Olahraga 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Gerobak yang terhambat

Persiapan tim sepak bola uni emirat arab (uea). pelatih mario zagalo yang mengantar ke italia, dipecat,diganti bernard blaut. dan kini carlos alberto uea sulit berharap banyak pada piala dunia italia.

i
ASIA agaknya belum akan berbicara di putaran final Piala Dunia Italia, Juni nanti. Satu dari dua wakil Asia, Uni Emirat Arab (UEA), masih berbenah setelah digerogoti berbagai masalah. Tim ini berganti-ganti pelatih. Mario Zagalo, pelatih asal Brasil yang berhasil mengantar UEA ke Italia, dipecat. Penggantinya, Bernard Blaut asal Polandia, juga kena usir. Kini kembali didatangkan pelatih Brasil, Carlos Alberto. Sementara itu, prestasinya makin menurun Maret lalu, dalam turnamen Piala Teluk yang diikuti semua negara Teluk, UEA cuma menjadi juru kunci. Antara lain, dibantai Kuwait dengan 1-6. Padahal, Kuwait gagal maju ke Italia. Di Italia nanti, UEA satu grup dengan Jerman Barat, Yugoslavia dan Kolombia. Bagaimana penampilannya nanti sangat bergantung pada cara Carlos Alberto menyembuhkan beban mental pemain UEA. Tadinya, di bawah Zagalo, UEA mampu mencetak prestasi. Februari lalu, mereka menundukkan Denmark 5-0 dan membabat Swedia 2-1. Tapi setelah Zagalo pergi, UEA menderita kekalahan beruntun. Walau begitu, kesan optimistis tercium kuat ketika rombongan UEA terbang dari Bandara Dubai ke Prancis, seusai salat Idulfitri yang lalu. Tim kaya ini akan berlatih di Nim, kota kecil dekat perbatasan Prancis-Italia, sampai saatnya terjun di Piala Dunia. "Kami benar-benar siap," kata Muhammad Obaid Hilal al-Dhahiri, 23 tahun, poros halang UEA yang bermain di klub Al-Ain. Jadwal latihan di Nim sedikit terganggu. Dari 24 pemain, sembilan tak ikut rombongan. Di antaranya Salim Rebeea, 23 tahun, gelandang bertahan asal klub Al-Nasr. Dan ketidakdisiplinan ini menjadi topik hangat di media massa. Majalah olahraga mingguan terbitan Dubai, Al-Hadaf, menyebutkan kasus itu "luar biasa". Padahal, setiap pemain digaji 10 ribu dirham (sekitar lima juta rupiah) sebulan, yang diberikan sekaligus untuk lima tahun. Pers Teluk masih tetap menyoroti pergantian pelatih di UEA. Mario Zagalo, yang dikontrak dua tahun dengan bayaran US$ 480 ribu, pergi meninggalkan UEA setelah berhasil mengantarkan UEA ke Italia. Pada putaran kualifikasi di antara enam negara Asia, akhir Oktober 1989, UEA menahan Korea Selatan 1-1. Zagalo, 59 tahun, dipecat saat pergi berlibur di Brasil, November lalu. Admildo Chirol, asistennya, juga dipecat secara sepihak. Ketua organisasi sepak bola UEA, Syekh Hamdan bin Zayed al-Nahyan, menyebut empat alasan pemecatan. Antara lain, Zagalo tak menetapkan jadwal jelas dan terinci tentang keikutsertaan tim dalam putaran Piala Teluk. Ia memang tak setuju tim inti kesebelasan UEA ikut Piala Teluk di Kuwait. Zagalo menilai pemecatan itu lebih bersifat diplomatis daripada teknis. Ada urusan pribadi antara dia dan Hamad Brook, milyuner yang jadi cukong kesebelasan UEA. Zagalo diganti Bernard Blautt, 50 tahun, pelatih Polandia di klub Sharjah. Namun, karena gagal di Piala Teluk, Blautt juga ditendang, tak berapa lama melatih UEA. Akhir April lalu, Carlos Alberto, pelatih UEA 1984-1988, ditarik kembali setelah kontraknya dengan Arab Saudi habis. Carlos pernah mengantar Kuwait ke putaran final Piala Dunia 1982 di Spanyol. "Para pemain cocok dengannya," kata Abdul Rahim Jani, Manajer UEA. Carlos kini giat melatih tim UEA di Nim, pagi dan sore, selama lima jam. Menurut Carlos, UEA kini bagai gerobak terhambat. Carlos membawakan kaset video pertandingan persahabatan antara Jerman Barat dan Uruguay yang berlangsung di Stuttgart, belum lama ini. Ini dianalisa. Sebab, sebelum terjun ke Italia, rencananya UEA akan menjajal Jerman Barat, Brasil, dan Belanda. Apa pun hasil di Italia nanti, keberhasilan tim UEA maju ke "24 besar dunia" membuat sepak bola makin populer di negeri yang merdeka tahun 1971 itu. Permainan bola di UEA berkembang sejak 1977, dengan kedatangan Don Revie, manajer tim Inggris di Dubai. "Gaya Inggris lantas diperkenalkan. Tapi sejak 1984, UEA mulai berganti "mazhab" ke Brasil yang telah diterapkan lebih dahulu oleh Kuwait, Arab Saudi, dan Qatar. Itu ditandai dengan masuknya Carlos Alberto ke UEA dengan bayaran 150 ribu poundsterling per tahun. Landasan yang diletakkan Carlos ternyata cocok untuk postur dan temperamen orang-orang UEA. Kini, siapa pun pelatihnya, asalkan berasal dari Brasil, pasti akan menerapkan gaya yang sama. Jadi, sebenarnya tak ada masalah bagi Carlos untuk menggantikan Zagalo. Apalagi, "Saya berasal dari sekolah yang sama dengan Zagalo," kata Carlos. Tradisi permainan Brasil bertitik tolak pada kesederhanaan, kemudahan, dan penekanan kebersamaan. Tapi tiap pelatih tentu punya ciri khas. Carlos, menurut seorang pemain UEA, "memberi kami kesempatan untuk maju dan tampil." Adapun Zagalo, "Memberi kami kepercayaan, melenyapkan rasa takut, untuk saling membantu dalam menyerang." Bintang-bintang yang bergaya Brasil pun lahir. Di antaranya, gelandang asal klub Al-Shaba, Adnan Khamees al-Talyani, 26 tahun, yang menghadiahkan tujuh gol di Pra-Piala Dunia lalu. Adnan oleh media Arab dipilih sebagai Pemain Terbaik Arab 1989. Lalu, Fahad Khamees Mubarak, 28 tahun, kapten UEA di Piala Dunia, asal klub At-Wasl yang disebut sebagai penyerang terbaik di kawasan itu. Ada lagi Abdul Razak Ibrahim, 23 tahun. Penyerang tengah andalan ini sempat kena skors setahun oleh FIFA, atau harus membayar denda sekitar 200 ribu dirham (seratus juta rupiah) untuk pembebasannya. Kalau FIFA membolehkan Razak Ibrahim ikut serta ke Italia, Carlos Alberto boleh lega. Gelandang berusia 23 tahun asal klub Al-Ahly inilah bintang dan kunci UEA di Italia. Tapi, tampaknya UEA sulit berharap banyak, misalnya lolos ke babak kedua Piala Dunia. Itu berat. Toriq Hadad (Jakarta) dan Ahmadie Thaha (Abu Dhabi)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833525827



Olahraga 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.