Hukum 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pembelaan berdarah

Seorang petani kopi bunuh diri di depan sidang desa setelah divonis denda rp 700 ribu. ia dituduh mencuri 2 kilogram kopi.

i
SIDANG desa itu berakhir dengan tewasnya terdakwa. Ia roboh bersimbah darah di hadapan mereka yang mengadilinya. Ia tersungkur di depan pamong Desa Pelangkian, Kabupaten Rejanglebong, Bengkulu, dengan pisau menancap di dadanya. Tapi ini bukan eksekusi. Rani, terdakwa berusia 41 tahun itu, melakukan bunuh diri. Petani kopi yang lugu itu meninggal di rumah sakit, dua minggu kemudian. Tindakan nekat itu dilakukannya sebagai pernyataan tidak puas terhadap ''vonis'' yang dijatuhkan padanya. Ia harus membayar ''denda'' Rp 700 ribu. Padahal, tuduhan yang dilontarkan kepadanya cuma mencuri 3 cupak kopi (sekitar 2 kg kopi basah) dari kebun tetangganya. Peristiwa dramatis ini terjadi pertengahan bulan lalu. Namun, baru pekan lalu, Rahimah, istri petani yang malang itu, mengadukan nasib suaminya ke Polisi Sektor Kepahiang. Polisi, yang tahu peristiwa itu dari laporan kepala desa, ternyata tak berusaha mengusut. ''Siapa yang harus diperiksa? Si Rani kan mati bunuh diri,'' ujar Kapolsek Kepahiang, Letda B. Adnan. Peristiwa tragis itu berawal pada keterangan Sukril dan Prawijaya. Kedua hansip ini mengaku memergoki Rani memetik kopi malam hari di kebun milik Samiadi, yang bersebelahan dengan kebun Rani. Kedua hansip itu tak sampai menangkap Rani. ''Ia menghilang di kegelapan,'' cerita Sukril kepada Samiadi, si pemilik kebun. Tanpa berusaha mengecek kebenaran cerita ini, Samiadi, 80 tahun, melaporkan kejadian itu ke Kepala Desa Pelangkian. Ia minta Rani ditangkap dan diadili. Alwi, 47 tahun, Kepala Desa Pelangkian, setuju. Tak sulit menangkap ayah dua anak yang biasa menginap di kebun kopinya itu. Sidang digelar Jumat, 16 April, di balai desa. Alwi bertindak sebagai ''hakim'', Suid, ketua LKMD, ditunjuk menjadi ''jaksa'', sedangkan Sukril dan Prawijaya tampil sebagai saksi. Rani duduk tepekur di kursi terdakwa. Ia tentunya tak didampingi pengacara sebagaimana layaknya di pengadilan sungguhan. Rani menolak semua tuduhan. Namun, ia bingung karena keterangannya selalu ditimpali teriakan-teriakan hadirin. Apalagi Serda Lukman, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Pelangkian, membentaknya, ''Lebih baik mengaku. Kalau tidak, kamu akan ditahan polisi.'' Suid, sang ''jaksa'', membujuk, ''Bila kau mengaku, perkara ini selesai, dan kamu akan dimaafkan.'' Karena tekanan dan bujukan, Rani akhirnya mengaku. ''Ya, saya mencuri tiga cupak, Pak Kades,'' katanya pelan. Namun, ''hakim'' Alwi, yang tak merasa terikat pada pernyataan ''jaksa'', memutuskan bahwa Rani didenda Rp 700 ribu. ''Kalau tidak membayar, kamu akan dibawa ke kantor polisi,'' ancam Alwi. Menurut Alwi, denda sebesar itu didasarkan pada laporan Samiadi, yang mengaku kebunnya sudah tiga tahun dijarah Rani. Mendengar keputusan itu, Rani merasa dikhianati. Ia berdiri, mencabut pisau yang terselip di pinggangnya, dan menghunjamkannya ke dada. Darah muncrat, dan ia langsung roboh ke lantai. Tidak seorang pun dari 23 hadirin sempat mencegah perbuatan bunuh diri itu. ''Peristiwanya berlangsung cepat,'' ujar seorang saksi mata. Suasana sidang kemudian kacau. Penonton berlarian, meninggalkan Rani yang terkapar. Hanya Hasanuddin, kakak ipar Rani, yang menolong mencabut pisau dari dadanya. Kepada Hasanuddin, Rani sempat berkata, ''Saya malu, saya tidak mencuri kopi, lebih baik mati.'' Lalu ia pingsan dan dilarikan ke puskesmas. Tapi ia tak tertolong. Menurut dokter, usus dan hatinya sobek kena tikam. Mengapa pencurian itu tidak dilaporkan saja ke polisi? Alwi mengeluh, ''Kami ini serba-sulit. Kalau dilaporkan ke polisi, kasus seperti begini tidak pernah diselesaikan. Kalau itu tidak ditangani, kepala desa diejek masyarakat.'' Tapi Alwi membantah jika penyidangan itu dianggap sebagai pengadilan. ''Kami hanya mengumpulkan bahan untuk lapor ke polisi,'' kilahnya. Tapi Hasanuddin, ipar Rani, menganggap persidangan itu peradilan adat. ''Dalam sidang adat memang ada hukum denda, yang disepakati kedua pihak yang bersengketa,'' katanya, ''tapi penyidangan dan denda untuk Rani itu sudah keterlaluan.'' Hasanuddin, yang juga bekas Kepala Desa Pelangkian, mengaku sering menyelesaikan kasus serupa dengan peradilan adat selama 14 tahun berdinas sebagai kepala desa. Desa Pelangkian dihuni 11.932 jiwa. Hampir semua penduduknya berkebun kopi. Dari luas desa yang 384 hektare, 200 hektare diolah menjadi kebun kopi. Rani memiliki satu hektare kebun kopi, warisan orang tuanya. Tiap panen ia menuai 1,5 ton kopi kering dan 7 ton jahe. ''Jadi, untuk apa mencuri kopi di kebun orang?'' ujar Rahimah. Ada dugaan, isu pencurian kopi itu berakar pada persaingan Rani dan Samiadi. Pada kenyataannya, kebun kopi Rani terawat baik, sementara kebun Samiadi, yang bersebelahan dengan kebun Rani, tampak kurang terawat. Anehnya, ketika kasus ini dikonfirmasikan di Kantor Polisi Wilayah Bengkulu, Rabu pekan lalu, Kapolwil Kolonel Djaui Sikumbang terkejut. ''Belum ada laporannya,'' katanya sambil meraih telepon, mengecek ke Kapolsek Kepahiang. Djaui segera memerintahkan pengusutan. Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Bengkulu, Thamrin Raja Bangsawan, menyesalkan kelambatan polisi. Dalam kasus ini, menurut Thamrin, ada unsur yang membiarkan tersangka bunuh diri. ''Membiarkan orang bunuh diri bisa dituntut. Ini bukan delik aduan,'' katanya. Ihwal denda dalam peradilan adat, menurut Thamrin, yang juga dosen hukum pidana Universitas Bengkulu, tidak salah. Sejauh pembuktiannya benar, dan sepanjang pelaksanaannya wajar, cara itu bagus untuk membudayakan rasa malu. ''Tapi penyidangan Rani itu, ya, kebangetan. Denda Rp 700 ribu sudah wewenang pengadilan negeri,'' katanya. Hasan Syukur

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836244279



Hukum 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.