Nasional 9/11

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kisah tinh xu di pulau galang

Pulau galang, riau, menjadi kamp penampungan pengungsi indo cina. baik pengungsi asal kamboja dan vietnam. mereka tinggal untuk sementara waktu,un tuk kemudian terbang ke as, australia, kanada, dan lain-lain.

i
SEBUAH ban traktor tersandar tegak di pagar kayu yang mulai lapuk. Melingkar pada tubuh ban bekas itu sebuah tulisan yang berbunyi: Galang, The Gate of Freedom and Humanity. Huruf-huruf itu nampak menonjol dalam warna hitam di atas warna dasar putih. Tak jauh dari tempat itu, pondok-pondok berdinding papan dan beratap seng tampak berderet, agak berdesakan dan kusam. Namun, pondok-pondok pucat itu dijejali oleh orang-orang perahu, yang mulai pintar tersenyum dan tertawa memamerkan harapan mereka yang mulai mekar. Inilah panorama di sebuah sudut kamp penampungan pengungsi Indocina di Pulau Galang, Riau, tak jauh dari Pulau Batam dan Singapura. Konon, bagi sebagian masyarakat Kamboja dan Vietnam, nama Galang itu sama populernya dengan Hong Kong atau Singapura: sebagai batu loncatan untuk perbaikan nasib. Setelah dirundung sepi lebih dari lima tahun, Galang kembali diserbu oleh orang-orang perahu. Pulau seluas 175 km2 itu kabarnya kini dijejali oleh lebih dari 12 ribu pengungsi. Mereka tinggal untuk sementara waktu, untuk kemudian terbang ke negeri impian, Amerika, Kanada, misalnya, atau Australia. Pasang naik gelombang orang perahu itu memang terasa betul selama setahun terakhir. Setahun lalu, pengungsi di situ hanya 2.000-an orang, melonjak menjadi 3.500-an pada akhir 1989, lalu, dan berlipat tiga kali dalam lima bulan terakhir. Padahal, fasilitas di situ kabarnya hanya untuk 5-6 ribu orang. Apa boleh buat, arus pengungsi memang mendadak pasang naik. Sementara, sebagian bangunan kamp yang dibangun 11 tahun lalu telah rontok dimakan lumut, waktu, dan cuaca. Namun, wajah-wajah penghuni kamp menyiratkan kegembiraan. Napas kehidupan mereka menyembur lewat kios-kios kelontong, kedai kopi, salon kecantikan, kios reparasi radio, atau lapangan voli. Mereka pun menjalani kehidupan sementara yang rutin: pagi belajar babasa Inggris, siang-sore orientasi kebudayaan, dan malam hari bersantai-ria, mengobrol dengan kawan senasib, kencan, nonton film misbar (gerimis bubar), atau bergerombol di kedai kopi. Program pendidikan bagi manusia perahu ini ditangani oleh konsorsium organisasi sosial yang menamakan dirinya SCF-EIL (Save the Children Foundation dan Experiment in Intern Living). Organisasi inilah yang menggerakkan para pengajar (termasuk guru-guru Indonesia) dan pegawai proyek sosial itu. Mengajar pengungsi ternyata tak harus membuahkan pengalaman buruk. "Sungguh, saya merasa kaget," ujar Theresia Murwati, 33 tahun, yang pernah mengajar bahasa Inggris dan orientasi budaya di Galang. Pada umumnya mereka bersikap sopan terhadap guru. "Barangkali guru mereka anggap sebagai jembatan untuk hidup layak di negeri asing," ujar alumnus Sastra Inggris IKIP Sanata Dharma Yogyakarta itu. Tak mudah menyampaikan pelajaran kepada siswa yang buta bahasa Inggris itu. Sebagian dari mereka juga buta huruf. Menghadapi ganjalan ini, sering seorang dari mereka yang telah mahir berbahasa Inggris tampil menjadi penerjemah. Wati jarang menolak jika salah satu siswanya mengundangnya makan malam di kampnya. Tak takut pulang malam-malam? "Mereka baik, nggak macam-macam," ujarnya. Acara makan malam itu biasanya berlanjut dengan cerita-cerita masa lalu sang pengungsi. Cerita yang didengar dari pengungsi itu, baik yang datang dari Vietnam maupun Kamboja, sama saia. Mulai dari kematian salah satu atau sebagian besar anggota keluarganya akibat gejolak politik, hingga perjuangan hidup mengumpulkan tiga balok emas untuk biaya menyeberang ke Pulau Galang. Wati bekerja di Pulau Galang 1982-1984. Dia tinggal di mes dan memperoleh jatah satu kamar. Kalau mau nonton TV tinggal melangkah ke staff-room, masih di mes itu juga. Kehidupan malam di Galang cukup ramai. Orang-orang perahu itu bisa nonton video yang memutar film-film Cina, main bilyar, nonton film di bioskop misbar, atau minum di kedai-kedai kopi. Sembari ngopi atau ngebir, mereka bisa berjoget dalam iringan irama disko, atau lagu-lagu Cina. Suasana malam yang semarak itu harus berakhir pukul 24.00. Di situ berlaku jam malam. Pada jam itu petugas P3V (Panitia Penanggulangan Pengungsi Vietnam) membunyikan sirene, isyarat semua pengungsi harus kembali ke barak. Dalam komunitas pengungsi itu ada pula pengelompokan. Orang-orang Kamboja lebih senang memilih kawan sesama Kamboja. Begitu pula orang Vietnam. Tapi kalau berbaur, menurut Wati, orang Kamboja nampak minder. "Sepertinya mereka merasa lebih bodoh dan miskin," ujarnya. Kendati demikian, mereka tak pernah berkelahi. Mereka sadar betul, siapa yang membuat onar akan masuk sel, dan hal ini bisa mengakibatkan pemberangkatan ke negeri impian tertunda. "Mereka jadi tertib, dan keamanan cukup terjamin," ujar seorang sumber TEMPO yang menjadi guru di Galang pada 1984-1986. Kasus perkosaan pun hampir tak pernah terjadi. Alasannya sama: mereka tak ingin punya konduite buruk. Tapi tak berarti hubungan seks di luar nikah tak terjadi. "Kondom sangat laris di poliklinik Galang," ujar sumber itu. Hubungan suka sama suka -- yang di Galang sering disebut dengan istilah Tinh Xu -- itu bisa terjadi antara pengungsi, guru dan siswinya, dan pengungsi penduduk setempat. "Saya sering lihat gadis-gadis pengungsi diajak pergi ke Tanjungpinang oleh petugas," ujar sumber itu. Selama di kamp, para pengungsi bebas melakukan korespondensi dengan sanak keluarganya yang telah tinggal di negeri impian. Mereka juga sering menerima kiriman uang, barang, bahkan emas. Dengan uang itulah, mereka pergi ke Tanjungpinang, dengan menumpang feri selama satu jam. Di Tanjungpinang, mereka berlaku bak turis: makan di restoran, rekreasi, atau belanja. Lantas mereka "pulang" ke Galang dan mejeng dengan pakaian baru. PTH, Sri Pudyastuti, dan Liston P. Siregar

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836470071



Nasional 9/11

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.