang tinggal di rumah untuk menyaksikan perdebatan. Sebagian dari mereka menonton debat itu di kafe. Sekitar 17,8 juta dari total 44,5 juta penduduk yang berhak memilih menyaksikan perdebatan.

Melalui sambungan telepon, Elizabeth In, 52 tahun, warga Paris yang pernah tinggal di Yogyakarta, mengatakan sebagian besar tetangganya cenderung memilih Hollande. Kebijakan Hollande lebih menjanjikan ketimbang janji-janji Sarkozy, yang dinilai arogan. Saat pertama kali terpilih, Sarkozy menaikkan gaji pribadinya. Mengenai pembatasan imigran dan Islam, menurut Elizabeth, hanya sebagian yang bermasalah. Elizabeth bersimpati kepada Hollande, yang telah berucap akan memotong 30 persen gajinya dan gaji menterinya untuk jaminan sosial. Toh, tak semua rekan Elizabeth memilih Hollande. Ada juga yang memilih Sarkozy. "Mereka ingin bisnisnya tak terganggu oleh kebijakan presiden baru. Padahal belum tentu kebijakan baru itu buruk," ujarnya.

Populasi imigran mencapai 140 ribu orang—sebagian besar muslim. Tak kurang dari sepertiga penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Sebanyak 40 persen usia produktif di wilayah itu menganggur. Kelompok muslim ini sudah memasuki generasi kedua dan generasi ketiga. Leluhur mereka masuk ke Prancis untuk menjadi pekerja gelap pada 1960 dan 1970.

Menurut Elizabeth, sebagian penduduk menganggur saat banyak perusahaan menutup usahanya setelah krisis. Mereka hanya menonton televisi di rumah dan terkadang berbelanja. Maklum saja, pemerintah Prancis memberikan jaminan hidup sekitar 450 euro atau sekitar Rp 5,4 juta per orang kepada penganggur. Pemerintah ingin uang itu digunakan untuk menyambung hidup saat penduduk tak punya pekerjaan. Jika pasangan suami-istri menganggur, mereka akan menerima uang jaminan dua kali lipat. Jumlah ini hanya cukup untuk hidup pas-pasan di Prancis.

Lowongan pekerjaan masih ada, tapi bebannya lebih berat. Sebelum krisis, beban pekerjaan hanya 35 jam per minggu, sedangkan kini bisa lebih. "Banyak yang ingin enaknya saja," kata Elizabeth, Rabu pekan lalu.

Ia mengatakan tak ada warga Prancis yang kelaparan meski masih terlihat bergelandangan. Pemerintah menyediakan layanan kesehatan, pendidikan, dan penginapan. Bahkan pada setiap musim dingin sejumlah lembaga swadaya masyarakat menyediakan makanan gratis. Meski jaminan hidup mencukupi, para imigran tetap khawatir akan masa depan mereka.

Pemerintah menyediakan jaminan sosial dengan memotong penghasilan mereka yang bekerja. Mereka yang kaya tak ikhlas penghasilannya dipangkas untuk disumbangkan kepada penganggur. Mereka memilih hijrah ke Belgia, tapi tetap memegang kewarganegaraan Prancis. Pajak yang diberlakukan di Belgia lebih rendah. Tahun lalu, pengusaha yang pindah mencapai 20 ribu orang. "Mereka ingin pendapatannya tetap untuk hidup bersenang-senang," ujar Elizabeth.

Kondisi perekonomian Eropa memang sedang jatuh seiring dengan krisis pada 2008, termasuk Prancis. Utang Prancis pun menggunung mencapai 1.700 miliar euro atau sekitar Rp 20,5 ribu triliun. Utang ini mencapai 83 persen dari produk domestik bruto. Jumlah penganggur pun mencapai 9,9 persen, yang merupakan angka tertinggi selama ini. Itu menjadi masalah utama yang harus diatasi calon presiden yang akan bertarung pada pemilihan putaran kedua, Ahad, 6 Mei.

Jika Hollande menang, ia akan menjadi presiden sosialis setelah 17 tahun lalu. Dan jika Sarkozy kalah, tak ada presiden yang menjabat untuk kedua kalinya sejak 1981.

Eko Ari Wibowo (Christian Science Monitor, Daily Mail, Reuters)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161862588323



Internasional 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.