Pesta Berlian di Negeri Singa - Ekonomi dan Bisnis - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Ekonomi dan Bisnis 5/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pesta Berlian di Negeri Singa

Liem Sioe Liong merayakan pesta ulang tahun perkawinan di Singapura. Dihadiri para konglomerat, politisi Golkar, dan mantan pejabat Orde Baru.

i

DI Shangri-La Island Ball Room, Hotel Shangri-La di kawasan elite Orchard Road, Singapura, seratus meja disiapkan untuk menjamu seribu tamu, Kamis malam pekan lalu. Para kerabat dan kolega dari Indonesia "dijemput" khusus dengan pesawat Singapore Airlines. Tak ubahnya reuni istimewa, berkumpullah sejumlah saudagar besar sampai mantan pejabat Orde Baru.

Sahibulhajat memang tak lagi sebugar dulu. Kedua tangannya harus dipapah kiri-kanan ketika beringsut menuju panggung. Selembar pelataran hidraulik disiapkan khusus untuk "mendongkrak" pria berusia hampir 88 tahun itu, yang tak kuat lagi menapaki anak tangga. Siapa nyana, dialah Liem Sioe Liong alias Soedono Salim, taipan yang pada suatu masa malang-melintang di jagat bisnis Indonesia.

Lama nyaris tak terdengar, pendiri kerajaan bisnis Grup Salim kelahiran Fukien, Cina, itu menggelar pesta perkawinan berlian (diamond jubilee), memperingati usia pernikahannya ke-60 tahun. Di antara tamu tampak mantan Menteri Penerangan Harmoko, mantan Sekretaris Negara Moerdiono, mantan Menteri Transmigrasi Siswono Yudhohusodo. Akbar Tandjung, Ketua DPR RI, bahkan sepertinya mendapat perlakuan istimewa.


Bersama Direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Jusuf Wanandi, calon kuat kandidat presiden dari Partai Golkar itu ditempatkan di meja yang tepat bersebelahan dengan meja "Om Liem"?begitu sang taipan biasa disapa?beserta istri dan anak-anaknya. Dari kalangan pengusaha, hadir antara lain Putra Sampoerna (PT HM Sampoerna Tbk.), Prajogo Pangestu (Grup Barito), Sukanto Tanoto (Grup Raja Garuda Mas), Ciputra (Grup Ciputra), Joko Tjandra (Grup Mulia), serta Murdaya Po (Asea Brown and Boveri) dan istrinya, Hartati Murdaya (Grup Berca).

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTI6MTU6MTciXQ

Tak sekadar wajah lama, para pengusaha yang berkibar belakangan, setelah Soeharto lengser, pun tak ketinggalan unjuk muka. Sebutlah Hary Tanoesoedibjo (PT Bhakti Investama Tbk.), Chaerul Tanjung (PT Bank Mega Tbk.), serta Pieter Tanuri dan Avi Yasa Dwipayana (PT Trimegah Securities Tbk.). Eva Riyanti Hutapea, yang sudah undur diri dari PT Indofood Sukses Makmur Tbk., satu di antara perusahaan Grup Salim, hadir didampingi suaminya, Bunbunan Hutapea, Deputi Gubernur Bank Indonesia). Bahkan Kepala Perwakilan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk Indonesia, David Nellor, memerlukan datang.

Semua tamu penting itu diinapkan di dua hotel berbintang lima: Shangri-La dan Meritus Mandarin. Tak aneh bila kedua hotel yang kabarnya sebagian sahamnya dimiliki Liem itu langsung fully-booked. Itu pun belum apa-apa. Luasnya kolega mantan pasien Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dengan utang Rp 52,7 triliun itu membuat perhelatan harus digelar dua malam berturut-turut. Pada hari kedua, giliran para kolega bisnis dan pejabat Singapura yang diundang. Jumlahnya juga sekitar seribuan orang.

Bak muktamar organisasi besar, semua petugas dan anggota panitia diharuskan menggunakan tanda pengenal. Untuk menjamin upacara berjalan mulus, sore hari sebelum pesta, Om Liem menyempatkan diri menghadiri gladi resik. Hasilnya memang rapi-jali. Semua meja penuh terisi tamu. Ketika sang taipan, bersama nyonya, merapat ke tempat upacara diantar Rolls Royce abu-abu metalik bernomor polisi EU3666P, lengkap dihiasi bunga bak mobil pengantin, semaraklah sambutan para undangan.

