Lingkungan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Hijau, hijau, hijaunya jakartaku

Hutan kota dan taman di dki jakarta masih jauh dari memadai. 90% pohonnya dari kerabat akasia, bertajuk tipis, percabangannya buruk, kurang sejuk. hu tan kota di mabes abri, cilangkap, patut dicontoh.

i
KEPELOPORAN ABRI ternyata tak cuma dalam soal pertahanan dan sosial-politik. Dalam urusan menyegarkan udara Jakarta, peranan ABRI pun menonjol. Setidaknya, baru Markas Besar ABRI di Cilangkap, Jakarta Timur, yang secara serius hendak mengelola sebuah hutan kota dengan aneka macam tanaman buah. Bagi metropolitan semacam Jakarta, hutan kota merupakan barang mahal. Tak mengherankan, karena untuk sebuah hutan kota diperlukan lahan sedikitnya empat hektare -- begitu menurut definisi yang lazim. Di sekitar Jakarta, hanya ada empat yang direncanakan: Cilangkap, kampus UI Depok, Muara Angke, dan bekas lapangan terbang Kemayoran. Hutan kota Kemayoran masih jauh dari sebutan hijau. Pohon-pohon yang ditanam masih sedikit dan jauh dari rimbun. Yang di kampus UI sudah lumayan tinggi, tiga-empat meter. Tapi, di situ, pohon akasia terlalu dominan, padahal tajuknya kurang penuh, sehingga suasana teduh belum hadir. Bahkan, sebagian lahannya dibiarkan dihuni alang-alang. Dibandingkan dengan kedua komunitas vegetasi di atas, hutan kota Mabes ABRI Cilangkap lebih istimewa. Kendati masih satu-dua meter tingginya, pohon-pohon di situ tampak terawat baik: hijau dan segar. Lebih dari itu, tanamannya pun beragam, ada duku condet langsat, mangga, nangka, belimbing, durian, di samping pohon-pohon kekar semacam mahoni dan trembesi. Rupanya, Mabes ABRI tak cuma ingin menghijaukan lingkungannya. Hutan kota Cilangkap itu juga dimaksudkan untuk menangkarkan tanaman buah-buahan khas Jakarta yang semakin hari semakin saja menciut, seperti langsat dan duku condet. Urusan tanaman di atas lahan lima hektare itu sehari-hari ditangani detasemen Markas Besar, langsung di bawah komando Panglima ABRI. Namun, hutan kota di kawasan pantai cuma ada di Muara Angke, Jakarta Utara, seluas hampir 100 hektare, termasuk di dalamnya 25 hektare yang ditetapkan sebagai cagar alam. Di situ hanya ada jenis pohon-pohonan bakau. Luas hutan Muara Angke itu tinggal 10 persen saja dibandingkan dengan 14-15 tahun lalu. Harus diakui, sungguh sulit untuk memekarkan hutan kota di Jakarta. Padahal fungsi ekologis dari vegetasi padat itu cukup vital. Tak cuma sekadar mendatangkan pemandangan asri, vegetasi itu juga bermanfaat sebagai penyerap gas asam arang (CO2), meredam debu dan angin. Berkurangnya CO2 dari udara kota berarti akan mengurangi gerahnya hawa. Sebab, CO2 punya kemampuan menyerap panas yang dipancarkan sumber termal seperti matahari, lampu jalan, atau lampu mobil -- dan kemudian memancarkannya kembali dalam bentuk panas terasa (sensible heat) di lingkungannya. Di samping itu, proses fotosintesa -- yang mengubah CO2 dan air menjadi pati plus udara -- memberikan manfaat sendiri bagi hawa kota. Produk oksigennya, tak syak lagi, bermanfaat menyegarkan hawa kota. Semakin rimbun pepohonan, semakin banyak helaian daun untuk fotosintesa. Masalahnya adalah mencari jenis pohon yang paling tinggi produk oksigennya, di samping tinggi pula laju penyerapan CO2 ini. "Pohon semacam inilah yang paling cocok untuk Jakarta yang makin pengap dan panas," ujar Dr. Surjani, Kepala Pusat Studi Lingkungan (PSL) UI. Kehadiran jenis pohon unggul -- dengan produksi O2 yang tinggi dan konsumsi CO2 yang besar -- sebetulnya telah mendesak. Sebab, diakui oleh Ir. Budiman Bunyamin, Kepala Dinas Pertamanan DKI, bahwa secara kuantitas, jumlah taman di Jakarta masih jauh dari memadai, yaitu hanya 3.330 hektare. Padahal idealnya, menurut Budiman, dengan wilayah seluas 65.000 hektare, Jakarta harus memiliki taman dan hutan kota sebanyak 6.500 hektare. Dalam perencanaan DKI, "Taman seluas 6.500 hektare itu akan dimiliki Jakarta pada tahun 2000," ujarnya. Tapi, boleh jadi, pada saat itu kebutuhan luas taman akan lebih besar lagi. Selain kurang dari segi jumlah, taman-taman itu lemah pula dalam soal kualitas. Menurut Budiman, 90% pohon penghuni taman di DKI terdiri dari jenis akasia. Dan sebagian besar pohon dari kerabat akasia itu bertajuk tipis, percabangannya buruk, kurang sejuk, dan kurang estetis. Memang, sejak awal 1970-an, Pemda DKI seperti menganakemaskan akasia ketimbang pohon-pohon lokal. "Karena pertumbuhannya amat cepat," kata Budiman. Tapi belakangan baru diketahui bahwa akasia punya sifat buruk: serasah (sampah) yang dihasilkannya begitu tinggi. Celakanya, serasah itu tak bisa cepat melapuk. Alhasil, "Sering menyumbat saluran air," ujarnya. Masih ada satu sifat buruk lainnya: bunganya kelewat banyak menghasilkan tepung sari, yang mudah tanggap ditiup angin. "Ini mengganggu kesehatan paru-paru," kata Budiman. Maka Pemda DKI akan memangkas dominasi akasia, sedikit demi sedikit. Taman di Simpang Monas misalnya, mulai ditumbuhi oleh pohon trembesi. Tapi menurut Budiman, pohon seperti mahoni atau trembesi tak memungkinkan ditanam di taman-taman kecil yang luasnya hanya 300-400 m2, yang banyak tersebar di banyak real estate. "Kami akan menanam di tempat-tempat yang memungkinkan," tambahnya. Taman dan hutan kota yang terbatas itu mendorong 12 orang pencinta lingkungan membentuk JHJ (Jaringan Hijau Jakarta) empat bulan lalu. Konsep taman dan hutan kota mereka tinggalkan, dan diganti dengan konsep greenery -- menanam kehijauan di mana saja. Kelompok ini bertekad melakukan kampanye penyelamatan vegetasi yang ada, dan kampanye penanaman pohon baru. Lewat aksi kampanye itu, "Kami akan memotivasi semua penduduk agar menghijaukan setiap jengkal tanah terbuka," ujar Trinugroho, salah seorang anggota JHJ. PTH

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836873556



Lingkungan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.