Ekonomi dan Bisnis 7/12

Sebelumnya Selanjutnya
text

Sampoerna ke Malaysia

Pt hm sampoerna memborong 80% saham pabrik rokok kretek lokal, joo lan, di ipoh, malaysia.mencanang kan kapasitas sebanyak 17 milyar batang per tahun. sampoerna mempunyai banyak usaha bisnis.

i
SESUDAH dalam waktu singkat Sampoerna Mild berhasil menguasai pasaran sigaret kretek mesin (SKM), maka menyusul kejutan lain. Tapi kali ini tanpa gembar-gembor. PT HM Sampoerna, produsen rokok Dji Sam Soe yang "antik" itu, siap melebarkan sayapnya ke Malaysia. Mereka memborong 80% saham pabrik rokok kretek lokal, Joo Lan, di Ipoh. Dengan langkah besar yang diayunkan dua pekan silam ini, Sampoerna akan sepenuhnya mengoperasikan pabrik rokok "kuno" milik keluarga Philip Tan itu. "Mereka tinggal duduk dan terima dividen. Kami yang memegang manajemennya," ujar Poetera Sampoerna, alias Liem Tien Pao, bos PT HM Sampoerna, kepada TEMPO, Senin pekan ini. Menurut Poetera, Sampoerna juga akan membangun pabrik modern di kawasan industri Syah Alam, Selangor, Malaysia. "Keberanian ini sudah menelan 40 juta ringgit Malaysia atau US$ 20 juta. Berdiri sejak 1913, Sampoerna kerap dituding "konservatif" dalam pengembangan manajemennya. Dji Sam Soe itu seakan lari di tempat, sementara para pesaingnya -- Gudang Garam, Djarum, serta Bentoel -- menggebu laju. Tapi terobosan di Malaysia kini membuktikan lain. Lagi pula, dari sekian banyak industri kretek, baru Sampoernalah yang membangun pijakan kretek di luar negeri. Ini dilakukan dalam satu strategi yang disebut Poetera sebagai "menduniakan kretek". Untuk Poetera, Malaysia merupakan langkah awal. Pangsanya meliputi hanya 9% dari total rokok yang diproduksi di sana. "Itu pun yang 5%-nya berasal dari selundupan," tuturnya. Semua itu lantaran bea atas cukai rokok di Malaysia, terlalu tinggi. Andaikan segalanya lancar, kretek buatan Sampoerna dalam waktu dekat akan bersaing melawan rokok putih yang lebih populer di Tanah Semenanjung. Sekalipun begitu, Poetera enak saja mengatakan, "Mereka takut kalau kemasukan rokok kretek." Apalagi, "Harganya pun bisa kompetitif." Lebih dari itu, dengan memproduksi kretek di negeri orang, Poetera ingin mematahkan anggapan internasional yang menuding kretek sebagai "rokok orang-orang aneh". Maka, Malaysia dipilih sebagai batu loncatan. "Untuk tujuan akhir yang lebih besar, yakni menduniakan rokok kretek, he... he....," ujar Poetera. Pilihan itu sudah dipertimbangkan masak-masak. "Membeli Joo Lan inilah cara yang termurah. Kalau minta izin mendirikan pabrik, bisa lama dan belum tentu dapat," katanya lebih lanjut. Melalui pabrik di Malaysia itu, Poetera mencanangkan kapasitas sebanyak 17 milyar batang per tahun. Atau "hanya" 58 juta batang per hari. Tapi ia optimistis bakal mendapat sambutan. "Masyarakat Malaysia kan doyan kretek. Kalau beli selundupan, kan mahal," jelasnya. Dia yakin, dalam 2 tahun, mereka akan bisa menguasai 25 persen sampai 50 persen pangsa pasar rokok di Malaysia. Bagaimanapun, lompatan ke Ipoh itu, sekaligus memberi angka tinggi buat Sampoerna, yang selama ini repot menghadapi Bentoel, Djarum, dan Gudang Garam. "Kami memang tertinggal jauh," ujar Poetera terus terang. Namun, menurut catatan GAPPRI, peningkatan produksi SKT-nya tahun ini melebihi rata-rata kenaikan umum yang besarnya 15 persen. Sampoerna juga menawarkan sejumlah produk baru, terutama Sampoerna Mild. Sigaret Kretek Mesin 20 batang (yang mirip rokok putih) ini, selama empat bulan, sudah laku terjual sebanyak 1,3% dari total pangsa pasar rokok kita. Ini berarti diisap sekitar tujuh juta batang per harinya. Dan ketika diujicobakan ke Jepang, pesanannya terus meningkat, hingga Poetera membuka kantor di sana. Perubahan gaya manajemen di Sampoerna memang tak terlepas dari kepemimpinan Poetera. Generasi ketiga yang kelahiran Belanda ini, dalam lima tahun terakhir memang menerapkan manajemen modern. Kepemilikan -- yang masih di tangan keluarga Sampoerna -- dipisahkan dengan manajemen yang ditangani para profesional. Tahun 1978 misalnya, ia membeli pabrik rokok dari Philip Morris di Malang, yang kemudian diberi nama PT Panamas. Di Rungkut, ia membangun percetakan PT Jawa Printindo dan PT Jawa Transitindo, guna memenuhi kebutuhan kertas kemasan rokok. Poetera juga terjun ke real estate, berupa sebuah permukiman lengkap untuk masa depan: Griya Serba Guna Sampoerna Taman Dayu. Dan sebagaimana layaknya perusahaan besar, Sampoerna mempersiapkan Bank Sampoerna Internasional yang "fully computerized". Langkah akhir yang akan diambil Poetera adalah go public. Diharapkan tahun ini penghasil rokok Dji Sam Soe itu akan melepas 15% sahamnya ke pasar modal. Sementara itu, PT HM Sampoerna siap menempati empat lantai Sampoerna Plaza yang cukup megah di kawasan Kuningan, Jakarta. Wahyu Muryadi, dan Jalil Hakim (Surabaya)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836784563



Ekonomi dan Bisnis 7/12

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.