Ekonomi dan Bisnis 9/12

Sebelumnya Selanjutnya
text

Muhammadiyah belajar eceran

Dialog antara pp muhammadiyah dengan pengusaha pengelola jaringan pertokoan matahari, hero dan gunung agung. pengusaha anggota muhammadiyah bisa menjadi pemasok di matahari, hero, gunung agung.

i
MUHAMMADIYAH kini sedang menguak lahan baru di bidang ekonomi. Ahad malam kemarin, di Hotel Sahid Jaya Jakarta, PP Muhammadiyah menjadi "tamu" dalam jamuan makan malam yang disusul acara pertukaran gagasan. Bertindak sebagai tuan rumah adalah pihak pengelola jaringan pertokoan Matahari (Matahari Department Store), Hero Supermarket, dan Gunung Agung. Pertemuan yang berlangsung dalam suasana akrab itu, ternyata, adalah "jawaban" dari acara sebelumnya (19 April) di Hotel Sari Pacific, Jakarta, dengan tuan rumah PP Muhammadiyah. Tak percaya? Memang, hotel mewah, Muhammadiyah, dan barisan pengusaha adalah kombinasi yang belum dikenal selama ini. Kombinasi itu tiba-tiba menjelma, ketika PP Muhammadiyah tengah menyiapkan sebuah proyek besar berjangka panjang. Tujuannya ialah, berusaha meningkatkan ekonomi para anggotanya melalui kerja sama dengan kelompok wiraswasta yang sudah berhasil. Organisasi sosial dan pendidikan yang didirikan oleh K.H. Achmad Dahlan ini memang sejak awal berdirinya didukung oleh pengusaha menengah. Misalnya pengusaha batik di Yogya dan Pekalongan ataupun beragam perajin di Sumatera Barat. Tapi pengusaha menengah ini belakangan tak berdaya. Pertumbuhan ekonomi di segala sektor -- terutama setelah era deregulasi -- rupanya belum banyak memacu usaha mereka. Terutama dalam sektor eceran, yang selama ini menjadi gantungan para pengusaha menengah itu. "Mereka harus dibangkitkan. Apalagi kalau diingat, kekuatan bangsa ini terdiri dari golongan menengah," kata Wakil Ketua PP Muhammadiyah Drs. Lukman Harun. Gagasan itu lantas dikembankan oleh Majelis Ekonomi Muhammadiyah. Mereka tidak menyangkal bahwa kekuatan ekonomi negeri ini masih banyak dikuasai oleh golongan keturunan Cina. Maka, "Kami perlu belajar dari mereka," kata Lukman Harun. Diharapkan dalam jangka panjang, setelah ekonomi golongan menengah berkembang, kesenjangan pun bisa dikurangi. Tapi, untuk mengetuk pintu kalangan pengusaha yang sukses, diperlukan seorang penghubung. Pihak Muhammadiyah sepakat memilih Yunus Yahya, yang kemudian diundang dalam sebuah diskusi, Februari silam. Mengapa Yunus? Dalam pembicaraan lewat telepon dengan TEMPO, Lukman Harun menjelaskan bahwa Yunus Yahya ini dianggap memiliki jalur ke mana-mana. Sebagai pemeluk Islam, tentu ia tahu tentang Muhammadiyah. Sebagai keturunan Cina, ia memahami seluk-beluk koleganya. Yunus kemudian bekerja sama dengan Sindhunata, sebagai pengurus Bakom PKB. Maka, dalam acara di Sari Pacific itu, dari pengusaha yang hadir, 30 sampai 40 persennya terdiri daari nonpri. Misalnya Matahari Group, Hero, Gunung Agung, Bank Danamon, Bank Tiara Asia. Selebihnya ada dari Bank Susila Bhakti dan Kelompok Gramedia. Pertemuan yang semula oleh pihak Muhammadiyah diduga tidak akan ditanggapi itu, ternyata, sukses. Bahkan sudah diputuskan untuk berdialog lagi, dan di situ kelak, Matahari, Hero, dan Gunung Agung (sebagai anggota Asosiasi Pusat Perdagangan dan Pertokoan Indonesia, AP3I) akan menjadi penyelenggaranya. Dalam waktu dekat, acara serupa akan diadakan pula di Surabaya. Karena ini merupakan pertemuan antara para praktisi, hasilnya pun segera akan dilaksanakan. Program pertama adalah bagaimana para pengusaha anggota Muhammadiyah yang selama ini bergerak di buku, pakaian, dan makanan bisa menjadi pemasok Gunung Agung, Matahari, dan Hero. Ini ditanggapi oleh Humas Matahari Hidayat, yang menegaskan bahwa pihak Muhammadiyah bisa segera menyerahkan rencana kerja sama, untuk menuju kepada memorandum of understanding. Diharapkan, Juni ini semuanya sudah berjalan. Lebih dari itu, seperti kata Direktur Pemasaran Hero, Kafi Kurnia, "Kami akan memberikan alih teknologi tentang manajemen eceran." Bagaimana bentuk kerja samanya nanti dengan pihak Muhammadiyah, Kafi mengaku belum mengetahuinya. Yang bertugas menentukan modelnya adalah AP3I. Apa pun bentuknya nanti, kerja sama semacam ini akan menguntungkan kedua belah pihak. Kalangan pengusaha Muhammadiyah bisa mengembangkan diri, ikut menumbuhkan ekonomi. Selanjutnya, jika kekuatan ekonomi makin merata ke cabang-cabang Muhammadiyah, itu berarti pasar bisnis eceran makin luas -- dan ini bermanfaat ketika Hero, Matahari, Gunung Agung semakin lebar jangkauannya. Apalagi persaingan akan semakin menggairahkan. Pekan silam, misalnya, diberitakan bahwa grup Liem Sioe Liong berhasil membeli 50% saham jaringan pertokoan Gelael. Mohamad Cholid, Sri Indrayati, dan Sugrahetty D.K. (Jakarta)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836543331



Ekonomi dan Bisnis 9/12

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.