Tepat pukul 19.30, pesta dibuka. Selaku anak tertua, Albert Halim memberikan sambutan sekaligus mengenalkan Liem dan istri, raja dan ratu malam itu, kepada para undangan. Tepuk tangan memenuhi ruang yang didesain khusus dengan gaya oriental Cina, dengan tiga foto besar Liem dan Nyonya di tiga sisi ruangan. Penyanyi jazz sohor dari Singapura, Claressa Monteiro, membuka acara dengan tembang Unforgettable, yang pernah dipopulerkan Nat "King" Cole.

Dari Indonesia, tampil Ruth Sahanaya diiringi Dian HP Band, membawakan enam lagu. Mereka, bersama 18 personel lain yang dipimpin Jeffrey Waworuntu, diterbangkan khusus untuk perhelatan ini. Acara kian meriah ketika dua cucu Liem tampil di panggung. Axton Salim, cucu laki-laki, membawakan beberapa lagu jazz. Adapun Astrid Salim, putri Anthony Salim?putra bungsu Liem?yang sudah dua kali menyabet gelar penari Latin terbaik Singapura, membawakan sejumlah nomor berpasangan dengan suaminya. Para tamu tak henti-hentinya bertepuk tangan.

Om Liem dan istri duduk di meja bernomor 99?yang dalam tradisi Cina melambangkan keberuntungan?bersama ketiga anak laki-lakinya, Albert Halim, Andree Halim, Anthony, dan satu putrinya yang bersuamikan Franciscus Welirang. Ia lebih banyak terdiam. Meski begitu, ketika TEMPO menanyakan perasaannya, Liem dengan lantang menjawab, "Gembira." Hanya itu.

Kabarnya, biaya yang dihabiskan untuk perhelatan ini mencapai sekitar Rp 40 miliar. Sayang, Anthony tak mau berkomentar apa pun tentang pesta ini. "Nanti saja, I'll call you," ujarnya, selalu menghindar. Jawaban bernada "meluruskan" justru datang dari Franciscus, menantu Liem. "Logic-nya enggak masuk," katanya mengenai angka Rp 40 miliar itu. "Untuk makan seribu orang, sewa pesawat terbang, dan hotel, paling berapa, sih?" ia malah bertanya.

Ia juga menampik perhelatan ini jadi ajang "reuni" pejabat dan pengusaha Orde Baru. "Banyak juga pengusaha baru," tuturnya. "Sewaktu pernikahan anak Pak Anthony (sekitar tiga pekan lalu?Red.), undangan yang hadir juga sama," ia menambahkan. Komentar senada diungkapkan para mantan pejabat Orde Baru. Harmoko mengaku kehadirannya sekadar silaturahmi. "Ini bukan soal pejabat. Ini soal manusiawi saja sebagai kenalan lama," katanya.

Moerdiono juga menampik jika pesta ini dikatakan mirip reuni. "Ah, tidak. Ini kan karena saya kenal dan saya diundang. Itu saja," katanya pendek. Lalu, kenapa hanya para tokoh Golkar yang banyak hadir? Menurut Akbar, banyak tokoh dan pengusaha di zaman Soeharto yang hadir memang tidak bisa dilepaskan dari Golkar, yang sedang berkuasa saat itu. "Jadi, memang kelihatannya seperti orang-orang Golkar yang banyak," ujarnya.

Bagaimanapun, perhelatan megah di Negeri Singa ini menegaskan satu hal: koneksi dan kantong Salim belum kering, meski utang raksasanya ke negara tidak "terbayar" seluruhnya. Seperti dijelaskan oleh mantan Ketua BPPN, Syafruddin A. Temenggung, beberapa waktu lalu, dari penjualan aset-aset yang diserahkan Grup Salim?untuk membayar utang Rp 52,7 triliun?rata-rata tingkat pengembaliannya hanya 37 persen.

Metta Dharmasaputra (Singapura)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 12:15:17


Ekonomi dan Bisnis 5/7

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB